Apakah Sering Bertengkar dengan Pasangan Masih Wajar? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Penulis -

Jumat, 12 Juni 2026 - 18:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pasangan sedang bertengkar. (Foto: Pexels)

Ilustrasi pasangan sedang bertengkar. (Foto: Pexels)

Javanusa.com—Perbedaan pendapat hampir selalu hadir dalam hubungan asmara maupun kehidupan rumah tangga. Karena itu, pertengkaran sesekali tidak selalu menandakan hubungan sedang berada dalam masalah serius.

Konflik dapat muncul dari berbagai situasi sehari-hari. Mulai dari persoalan keuangan, pembagian waktu bersama, hingga perbedaan kebiasaan.

Yang perlu diperhatikan bukan seberapa sering pertengkaran terjadi, melainkan bagaimana pasangan menyikapi dan menyelesaikan konflik tersebut.

Apakah Pertengkaran Selalu Berdampak Buruk?

Banyak orang menganggap hubungan yang harmonis sebagai hubungan tanpa konflik. Padahal, perbedaan pandangan merupakan hal yang normal ketika dua individu dengan latar belakang dan karakter berbeda menjalani kehidupan bersama.

Perdebatan yang diselesaikan secara sehat dapat membantu pasangan memahami kebutuhan, harapan, serta perasaan satu sama lain. Sebaliknya, masalah yang terus dipendam berpotensi memicu ketegangan yang lebih besar pada masa mendatang.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion pada 2020 menunjukkan bahwa kemampuan memahami dan merespons emosi pasangan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas hubungan jangka panjang.

Karena itu, komunikasi yang terbuka serta kemauan untuk saling mendengarkan menjadi kunci agar konflik tidak berkembang menjadi pertengkaran yang merusak hubungan.

Penyebab Pasangan Sering Bertengkar

Setiap hubungan memiliki dinamika yang berbeda. Meski demikian, sejumlah persoalan berikut kerap memicu konflik antara pasangan.

1. Perbedaan Pandangan soal Keuangan

Masalah keuangan menjadi salah satu sumber pertengkaran yang paling umum. Perbedaan prioritas dalam menggunakan uang, seperti memilih menabung, berinvestasi, atau memenuhi kebutuhan lain, sering memunculkan ketidaksepakatan.

Karena itu, komunikasi yang jujur mengenai kondisi dan tujuan finansial dapat membantu pasangan menemukan titik temu.

2. Kurangnya Kualitas Waktu Bersama

Saat pasangan menghabiskan waktu bersama, perhatian yang terpecah oleh pekerjaan, media sosial, atau gawai sering memunculkan rasa diabaikan.

Baca Juga :  Benarkah Sering Berhubungan Intim Bisa Menunda Menopause? Ini Fakta Penelitiannya

Meski terlihat sederhana, kurangnya perhatian saat bersama dapat menimbulkan kekecewaan yang kemudian berkembang menjadi konflik.

3. Perbedaan Standar Kebersihan

Kebiasaan menjaga kebersihan rumah atau lingkungan sekitar sering berbeda antara satu orang dan lainnya. Ketika ekspektasi tidak sejalan, gesekan kecil dapat muncul dan berkembang menjadi pertengkaran.

Pasangan dapat mengurangi konflik dengan menyepakati pembagian tanggung jawab serta memahami kebiasaan masing-masing.

4. Ketidaksesuaian Kebutuhan Intim

Dalam hubungan suami-istri, perbedaan kebutuhan terkait hubungan seksual juga dapat menjadi sumber masalah. Kondisi ini sering memburuk ketika salah satu pihak enggan mengungkapkan perasaannya secara terbuka.

Karena itu, komunikasi yang jujur dan sikap saling menghargai menjadi langkah penting untuk mengatasi persoalan tersebut.

5. Kebiasaan yang Bertolak Belakang

Perbedaan rutinitas sehari-hari, seperti pola tidur, cara mengatur pekerjaan rumah, atau kebiasaan berkendara, dapat memicu ketegangan jika pasangan tidak menyikapinya secara bijak.

Meski tampak sepele, kebiasaan yang terus berulang sering menjadi sumber konflik dalam jangka panjang.

Cara Menyikapi Pertengkaran dengan Sehat

Konflik tidak selalu dapat dihindari. Namun, pasangan dapat mengelolanya secara lebih konstruktif agar hubungan tetap terjaga.

