Penulis: Intan Suryani
Javanusa.com—Sinar matahari sore menerobos sela-sela pohon kelapa, menyinari teras rumah kayu Mak Datuak. Pria tua itu sedang asyik memegang cangkir seng berisi kopi hitam ketika langkah kaki terhentak-hentak terdengar di jalanan setapak.
“Hah! Kalah lagi! Sinyal jelek banget sih!” seru Buyung, anak tetangga berusia sepuluh tahun, sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Matanya menempel erat pada layar gawai yang terus menyala.
Mak Datuak menaruh cangkirnya perlahan. “Kenapa mukamu dilipat begitu, Yung? Kayak kain belum disetrika saja.”
“Bosan, Mak! Kesal!” gerutu Buyung sambil mampir dan melempar tubuhnya ke bangku kayu teras. “Di rumah dikurung terus sama Ibu. Disuruh main HP aja dari pagi sampai malam. Kalau mau keluar rumah dikit, Ibu langsung teriak, ‘Jangan keluar, nanti kena penyakit!'”
Mak Datuak menghela napas panjang, lalu tersenyum getir. “Kalau dipikir-pikir, memang boleh lah kita bersedih melihat zaman sekarang ini, Yung.”
“Sedih kenapa, Mak? Bukannya enak anak-anak zaman sekarang dikasih HP?” tanya Buyung heran.
“Dahulu itu,” ujar Mak Datuak seraya menunjuk ke arah jalan kampung, “anak-anak di-‘halau’ dan dipaksa orang tuanya pergi ke surau buat belajar mengaji. Nah sekarang? Anak-anak justru dilarang ke surau demi menjaga kesehatan. Namanya juga anak-anak, kalau disuruh diam ya kalian kerjakan. Disuruh main gawai, ya kalian lakukan. Tapi pernah tak orang tua bertanya, apa betul kalian bahagia dikurung gawai seharian?”
“Ya enggaklah, Mak! Aku sebenarnya bosan setengah mati,” aku Buyung polos. “Mata perih, jempol pegal. Tapi mau main apa lagi?”
“Kasihan betul generasi kalian,” Mak Datuak menggelengkan kepala. “Coba tengok zaman Mak dulu, tahun 90-an sampai 2000-an. Persis seusia kamu sekarang. Zaman itu luar biasa bahagianya!”
Tiba-tiba dari arah gerbang, kawan Buyung bernama Rian berlari menghampiri sambil membawa ketepel. “Yung! Ayo main… eh, ada Mak Datuak. Cerita apa, Mak?”
“Ini, Mak Datuak lagi cerita zaman dulu,” sahut Buyung cepat. “Memang dulu kalau libur sekolah Mak main apa saja sama kawan-kawan?”
Mak Datuak membetulkan letak pecinya, matanya berbinar nostalgia. “Wah, banyak! Kami berkejar-kejaran di pematang sawah, mandi di sungai sampai kulit bersisik, menangkap ikan, sampai panjat pohon mangga Pak RT! Kalau nilai rapor buruk, memang takut pulang karena takut dimarahi. Tapi marahnya kan cuma sebentar, habis itu kabur main lagi!”
“Terus kalau libur panjang gimana, Mak?” pancing Rian penasaran.
“Nah! Apalagi kalau hari penerimaan rapor caturwulan. Itu hari spesial penanda libur panjang. Ditambah lagi kalau liburannya dempet sama bulan Ramadan, otomatis ada kegiatan Pesantren Ramadan di surau!”
“Pesantren Ramadan?” Buyung dan Rian saling pandang. “Enaknya apa, Mak? Kan disuruh dengar ceramah sama mengaji?”
Mak Datuak tertawa terkekeh-kekeh. “Bukan karena ceramahnya, Yung, Yan! Jauh dari itu semua, ada kebahagiaan rahasia yang cuma anak-anak yang tahu!”
“Kebahagiaan apa, Mak? Bagi tahu lah!” desak Rian mencongkel rasa penasarannya.
“Begitu kegiatan mau mulai,” kenang Mak Datuak, “anak-anak berlarian ke musala. Ada yang cuma pakai sandal jepit sebelah, rambut jabrik berdiri, celana pendek bolong, sampai yang bajunya penuh lumpur bekas main bola!”
“Pak! Saya daftar! Nama saya tulis dulu di lembar presensi!’ begitu teriak anak-anak zaman dulu,” tiru Mak Datuak dengan suara melengking. “Urusan syarat tetek-bengek lainnya menyusul kemudian! Yang penting nama masuk dulu. Soalnya di kepala sudah terbayang mau ketemu teman lama satu perguruan mengaji yang beda sekolah. Sudah ada daftar main yang menumpuk di pikiran!”
“Ih, seru banget!” mata Buyung berbinar. “Terus waktu sahur gimana, Mak?”
“Ah! Ini yang paling heboh!” Mak Datuak menepuk paha. “Kalau waktu sahur tiba, Mak sama kawan-kawan ambil ember cat bekas. Dipukul pakai kayu sambil teriak keliling kampung: ‘Sahur! Sahur! Sahur! Sahur!’ Tak pernah ada bosannya!”
“Beneran dipukul pakai ember cat, Mak? Nggak dimarahi warga?” tanya Rian kaget.
“Boro-boro dimarahi, justru warga terbantu! Selesai sahur, kami balik lagi ke musala. Rebutan mik buat adzan Subuh! Siapa cepat, dia yang teriak di mik,” kekeh Mak Datuak. “Habis Subuh ikut kegiatan pesantren sampai Dzuhur, ketiduran di lantai surau yang dingin, baru pulang pas mau berbuka. Malamnya? Balik lagi buat Tarawih!”
“Wah, rajin betul Mak dulu salat Tarawihnya!” puji Buyung polos.
Mak Datuak tertawa makin nyaring hingga batuk kecil. “Sia-sia kamu puji, Yung! Kalau dibilang Tarawih, ya enggak juga! Orang tua salat di dalam, kami anak-anak malah berkejar-kejaran dan perang sarung di halaman musala! Sambil nunggu imam selesai, kami sibuk isi buku agenda Ramadan dan minta tanda tangan penceramah. Hiruk-pikuk kami yang bikin musala hidup!”
“Wah, seru banget…” gumam Buyung dan Rian hampir bersamaan.
“Makanya,” lanjut Mak Datuak dengan nada suara pelan dan lembut, “kalau anak-anak sekarang ribut di sekitar surau, mau memanjat pohon atau lari-larian, biarkan saja. Sebab kami dulu juga pernah di posisi yang sama. Kasihan anak-anak zaman sekarang, masa kecil yang indah dan heboh di surau malah hilang ditelan gawai.”
Buyung menatap layar HP-nya yang redup, lalu pelan-pelan memasukkannya ke dalam saku celana.
“Yan,” panggil Buyung menoleh ke kawannya. “Di rumahmu ada ember cat bekas tak?”
Rian tersenyum lebar. “Ada! Di belakang rumah banyak!”
“Mak Datuak!” seru Buyung semangat. “Besok sore ajarkan kami cara bikin gulungan sarung buat perang sarung di musala ya!”
Mak Datuak tersenyum lebar menatap kedua anak itu, lalu mengangguk mantap. “Nah, begitu dong! Jangan cuma jempol kalian saja yang lari-lari di atas layar!” (*)






