Javanusa.com—Kadar gula darah yang terus tinggi dapat muncul tanpa keluhan jelas. Namun, tubuh sebenarnya dapat memberikan sejumlah tanda, mulai dari sering haus hingga luka yang sulit sembuh.
Kondisi tersebut dikenal sebagai hiperglikemia. Keadaan ini terjadi ketika kadar glukosa dalam darah melebihi normal dan tubuh tidak mampu menggunakannya secara optimal, antara lain karena kekurangan insulin atau gangguan kerja insulin.
Hiperglikemia sering berkaitan dengan diabetes. Risiko juga lebih tinggi pada orang dengan obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi, riwayat stroke, penyakit jantung, infeksi berat, PCOS, atau riwayat keluarga diabetes.
Kapan gula darah dikatakan terlalu tinggi?
Gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami diabetes. Pemeriksaan gula darah tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Menurut American Diabetes Association (ADA) dalam Standards of Care 2026, diabetes dapat didiagnosis berdasarkan beberapa kriteria. Salah satunya adalah gula darah puasa minimal 126 mg/dL atau kadar glukosa 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral minimal 200 mg/dL. Pemeriksaan HbA1c minimal 6,5 persen juga dapat digunakan untuk diagnosis.
Pada orang dengan gejala khas hiperglikemia, pemeriksaan gula darah sewaktu minimal 200 mg/dL juga dapat memenuhi kriteria diagnosis. Jika tidak terdapat hiperglikemia yang jelas, dokter biasanya memerlukan pemeriksaan konfirmasi.
Dikutip dari Halodoc, berikut tanda-tanda gula darah tinggi yang perlu diperhatikan?
1. Sering merasa haus
Rasa haus yang muncul terus-menerus dapat menjadi salah satu tanda hiperglikemia.
Ketika kadar glukosa meningkat, ginjal bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan gula melalui urine. Proses tersebut turut meningkatkan kehilangan cairan dari tubuh.
Akibatnya, tubuh memunculkan rasa haus sebagai respons untuk mengganti cairan yang hilang.
2. Lebih sering buang air kecil
Sering buang air kecil, terutama pada malam hari, juga dapat berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi.
Kelebihan glukosa yang masuk ke urine menarik cairan sehingga volume urine meningkat. Kondisi ini kemudian membuat seseorang lebih sering berkemih.
Keluhan ini juga dapat berjalan bersamaan dengan rasa haus yang berlebihan.
3. Sakit kepala atau pusing
Kehilangan cairan akibat sering buang air kecil dapat menyebabkan dehidrasi.
Dehidrasi dapat memicu sakit kepala, pusing, mual, hingga penurunan kesadaran pada kondisi yang berat. Karena itu, keluhan tersebut perlu diperhatikan jika muncul bersama rasa haus dan frekuensi buang air kecil yang meningkat.
4. Tubuh mudah lelah
Mudah lelah merupakan keluhan yang cukup sering muncul ketika kadar gula darah tidak terkendali.
Glukosa seharusnya menjadi salah satu sumber energi bagi sel. Ketika insulin tidak mencukupi atau tubuh tidak merespons insulin dengan baik, pemanfaatan glukosa sebagai energi dapat terganggu.
Kehilangan cairan akibat sering berkemih juga dapat memperburuk rasa lelah.
5. Mudah merasa lapar
Rasa lapar yang muncul lebih sering dari biasanya dapat menjadi tanda lain.
Meski kadar glukosa dalam darah tinggi, sel tubuh dapat mengalami kesulitan memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi. Kondisi tersebut dapat membuat tubuh terus mengirimkan sinyal lapar.
Namun, menambah asupan makanan tanpa mengendalikan kadar gula dapat membuat hiperglikemia semakin sulit dikontrol.
6. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
Penurunan berat badan tanpa perubahan pola makan atau program diet perlu mendapat perhatian.
Ketika tubuh tidak dapat menggunakan glukosa secara efektif, tubuh dapat memanfaatkan cadangan lemak dan jaringan lain sebagai sumber energi. Proses tersebut dapat menyebabkan berat badan berkurang.
Penurunan berat badan yang tidak direncanakan juga termasuk salah satu gejala klasik hiperglikemia.
7. Penglihatan menjadi kabur
Kadar gula darah yang tinggi dapat memengaruhi kemampuan mata untuk melihat dengan jelas.
Perubahan kadar glukosa dapat memengaruhi cairan dan bentuk lensa mata sehingga fokus penglihatan ikut berubah. Hiperglikemia yang berlangsung lama juga dapat merusak pembuluh darah retina.
Karena itu, penglihatan kabur yang muncul berulang perlu diperiksa, terutama pada orang yang memiliki risiko diabetes.
8. Sering mengalami infeksi jamur
Kadar gula darah yang tinggi dapat berkaitan dengan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi tertentu.
Infeksi jamur lebih mudah muncul pada area tubuh yang lembap dan memiliki lipatan. Contohnya adalah sela jari, lipatan kulit, sekitar alat kelamin, atau area lain yang mudah berkeringat.
Pada perempuan, infeksi jamur vagina juga dapat menyebabkan keputihan yang tidak normal.
9. Kaki terasa nyeri, kesemutan, atau mati rasa
Hiperglikemia yang berlangsung lama dapat merusak saraf dan menyebabkan neuropati diabetik.
Keluhan sering muncul pada kaki. Penderitanya dapat merasakan kesemutan, rasa terbakar, nyeri, atau mati rasa.
Gangguan saraf juga dapat membuat seseorang tidak menyadari adanya luka pada kaki. Kondisi tersebut meningkatkan risiko komplikasi jika luka tidak segera ditangani.
10. Luka membutuhkan waktu lama untuk sembuh
Luka yang sulit sembuh menjadi tanda yang perlu diwaspadai, terutama pada penderita diabetes.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf dan pembuluh darah. Gangguan tersebut dapat menghambat aliran darah dan proses penyembuhan jaringan.
Luka kecil sekalipun perlu mendapat perhatian. Luka pada kaki yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi infeksi dan komplikasi serius.
Apa yang harus dilakukan jika mengalami gejala gula darah tinggi?
Jika beberapa gejala tersebut muncul bersamaan, pemeriksaan gula darah menjadi langkah penting. Dokter dapat memilih pemeriksaan gula darah puasa, gula darah sewaktu, tes toleransi glukosa oral, atau HbA1c sesuai kondisi pasien.
Orang yang sudah terdiagnosis diabetes perlu mengikuti rencana pengobatan yang diberikan dokter. Penanganan dapat mencakup perubahan pola makan, aktivitas fisik, obat antidiabetes, hingga insulin sesuai kebutuhan.
Pola hidup juga berperan dalam membantu mengendalikan kadar glukosa. Pilih makanan bergizi seimbang, batasi asupan gula berlebihan, dan lakukan aktivitas fisik secara teratur sesuai kemampuan.
Minum air putih yang cukup juga penting untuk mencegah dehidrasi. Namun, air putih bukan pengganti terapi medis ketika kadar gula sudah tinggi atau diabetes telah terdiagnosis.
Jangan menunggu sampai muncul komplikasi
Gejala gula darah tinggi terkadang berkembang perlahan dan tidak selalu terasa jelas. Karena itu, orang dengan faktor risiko diabetes sebaiknya tidak hanya mengandalkan munculnya gejala untuk melakukan pemeriksaan.
Pemeriksaan rutin dapat membantu menemukan gangguan kadar gula lebih awal. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar glukosa tinggi, konsultasikan hasil tersebut kepada dokter untuk menentukan langkah berikutnya. (*)






