Padang, Javanusa—Pemerintah Kota Padang memperkuat kolaborasi internasional untuk pelestarian kawasan Kota Tua, pengelolaan lingkungan, revitalisasi Sungai Batang Arau, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui International Symposium Ekosistem Kota Tua Padang.
Kegiatan yang menjadi rangkaian Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357 itu berlangsung di Convention Hall Universitas Bung Hatta (UBH), Kamis (6/8/2026).
Wali Kota Padang Fadly Amran membuka simposium bertema Warisan, Sungai, Pasar, dan Lingkungan untuk Pariwisata Berkelanjutan.
Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Hildesheim, Jerman, Mr. Ingo Meyer, Perwakilan Residen United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia Sara Ferrer Olivella, Rektor Universitas Bung Hatta Diana Kartika, delegasi Malaysia dan Thailand, serta perwakilan pemerintah daerah dari berbagai wilayah di Indonesia.
Pengelolaan Sampah dan Revitalisasi Batang Arau Jadi Prioritas
Dalam sambutannya, Fadly Amran menegaskan pengelolaan sampah perkotaan dan pemulihan Sungai Batang Arau merupakan dua tantangan utama yang saling berkaitan.
Kedua isu tersebut menjadi prioritas Pemerintah Kota Padang untuk mewujudkan kota yang bersih, sehat, sekaligus memperkuat pariwisata berkelanjutan.
Ia menyebut Kota Padang menghasilkan 669 ton sampah setiap hari. Sebanyak 73 persen sampah diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), 26 persen diolah melalui program 3R, sedangkan 1 persen masih berakhir di lokasi pembuangan terbuka.
Fadly Amran juga menyoroti pencemaran di kawasan hilir Sungai Batang Arau akibat limpasan drainase dan sampah yang berasal dari rumah tangga, pasar, serta kawasan usaha.
Menurutnya, revitalisasi sungai harus berjalan seiring dengan penghentian sampah dari sumber melalui penguatan infrastruktur persampahan, pengelolaan air limbah, serta alih pengetahuan dan teknologi.
“Transformasi pengelolaan sampah harus dimulai dari pemilahan di sumber, bukan hanya peningkatan kualitas TPA. Karena itu, Pemko Padang menggulirkan Padang Rancak Award untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat, sekaligus memperkuat Lembaga Pengelola Sampah (LPS), bank sampah, serta mengembangkan teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) dan waste-to-energy.”
“Kami meyakini keberhasilan revitalisasi Sungai Batang Arau akan menjadi titik awal kebangkitan kawasan Kota Tua Padang sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Kami berterima kasih kepada bapak ibu semua yang hadir dan memberikan dukungan untuk Kota Padang.”
Sister City Padang-Hildesheim Terus Diperkuat
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Hildesheim, Mr. Ingo Meyer, menyampaikan hubungan sister city antara Kota Padang dan Kota Hildesheim telah terjalin sejak 1988.
Menurutnya, kerja sama tersebut terus berkembang melalui berbagai program yang memperkuat kolaborasi di bidang lingkungan dan pembangunan perkotaan.
Ia menilai komitmen kedua kota menjadi modal penting untuk memperluas kerja sama pada masa mendatang.
“Kami berkomitmen mempererat kerja sama melalui langkah-langkah strategis baru. Kami juga menantikan kunjungan balasan delegasi Kota Padang ke Hildesheim pada tahun 2027 sebagai bagian dari penguatan hubungan kedua kota.”
UNDP Dukung Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Sirkular
Perwakilan Residen UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella, menegaskan dukungan UNDP dalam memperkuat pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular di Indonesia melalui kolaborasi dengan 18 kementerian dan lembaga.
Dukungan tersebut mencakup penguatan sistem pelacakan sampah plastik dari darat ke laut, pengembangan infrastruktur pengumpulan dan pemulihan sampah, perlindungan sosial bagi pekerja persampahan, serta percepatan ekonomi sirkular untuk mendukung target pengurangan sampah plastik laut sebesar 70 persen.
Menurut Sara, Kota Padang memiliki modal yang kuat untuk berkembang sebagai destinasi wisata yang bersih dan tangguh melalui pemanfaatan digitalisasi, inovasi, serta kolaborasi antarkota.
“Padang memiliki modal kuat menjadi destinasi wisata yang bersih, tangguh, dan berbasis ekonomi sirkular melalui digitalisasi, inovasi, serta kolaborasi antarkota. Revitalisasi Sungai Batang Arau juga berpotensi menjadi contoh nature-based solutions yang memperkuat kesehatan ekosistem, mengurangi risiko perubahan iklim, dan menghadirkan ruang publik yang berkualitas,” ujarnya. (*)






