Javanusa.com—Kabut asap tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat memicu rasa gatal dan kering pada tenggorokan. Paparan partikel serta polutan membuat saluran pernapasan lebih mudah mengalami iritasi.
Keluhan biasanya terasa setelah seseorang menghirup udara tercemar dalam waktu tertentu. Risiko dapat meningkat saat beraktivitas di luar ruangan atau melakukan olahraga ketika kualitas udara memburuk.
Kabut Asap Dapat Mengiritasi Saluran Pernapasan
Udara yang tercemar kabut asap dapat membawa partikel halus dan berbagai polutan. Zat tersebut masuk melalui hidung atau mulut saat seseorang bernapas.
Paparan polutan kemudian dapat mengganggu lapisan saluran pernapasan. Kondisi itu dapat menimbulkan tenggorokan kering, gatal, batuk, atau rasa mengganjal saat menelan.
Durasi paparan juga turut memengaruhi keluhan. Aktivitas fisik di luar ruangan dapat meningkatkan jumlah udara yang masuk ke saluran pernapasan.
Kelompok yang Perlu Lebih Waspada
Dampak kabut asap tidak selalu sama pada setiap orang. Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap kualitas udara yang buruk.
Ibu hamil juga perlu mengurangi paparan polusi. Hal serupa berlaku bagi orang yang memiliki asma atau penyakit tertentu pada paru dan jantung.
Karena itu, kelompok rentan sebaiknya membatasi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk.
Cara Mengatasi Tenggorokan Gatal akibat Kabut Asap
Melansir Klik Medika, ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi paparan dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan.
1. Batasi aktivitas di luar rumah
Kurangi waktu berada di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk. Tunda aktivitas yang tidak mendesak hingga kondisi udara membaik.
Jika harus keluar, perhatikan informasi kualitas udara di wilayah setempat. Pilih kondisi yang memungkinkan paparan polusi lebih rendah.
2. Perbanyak minum air
Asupan cairan yang cukup membantu menjaga kelembapan mulut dan tenggorokan. Air putih dapat menjadi pilihan utama sepanjang hari.
Jangan menunggu rasa haus muncul untuk minum. Tubuh membutuhkan cairan secara teratur, terutama ketika berada dalam kondisi lingkungan yang kurang nyaman.
3. Jauhi asap rokok
Tenggorokan yang sudah mengalami iritasi akan lebih mudah terasa tidak nyaman setelah terpapar asap rokok.
Karena itu, hindari merokok dan jauhi lingkungan dengan paparan asap rokok. Langkah ini juga membantu mengurangi beban polusi yang masuk ke saluran pernapasan.
4. Gunakan masker saat berada di luar
Masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel halus ketika kualitas udara memburuk. Gunakan masker secara tepat, terutama saat harus beraktivitas di luar rumah.
Namun, masker tidak membuat aktivitas berat di luar ruangan menjadi aman ketika polusi mencapai tingkat sangat buruk. Tetap utamakan pembatasan paparan.
5. Perhatikan kualitas udara di dalam rumah
Polusi dari luar dapat masuk melalui pintu dan jendela. Saat kualitas udara memburuk, tutup akses udara luar jika kondisi memungkinkan.
Penyaring udara dapat digunakan apabila tersedia. Hindari pula sumber polusi dari dalam rumah, seperti asap rokok dan pembakaran.
Apakah Air Hangat Bisa Meredakan Tenggorokan Gatal?
Minuman hangat dapat memberikan rasa nyaman bagi sebagian orang ketika tenggorokan terasa kering atau gatal.
Namun, air hangat tidak menghilangkan dampak paparan polusi. Upaya utama tetap berfokus pada pengurangan paparan dan pemenuhan kebutuhan cairan.
Jangan Sembarangan Minum Antibiotik
Iritasi ringan pada tenggorokan umumnya dapat membaik setelah paparan polusi berkurang. Penggunaan antibiotik tidak selalu diperlukan untuk kondisi tersebut.
Jangan mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan dan resep dokter. Obat tersebut tidak ditujukan untuk semua jenis keluhan tenggorokan, termasuk iritasi akibat polusi.
Waspadai Gejala yang Lebih Serius
Tenggorokan gatal perlu mendapat perhatian lebih jika muncul bersama gejala berat. Segera cari pertolongan medis jika terjadi sesak atau kesulitan bernapas.
Nyeri dada, bibir atau wajah membiru, serta kebingungan juga memerlukan penanganan segera.
Sementara itu, konsultasikan keluhan jika batuk atau iritasi tenggorokan terus berlangsung. Pemeriksaan juga diperlukan ketika gejala semakin berat atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. (*)






