Javanusa.com—Freeletics menjadi salah satu pilihan olahraga yang praktis bagi masyarakat perkotaan. Latihan ini mengandalkan berat badan sendiri sehingga dapat dilakukan di rumah, taman, maupun ruang terbuka tanpa banyak peralatan.
Olahraga freeletics juga menarik karena durasi latihannya relatif singkat. Dengan latihan sekitar 15 hingga 60 menit, tubuh dapat memperoleh stimulus untuk meningkatkan kebugaran sekaligus membantu mengurangi lemak dan kalori berlebih.
Apa Itu Olahraga Freeletics?
Freeletics mulai populer di Jerman pada 2003 sebelum dikenal di berbagai negara, termasuk Indonesia. Konsep utamanya sederhana, yakni menggunakan berat badan sebagai beban latihan.
Latihan dapat dilakukan sendiri maupun bersama kelompok. Tempatnya pun fleksibel, mulai dari rumah hingga taman dan fasilitas olahraga terbuka.
Durasi latihan biasanya berkisar 15 sampai 60 menit. Meski tergolong singkat, latihan dengan intensitas dan teknik yang tepat dapat memberikan manfaat bagi kebugaran tubuh.
Mengenal Gerakan dalam Freeletics
Freeletics memiliki beberapa pola latihan yang dapat disesuaikan dengan kemampuan peserta. Secara umum, latihan mencakup high intensity workout, training plans, dan kombinasi berbagai gerakan.
Beberapa gerakan yang umum digunakan antara lain push-up, sit-up, plank, leg lever, squat, jumping jack, dan burpees.
Dalam latihan ini, kualitas gerakan menjadi hal penting. Jumlah repetisi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan karena teknik yang benar membantu tubuh bekerja secara lebih efektif.
Sebagai contoh, latihan squat dapat dilakukan selama satu menit. Pemula mungkin hanya mampu menyelesaikan 10 repetisi, sedangkan orang yang sudah terlatih dapat mencapai jumlah yang lebih banyak.
Karena itu, peserta sebaiknya menyesuaikan intensitas latihan dengan kemampuan masing-masing. Freeletics menyediakan tantangan yang dapat berkembang dari tingkat pemula hingga tingkat mahir.
Burpees Melatih Banyak Kelompok Otot
Salah satu gerakan yang cukup menantang dalam freeletics adalah burpees. Gerakan ini menggabungkan beberapa pola latihan dalam satu rangkaian.
Gerakan dimulai dengan posisi squat, kemudian tubuh bertumpu pada kedua tangan. Setelah itu, posisi dilanjutkan menjadi push-up, kembali ke posisi squat, lalu diakhiri dengan lompatan.
Rangkaian tersebut membuat burpees melibatkan sejumlah kelompok otot sekaligus. Lengan, dada, perut, paha, dan kaki ikut bekerja selama gerakan berlangsung.
Pengaturan napas juga perlu mendapat perhatian. Teknik pernapasan yang baik membantu peserta mempertahankan ritme latihan, terutama ketika melakukan gerakan dengan intensitas tinggi.
Manfaat Freeletics bagi Kebugaran
Seperti jenis olahraga lainnya, freeletics dapat memberikan sejumlah manfaat bagi kondisi fisik. Variasi gerakannya juga membuat latihan lebih dinamis sehingga peserta tidak mudah merasa bosan.
Jika dilakukan secara rutin dan sesuai kemampuan, freeletics dapat membantu meningkatkan kekuatan otot. Latihan ini juga mendukung kebugaran serta daya tahan jantung dan paru.
Selain itu, aktivitas fisik dengan intensitas cukup tinggi dapat membantu tubuh menggunakan energi lebih banyak. Dalam jangka panjang, latihan yang konsisten dapat mendukung upaya mengurangi lemak dan kalori berlebih.
Meski demikian, hasil latihan tetap dipengaruhi oleh intensitas, frekuensi olahraga, kondisi tubuh, serta pola makan. Teknik gerakan yang benar juga penting agar latihan berlangsung efektif dan aman.
Freeletics Bisa Dilakukan Tanpa Banyak Peralatan
Salah satu keunggulan freeletics terletak pada fleksibilitasnya. Peserta tidak harus menggunakan alat olahraga khusus karena sebagian besar gerakan memanfaatkan berat badan sendiri.
Kondisi tersebut membuat freeletics mudah diterapkan dalam rutinitas sehari-hari. Pemula dapat memulai dengan gerakan sederhana dan meningkatkan intensitas secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.
Dengan kombinasi latihan yang tepat dan dilakukan secara konsisten, freeletics dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjaga kebugaran sekaligus membantu mengontrol komposisi tubuh. (*)






