Padang, Javanusa—Pembangunan sejumlah proyek infrastruktur strategis yang membutuhkan teknologi terowongan mendorong lahirnya Pusat Studi Terowongan dan Infrastruktur Bawah Tanah (PUSTROIB) di Universitas Andalas (Unand).
Kehadiran pusat studi tersebut diharapkan menjadi wadah pengembangan riset, inovasi, dan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pembangunan di Sumbar yang memiliki kondisi geografis berbukit, bergunung, dan rawan bencana.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menilai keberadaan PUSTROIB menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas daerah dalam bidang konstruksi terowongan dan infrastruktur bawah tanah, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pembangunan infrastruktur modern.
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah menyampaikan hal itu saat menghadiri kegiatan HK Mengajar Inspiring Leaders, penandatanganan Nota Kesepahaman Tridarma Perguruan Tinggi, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Inovasi dan Bisnis, serta peresmian PUSTROIB di Convention Hall Unand, Limau Manis, Jumat (5/6/2026).
Menurut Mahyeldi, kehadiran pusat studi tersebut sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan Sumbar yang didominasi kawasan pegunungan, lembah, serta wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi.
Kondisi itu membutuhkan pendekatan pembangunan yang ditopang oleh riset, teknologi, dan inovasi yang berkelanjutan.
“Pendirian PUSTROIB merupakan langkah yang sangat visioner. Sumatera Barat membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab tantangan pembangunan infrastruktur yang semakin kompleks di masa depan,” ujar Mahyeldi.
Ia menjelaskan, keberadaan PUSTROIB akan menjadi fondasi penting bagi berbagai proyek strategis nasional yang tengah berjalan maupun yang akan dikembangkan di masa mendatang. Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pembangunan Jalan Tol Padang–Pekanbaru, khususnya ruas Sicincin–Bukittinggi.
Menurut Mahyeldi, ruas tol tersebut melintasi kawasan dengan topografi ekstrem, kawasan hutan lindung, serta sejumlah titik yang membutuhkan teknologi konstruksi tingkat tinggi. Pada ruas itu juga direncanakan pembangunan dua terowongan dengan total panjang sekitar 5,85 kilometer.
“Kami berharap Sumbar tidak hanya menjadi lokasi pembangunan infrastruktur strategis nasional, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung pembangunan Indonesia secara berkelanjutan,” katanya.
Perkuat Kompetensi Daerah di Bidang Terowongan
Mahyeldi menambahkan, pembangunan terowongan sebenarnya bukan hal baru bagi Sumbar. Daerah ini telah mengenal teknologi tersebut sejak masa pembangunan jalur kereta api dan berbagai infrastruktur lainnya pada masa lampau.
Karena itu, kehadiran PUSTROIB dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat sekaligus memodernisasi kompetensi yang telah dimiliki daerah agar mampu mengikuti perkembangan teknologi konstruksi terkini.
Ia juga mendorong PUSTROIB berkembang menjadi pusat unggulan nasional yang mempertemukan akademisi, pelaku industri, pemerintah, dan pakar internasional dalam satu ekosistem kolaborasi.
“Kehadiran Pusat Studi Terowongan di Universitas Andalas sangat tepat. Ini menjadi langkah awal yang baik untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan sekaligus mewujudkan berbagai rencana besar pembangunan Sumatera Barat ke depan,” ujarnya.
Mahasiswa Didorong Berkolaborasi dengan Industri
Dalam kesempatan itu, Mahyeldi mengajak mahasiswa Universitas Andalas memanfaatkan peluang kolaborasi dengan dunia industri untuk meningkatkan kompetensi dan kesiapan menghadapi kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.
Menurutnya, mahasiswa memperoleh bekal teori dan metodologi selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Namun, tantangan yang dihadapi di dunia kerja sering kali jauh lebih kompleks sehingga membutuhkan pengalaman praktis dan kemampuan adaptasi yang kuat.
“Di kampus mahasiswa memperoleh teori dan metodologi. Namun di lapangan mereka akan berhadapan dengan persoalan yang lebih kompleks. Karena itu, kesempatan belajar dan berkolaborasi dengan dunia industri harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” katanya.
Mahyeldi juga menyampaikan apresiasi kepada PT Hutama Karya yang dinilai konsisten mendukung pengembangan pendidikan tinggi melalui berbagai program kolaborasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Hutama Karya dan Universitas Andalas yang terus membangun sinergi dalam menyiapkan generasi muda yang unggul dan berdaya saing global,” tuturnya.
Tol Padang–Pekanbaru Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Sementara itu, Ketua Ikatan Alumni Unans yang juga Komisaris Utama PT Hutama Karya, Denny Abdi, mengatakan pembangunan Jalan Tol Padang–Pekanbaru akan menjadi salah satu pengungkit pertumbuhan ekonomi baru di Pulau Sumatera.
Menurutnya, konektivitas yang semakin baik akan mempercepat pergerakan barang, jasa, dan investasi. Kondisi tersebut sekaligus memperkuat keterhubungan Sumbar dengan berbagai pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera.
“Jika ruas tol ini tersambung, perputaran ekonomi akan meningkat signifikan. Ini bukan hanya untuk Sumatera Barat, tetapi akan menjadi motor penggerak ekonomi Pulau Sumatera,” ujarnya.
Denny menjelaskan, salah satu tantangan terbesar pembangunan ruas Sicincin–Bukittinggi terletak pada aspek teknologi konstruksi. Karena itu, keberadaan PUSTROIB dinilai sangat penting untuk mendukung pengembangan keahlian, riset, dan inovasi di bidang konstruksi terowongan.
“Pusat Studi Terowongan ini menjadi yang pertama di Indonesia. Kehadirannya sangat penting karena pada ruas Sicincin–Bukittinggi akan dibangun terowongan sepanjang sekitar 5,8 kilometer yang menjadi salah satu terpanjang di Indonesia,” katanya.
Ia optimistis proyek tersebut tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membuka potensi pengembangan destinasi wisata baru karena melintasi kawasan perbukitan dengan panorama alam yang menarik.
Unand dan Hutama Karya Perkuat Kolaborasi
Pada kesempatan yang sama, Universitas Andalas dan PT Hutama Karya menandatangani Nota Kesepahaman tentang Tridarma Perguruan Tinggi, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Inovasi dan Bisnis, serta pendirian PUSTROIB.
Rektor Unand, Efa Yonnedi, dan Direktur Human Capital dan Legal PT Hutama Karya, Muhammad Fauzan, menandatangani kesepakatan tersebut.
Kerja sama itu diharapkan menjadi tonggak penting dalam pengembangan riset terowongan dan infrastruktur bawah tanah di Indonesia.
Selain memperkuat kapasitas akademik dan industri, kolaborasi tersebut juga diharapkan memperkuat posisi Sumatera Barat sebagai salah satu pusat inovasi pembangunan infrastruktur nasional. (*/adpsb)






