Jakarta, Javanusa—Sosok perempuan Minangkabau asal Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, Rosita Medina kembali menorehkan kiprah penting di tanah perantauan.
Pada Sabtu (7/2/2025), ia resmi terpilih sebagai Ketua Perkumpulan Bundo Kanduang Minangkabau (PBKM) Provinsi DKI Jakarta untuk masa bakti 2026-2030.
Pemilihan Rosita Medina berlangsung melalui Musyawarah Daerah (Musda) ke-2 PBKM DKI Jakarta yang digelar secara demokratis dan penuh kekeluargaan.
Forum tertinggi organisasi tersebut mempercayakan estafet kepemimpinan kepada perempuan yang dikenal konsisten memperjuangkan pendidikan, adat, dan peran strategis perempuan Minangkabau.
Rosita Medina, yang akrab disapa Bundo Ros Memed Kusumah merupakan perempuan perantau Minang yang telah lama bermukim dan mengabdi di Jakarta.
Pada usia 62 tahun, ia membuktikan bahwa dedikasi dan semangat pengabdian tidak lekang oleh waktu. Selain menjabat sebagai Ketua PBKM DKI Jakarta, Rosita juga aktif sebagai Sekretaris Bidang Ranah dan Rantau Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Keluarga Pesisir Selatan (DPP PKPS).
Aktivitas organisasi tersebut memperlihatkan konsistensinya dalam merawat ikatan kampung halaman di tengah kehidupan urban. Dari sisi akademik, Rosita Medina merupakan lulusan doktoral Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Latar belakang keilmuannya memperkuat pandangannya bahwa pendidikan karakter harus dimulai sejak dini, sejalan dengan nilai-nilai adat Minangkabau yang menempatkan ibu sebagai pusat pembentukan kepribadian anak.
Dalam perjalanan kariernya, Rosita dikenal sebagai pensiunan guru SMAN 26 Jakarta. Dunia pendidikan telah membentuknya menjadi figur pendidik yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga nilai, etika, dan keteladanan.
Saat ditemui usai Musda, Sabtu (7/2/2025), Rosita Medina menegaskan amanah sebagai Ketua PBKM DKI Jakarta bukan sekadar jabatan struktural, melainkan tanggung jawab moral dan intelektual yang besar.
“Menjadi Ketua Bundo Kanduang di perantauan adalah tanggung jawab untuk menjaga arah, marwah, dan keberlanjutan peran Bundo Kanduang itu sendiri,” ujarnya.
Menurut Rosita, organisasi Bundo Kanduang di perantauan tidak bisa dipandang sebagai organisasi perempuan semata atau sekadar simbol kebudayaan.
Lebih dari itu, Bundo Kanduang merupakan representasi ibu dalam adat Minangkabau penjaga nilai, penentu keseimbangan, dan sumber keteladanan dalam kehidupan sosial.
Ia menjelaskan bahwa dalam struktur adat Minangkabau, peran ibu tidak pernah berada di pinggir.
Sebaliknya, ibu berada di pusat pembentukan karakter, tata kehidupan, dan kesinambungan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Kita hidup jauh dari titik geografis dan kultural Minangkabau. Kita berada di pusat negara, di ruang urban yang bergerak sangat cepat, dengan nilai-nilai yang tidak selalu sejalan dengan falsafah adat,” tutur Bundo Ros Memed.
Karena itu, ia berharap PBKM DKI Jakarta mampu menjadi ruang yang teduh dan menenangkan, sekaligus menjadi rujukan etika bagi keluarga Minangkabau, baik yang berada di ranah maupun di perantauan.
Rosita juga menekankan pentingnya peran Bundo Kanduang sebagai penyeimbang dalam keluarga dan masyarakat, terutama di tengah tantangan modernitas, globalisasi, dan perubahan pola hidup masyarakat perkotaan.
Keberhasilannya memimpin PBKM DKI Jakarta tidak terlepas dari dukungan banyak pihak, termasuk sesama perempuan perantau asal Pesisir Selatan.
Salah satu dukungan penting datang dari Bundo Amy Anas, SE, yang turut berperan dalam suksesnya pelaksanaan Musda ke-2 PBKM.
“Saya mengucapkan terima kasih istimewa kepada Bundo Amy Anas atas dukungan dan support sehingga Musda ke-2 PBKM DKI Jakarta tahun 2026 dapat terlaksana dengan baik,” pungkas Rosita Medina.
Dengan latar belakang pendidik, akademisi, dan aktivis organisasi, Rosita Medina diharapkan mampu membawa PBKM DKI Jakarta menjadi organisasi yang tidak hanya menjaga adat, tetapi juga relevan, adaptif, dan memberi pencerahan bagi masyarakat Minangkabau di tanah rantau. (niks)






