Javanusa.com—Tidur bersama pasangan kerap dikaitkan dengan rasa nyaman dan kualitas istirahat yang lebih baik. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan faktor emosional, tetapi juga respons biologis yang terjadi di dalam tubuh.
Secara fisik, aktivitas seperti berhubungan intim dapat memicu pelepasan berbagai hormon yang membuat tubuh lebih rileks. Kondisi ini kemudian berkontribusi pada rasa kantuk dan kemudahan untuk tertidur lebih cepat setelahnya.
Namun, manfaat tidur lebih nyenyak tidak selalu bergantung pada aktivitas seksual. Kedekatan emosional dan fisik dengan pasangan, seperti berpelukan atau sekadar berbagi tempat tidur, juga dapat memberikan efek serupa.
Dikutip dari Popbela, psikolog tidur sekaligus penasihat ilmiah SleepFoundation.org, Wendy Troxel, PhD, menjelaskan tidur bersama pasangan dapat menciptakan rasa koneksi, keintiman, dan kenyamanan yang mendukung kualitas tidur yang lebih baik.
Berdasarkan penelitiannya selama lebih dari satu dekade, perempuan yang berada dalam hubungan stabil cenderung memiliki kualitas tidur lebih baik dibandingkan mereka yang tidak berpasangan atau sedang mengalami perubahan hubungan.
“Efek tidur yang lebih baik paling terlihat ketika seseorang tidur di samping pasangan yang memiliki hubungan positif dengannya,” ujar Troxel.
Ia juga menambahkan bahwa perempuan dalam pernikahan yang bahagia umumnya melaporkan kualitas tidur yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak berpasangan atau berada dalam hubungan yang tidak harmonis.
Peran hormon dalam rasa nyaman saat tidur
Secara ilmiah, salah satu faktor utama yang memengaruhi kenyamanan tidur bersama pasangan adalah hormon oksitosin, yang sering disebut sebagai “hormon cinta”.
Kedekatan fisik seperti berpelukan atau berciuman dapat merangsang pelepasan oksitosin. Hormon ini diketahui berperan dalam menurunkan tingkat stres dan meningkatkan rasa tenang, sehingga membantu tubuh lebih mudah beristirahat.
Efek relaksasi tersebut akan lebih terasa jika hubungan emosional antar pasangan berjalan baik dan penuh rasa saling percaya.
Rasa aman turut memengaruhi kualitas tidur
Meski seseorang sedang tidur, otak tetap bekerja dan merespons lingkungan sekitar. Dalam konteks ini, keberadaan pasangan dapat memberikan sinyal rasa aman yang penting bagi kualitas tidur.
Dari sudut pandang evolusi, tidur merupakan kondisi rentan. Karena itu, rasa aman menjadi faktor penting agar tubuh dapat benar-benar beristirahat.
Psikolog tidur Troxel menjelaskan bahwa koneksi sosial dapat menurunkan respons stres, termasuk penurunan hormon kortisol yang biasanya meningkat saat otak mendeteksi ancaman.
Dengan demikian, keberadaan pasangan yang dipercaya dapat membantu menciptakan rasa aman dan menekan tingkat stres, sehingga tidur menjadi lebih nyenyak.
Kebiasaan dan rutinitas juga berpengaruh
Selain faktor biologis dan emosional, kebiasaan tidur bersama pasangan secara konsisten juga dapat membentuk pola tidur yang lebih stabil.
Psikolog tidur Samina Ahmed Jauregui, PsyD, menyebutkan bahwa rutinitas tidur bersama dapat membantu tubuh beradaptasi dan lebih mudah memasuki fase istirahat.
Sementara itu, psikolog tidur Rebecca Robbins, PhD, menambahkan bahwa kualitas hubungan di luar kamar tidur juga berperan penting. Hubungan yang sehat dan suportif dapat membantu mengurangi stres, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas tidur yang lebih baik.
Tidak selalu lebih baik untuk semua orang
Meski demikian, tidur bersama pasangan tidak selalu menjadi pilihan terbaik bagi semua orang. Sebagian pasangan justru merasa lebih nyaman dan mendapatkan kualitas tidur lebih baik ketika tidur terpisah.
Troxel menegaskan bahwa tidak ada pola tunggal yang cocok untuk semua pasangan dalam menentukan kualitas tidur terbaik.
Sejumlah penelitian yang menggunakan alat pemantau tidur bahkan menunjukkan bahwa sebagian orang mengalami kualitas tidur yang sedikit menurun ketika berbagi tempat tidur.
Namun, ketika ditanya secara subjektif, banyak orang tetap memilih tidur bersama pasangan karena faktor kenyamanan emosional yang dirasakan lebih kuat dibandingkan perbedaan kualitas tidur secara objektif.
Hal ini menunjukkan bahwa aspek psikologis dan rasa kebersamaan sering kali menjadi pertimbangan utama dalam memilih cara tidur bersama pasangan. (*/red)






