Padang, Javanusa—Ketua DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Muhidi mengingatkan pelajar bahwa kesuksesan tidak hanya bergantung pada kecerdasan akademik.
Kemampuan mendengar, melihat peluang, dan berpikir secara kritis menjadi tiga modal penting yang perlu dikembangkan sejak bangku sekolah.
Pesan tersebut ia sampaikan saat memberikan motivasi dalam kegiatan latihan menulis dan literasi bagi siswa SMA negeri dan swasta, Selasa (6/10/2026). Ia juga mendorong para pelajar untuk menghormati guru, memperluas wawasan melalui bacaan, serta membangun karakter yang kuat.
Muhidi menjelaskan pendengaran menjadi salah satu pintu utama dalam proses menuntut ilmu. Karena itu, siswa perlu membiasakan diri menyimak pelajaran dan menerima nasihat guru dengan baik.
“Allah memberikan tiga piranti intelektual kepada kita. Kalau ingin sukses, gunakan dengan baik, salah satunya adalah pendengaran. Dengarkan guru, karena guru adalah bagian penting dalam perjalanan mencari ilmu,” kata Muhidi.
Ia kemudian mengingatkan siswa tentang perjuangan para ulama terdahulu dalam mencari ilmu. Mereka rela menempuh perjalanan jauh untuk menemui orang-orang berilmu dan belajar langsung dari mereka.
Menurut Muhidi, tradisi tersebut menunjukkan pentingnya menghargai guru sebagai sumber pengetahuan dan pembimbing dalam perjalanan pendidikan.
“Orang sukses adalah orang yang memuliakan gurunya. Di rumah ada orang tua, di sekolah ada guru. Ilmu tidak akan berkembang dengan baik tanpa guru,” ujarnya.
Literasi Membantu Siswa Memperluas Wawasan
Selain mendengarkan guru, Muhidi menilai kebiasaan membaca dan menulis berperan penting dalam meningkatkan kualitas diri siswa. Melalui literasi, pelajar dapat memperluas pengetahuan, memahami berbagai persoalan, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Ia juga menegaskan bahwa kebutuhan untuk belajar tidak terbatas pada lingkungan sekolah. Setiap bidang kehidupan memiliki sosok berpengalaman yang dapat menjadi tempat bertanya dan menimba pengetahuan.
“Kalau belajar kita punya guru, dalam bisnis ada mentor, olahraga ada coach, dan dalam politik ada suhu. Artinya, dalam setiap pilihan hidup kita harus mau belajar kepada orang yang lebih berpengalaman,” tuturnya.
Karena itu, Muhidi mengajak siswa menjadikan literasi sebagai kebiasaan sehari-hari. Baginya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga proses memahami informasi, mengolah pemikiran, dan menghasilkan gagasan.
Ilmu Membantu Siswa Melihat Peluang
Muhidi juga menyoroti pentingnya kemampuan melihat sebagai salah satu modal intelektual. Menurutnya, wawasan yang luas membantu seseorang mengenali peluang dan memahami situasi dari berbagai sudut pandang.
“Peluang itu ada ketika kita memiliki ilmu. Orang yang berilmu akan mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas dan menemukan peluang dari keadaan yang dihadapinya,” katanya.
Ia berharap siswa terus mengembangkan pengetahuan agar mampu membaca perubahan dan mengambil keputusan secara tepat. Kebiasaan belajar juga dapat membantu mereka menemukan potensi diri serta menentukan arah masa depan.
Siswa Unggul Harus Memiliki Ilmu dan Akhlak
Selain prestasi akademik, Muhidi menekankan pentingnya iman, akhlak, dan kepedulian sosial dalam membentuk generasi unggul. Menurutnya, kecerdasan saja tidak cukup jika seseorang tidak memiliki karakter yang baik dan keinginan untuk memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Menjadi siswa unggul bukan hanya pintar. Siswa unggul adalah siswa yang kuat imannya, mulia akhlaknya, luas ilmunya dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan para pelajar agar tidak meremehkan pendidikan formal. Sekolah dan proses belajar menjadi bekal penting untuk mengembangkan kemampuan serta membuka kesempatan pada masa depan.
“Hebat sekalipun seseorang, kalau tidak sekolah dan tidak memiliki ijazah, apakah akan mudah diakui? Karena itu, semangatlah bersekolah dan menuntut ilmu,” katanya.
Muhidi Ajak Pelajar Manfaatkan Masa Sekolah
Muhidi mengajak siswa menggunakan masa sekolah untuk memperkuat kebiasaan membaca, menyimak nasihat guru, memperluas wawasan, dan membangun karakter. Ia berharap latihan menulis dan kegiatan literasi dapat mendorong pelajar menghasilkan gagasan yang bermanfaat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak semata-mata diukur dari tingginya pencapaian pribadi. Kontribusi nyata bagi orang lain juga menjadi bagian penting dari makna kesuksesan.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat. Jadi, belajarlah dengan sungguh-sungguh, perbanyak membaca dan jadilah orang yang ilmunya bermanfaat bagi kehidupan,” pungkasnya. (*)