1. Menerima Bahwa Konflik Itu Normal

Perbedaan pendapat merupakan bagian dari proses membangun hubungan. Dengan menerima kenyataan tersebut, pasangan dapat lebih fokus mencari solusi daripada menghindari masalah.

2. Fokus pada Masalah, Bukan Menyerang Pasangan

Saat bertengkar, hindari saling menyalahkan atau menyerang karakter pasangan. Sebaliknya, fokuslah pada akar persoalan agar proses penyelesaian berjalan lebih efektif.

3. Menjadi Pendengar yang Baik

Mendengarkan tanpa menyela memberi kesempatan kepada pasangan untuk menyampaikan perasaan dan sudut pandangnya. Cara ini juga membantu mengurangi kesalahpahaman.

4. Menjaga Nada Bicara

Mengendalikan emosi saat berkomunikasi sangat penting. Nada bicara yang tenang lebih memungkinkan pasangan menemukan jalan keluar dibandingkan saling berteriak.

Baca Juga :  3 Manfaat Air Beras untuk Wanita Usia 30-an, dari Mencerahkan Kulit hingga Menyamarkan Kerutan
5. Membahas Masalah Secara Spesifik

Daripada menggunakan tuduhan yang bersifat umum, pasangan sebaiknya membicarakan kejadian atau perilaku yang menjadi sumber masalah secara jelas dan terukur.

6. Mencari Solusi Bersama

Tujuan utama menyelesaikan konflik adalah menemukan jalan keluar yang dapat diterima kedua belah pihak. Oleh sebab itu, diskusi sebaiknya diarahkan pada solusi, bukan mengungkit kesalahan masa lalu.

7. Mengakhiri Konflik dengan Baik

Setelah membahas masalah, pasangan perlu berupaya memperbaiki komunikasi dan berdamai. Kebiasaan menyelesaikan konflik secara tuntas dapat memperkuat hubungan dalam jangka panjang.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Meski pertengkaran merupakan hal yang wajar, ada kondisi tertentu yang perlu diwaspadai. Jika konflik terus berulang tanpa penyelesaian, memicu tekanan emosional yang berat, atau mengganggu kualitas hubungan secara signifikan, pasangan dapat mempertimbangkan bantuan profesional.

Konseling dengan psikolog atau konselor pernikahan dapat membantu pasangan menemukan pola komunikasi yang lebih sehat. Selain itu, pendampingan profesional juga dapat membantu mencari solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa pertengkaran. Sebaliknya, hubungan yang sehat mampu mengelola konflik dengan baik dan menjadikannya sebagai sarana untuk saling memahami. (*/red)

Berita Terkait

Suami yang Baik Bukan Harus Sempurna, Ini Cara Membangun Rumah Tangga Penuh Cinta
Cara Mengembalikan Semangat Hidup Saat Merasa Hampa, Ini Langkah Sederhananya
Benarkah Wanita Selalu Benar? Ini Kata Psikolog
Wanita Mengajak Menikah Duluan, Lumrah Kah? Ini Penjelasan Psikolog
Benarkah Pernikahan Paling Rawan di Tahun Ketujuh? Ini 5 Fase yang Perlu Diketahui
Perselingkuhan di Tempat Kerja Bisa Berawal dari Kedekatan, Ini Cara Mencegahnya
10 Ciri Pasangan Mulai Bosan dalam Hubungan, Kenali Tandanya
Mengenal Cowok Semangka, Terlihat Green Flag tetapi Bisa Jadi Red Flag

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:20 WIB

Uji Coba MBG Sistem Prasmanan, BGN Ingin Makanan Lebih Hangat dan Segar di Sekolah

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:01 WIB

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah SLTA, tapi Tak Batalkan sebagai Wapres

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Pemerintah Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah dan Madrasah hingga 2029, Kemenag Siap Bersinergi

Selasa, 6 Oktober 2026 - 15:11 WIB

Kemenag Buka Bantuan S2 dan S3 hingga Rp25 Juta, Cek Syarat dan Jadwalnya

Senin, 5 Oktober 2026 - 16:02 WIB

Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026 Dorong Peternak Perkuat Genetik dan Produktivitas

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:44 WIB

Mentan Amran Sambut Wamentan Saleh Mustafa: Speed Kerja Pertanian Harus Meningkat

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Presiden Prabowo Anugerahkan Bintang Mahaputera kepada 7 Tokoh TNI, Ini Daftarnya

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Presiden Prabowo Resmikan 204 Satuan Baru TNI pada HUT ke-81, Ini Daftar dan Rinciannya

Berita Terbaru