Javanusa.com—Gula aren dan gula merah kerap dianggap sebagai jenis pemanis yang sama karena memiliki warna serta rasa yang hampir serupa.
Padahal, keduanya berasal dari bahan baku berbeda, memiliki karakteristik tersendiri, hingga menawarkan kandungan gizi dan manfaat kesehatan yang tidak sepenuhnya sama.
Berikut ini perbedaan gula aren dan gula merah yang perlu diketahui.
1. Bahan Baku Menjadi Pembeda Utama
Meski sama-sama dibuat dari nira tanaman, gula aren dan gula merah berasal dari sumber yang berbeda.
Gula aren diproduksi dari nira pohon aren atau enau (Arenga pinnata). Selain menghasilkan nira, pohon ini juga dikenal sebagai penghasil kolang-kaling dan ijuk.
Sementara itu, gula merah umumnya dibuat dari nira kelapa (Cocos nucifera), meski bisa pula berasal dari pohon palem, nipah, lontar, atau sagu. Karena banyak diproduksi di Pulau Jawa, gula merah juga populer dengan sebutan gula jawa.
2. Indeks Glikemik Lebih Rendah dari Gula Pasir
Perbedaan berikutnya terletak pada indeks glikemik (IG), yaitu ukuran seberapa cepat makanan meningkatkan kadar gula darah.
Gula aren memiliki nilai IG sekitar 40 sehingga termasuk kategori rendah. Adapun gula merah berbahan kelapa memiliki IG sekitar 55.
Meski berbeda, kedua jenis gula tersebut tetap memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan gula pasir sehingga sering menjadi pilihan alternatif sebagai pemanis.
3. Proses Produksi Hampir Sama, Hasil Akhir Berbeda
Tahapan awal pembuatan kedua gula ini meliputi penyadapan nira, penyaringan, pemanasan, hingga pemekatan cairan.
Perbedaannya muncul pada tahap akhir. Gula merah biasanya dicetak menggunakan cetakan bulat atau batok kelapa, lalu dikeringkan sebelum dipasarkan.
Sebaliknya, gula aren tersedia dalam bentuk padat maupun cair sehingga penggunaannya lebih beragam.
4. Tekstur dan Warna Tidak Sama
Secara fisik, gula aren memiliki tekstur yang lebih lembut dan lebih cepat meleleh ketika dipanaskan.
Gula merah cenderung lebih keras sehingga sering perlu dipotong atau dihancurkan sebelum digunakan dalam masakan.
Dari segi tampilan, gula aren umumnya berwarna cokelat muda hingga cokelat tua. Gula merah biasanya memiliki warna yang lebih gelap. Perbedaan tersebut berkaitan dengan komposisi bahan baku serta proses pembuatannya.
5. Cita Rasa Menentukan Penggunaan
Aroma dan rasa juga menjadi pembeda yang cukup mudah dikenali.
Gula aren menawarkan rasa manis yang legit dengan sentuhan gurih, sedikit aroma asap (smokey), nuansa karamel, serta aroma khas yang ringan.
Di sisi lain, gula merah memiliki rasa manis yang lebih kuat dengan karakter karamel yang lembut. Jika berasal dari nira kelapa, aroma kelapanya akan terasa lebih dominan.
Karena karakter rasanya lebih tegas, gula aren banyak digunakan untuk minuman seperti es kopi susu, cendol, hingga kue tradisional seperti klepon.
Sementara itu, gula merah lebih sering menjadi bahan pelengkap aneka masakan, seperti gudeg, semur, bumbu kacang, dan bumbu ayam bakar.
6. Kandungan Gizi Gula Aren dan Gula Merah
Berdasarkan Data Komposisi Pangan Indonesia, gula aren mengandung:
-
- Lemak: 0 gram
- Karbohidrat: 92 gram
- Kalsium: 75 mg
- Fosfor: 37 mg
- Zat besi: 3 mg
- Natrium: 15 mg
- Kalium: 390,4 mg
- Seng: 26,4 mg
Sementara kandungan gula merah berbahan kelapa meliputi:
-
- Lemak: 10 gram
- Karbohidrat: 76 gram
- Kalsium: 76 mg
- Fosfor: 37 mg
- Zat besi: 2,6 mg
- Natrium: 2 mg
- Kalium: 0 mg
- Seng: 0 mg
Dari komposisi tersebut, gula aren memiliki keunggulan karena tidak mengandung lemak serta menyediakan kalium dan seng dalam jumlah lebih tinggi.
7. Mana yang Lebih Sehat?
Secara umum, gula aren dinilai lebih unggul dibandingkan gula merah dari sisi kandungan gizinya.
Kalium berperan membantu menjaga tekanan darah tetap stabil, natrium mendukung keseimbangan cairan tubuh, sedangkan seng berkontribusi terhadap fungsi sistem kekebalan tubuh.
Meski demikian, keduanya tetap merupakan sumber gula sehingga konsumsinya perlu dibatasi sesuai kebutuhan harian. Mengonsumsi gula secara berlebihan tetap berisiko meningkatkan berbagai masalah kesehatan.
Dengan memahami perbedaan gula aren dan gula merah, masyarakat dapat memilih jenis pemanis yang paling sesuai dengan kebutuhan, baik untuk minuman, masakan, maupun pertimbangan nilai gizinya. (*)






