Javanusa.com—Pernikahan tidak selalu berjalan mulus meski pasangan telah bertahun-tahun hidup bersama. Setiap tahap kehidupan rumah tangga menghadirkan persoalan berbeda yang membutuhkan penyesuaian.
Lamanya pernikahan juga tidak otomatis membuat pasangan terbebas dari konflik.
Psikolog Iswan Saputro menjelaskan pasangan akan melewati sejumlah fase dalam kehidupan pernikahan. Setiap fase memiliki tantangan yang dapat memengaruhi hubungan jika tidak dikelola dengan baik. Dikutip dari KlikDokter, berikut tahapan fasenya.
1. Tahun Pertama hingga Kedua: Masa Adaptasi
Dua tahun pertama menjadi periode ketika pasangan mulai benar-benar menyesuaikan kehidupan setelah menikah. Fase ini sering beriringan dengan honeymoon phase, tetapi pasangan tetap perlu membangun pola hidup bersama.
Kebiasaan yang sebelumnya bersifat pribadi kini harus diselaraskan. Pembagian tanggung jawab, komunikasi, hingga pengelolaan keuangan menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Beberapa tantangan yang dapat muncul antara lain:
-
- Menyesuaikan kebiasaan masing-masing.
- Membangun pola komunikasi saat menghadapi konflik.
- Beradaptasi dengan keluarga besar pasangan.
- Mengatur keuangan rumah tangga secara bersama.
2. Tahun Ketiga hingga Kelima: Rutinitas Mulai Terbentuk
Memasuki tahun ketiga sampai kelima, pasangan biasanya mulai menemukan pola kehidupan rumah tangga yang lebih stabil. Peran dan tanggung jawab juga semakin jelas.
Namun, rutinitas yang berulang dapat memunculkan kejenuhan. Pada tahap ini, pasangan perlu menjaga kedekatan agar hubungan tidak hanya berpusat pada pekerjaan dan kewajiban rumah tangga.
Tantangan yang mungkin muncul meliputi:
-
- Mempertahankan keintiman dan romantisme.
- Membagi waktu untuk pasangan dan keluarga besar.
- Mengelola tekanan dari berbagai peran.
- Menyeimbangkan keluarga, karier, dan kebutuhan pribadi.
3. Tahun Ketujuh: Saat Kejenuhan Bisa Muncul
Istilah seven-year itch atau “tujuh tahun gatal” sering digunakan untuk menggambarkan fase ketika pasangan menghadapi kejenuhan dalam hubungan.
Pada periode ini, tanggung jawab keluarga juga dapat bertambah, terutama bagi pasangan yang sudah memiliki anak. Kebutuhan pendidikan dan pengasuhan mulai memberikan tekanan baru dalam kehidupan rumah tangga.
Beberapa persoalan yang dapat dihadapi pasangan mencakup:
-
- Meningkatnya kebutuhan finansial untuk pendidikan anak.
- Munculnya kejenuhan dan keinginan terhadap perubahan.
- Perubahan harapan serta tujuan pribadi.
- Tantangan pengasuhan anak yang semakin kompleks.
4. Tahun ke-10 hingga ke-15: Menghadapi Perubahan
Setelah melewati satu dekade, pasangan biasanya sudah memiliki pemahaman lebih mendalam mengenai karakter dan kebiasaan masing-masing. Meski demikian, perubahan dalam kehidupan pribadi dapat kembali menguji hubungan.
Anak yang mulai beranjak remaja membutuhkan pola pengasuhan berbeda. Pada saat yang sama, perubahan karier dan aspirasi pribadi dapat membuat pasangan perlu kembali menyesuaikan prioritas.
Tantangan pada fase ini antara lain:
-
- Menghadapi kebutuhan pengasuhan anak remaja.
- Mengelola dampak krisis paruh baya terhadap hubungan.
- Menyesuaikan diri dengan perubahan karier.
- Memberikan dukungan terhadap aspirasi pribadi pasangan.
5. Memasuki 20 Tahun Pernikahan: Menjaga Kedekatan
Dua dekade bersama biasanya membuat pasangan memiliki banyak pengalaman dan fondasi hubungan yang lebih matang. Namun, fase ini juga menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan keluarga.
Anak-anak yang beranjak dewasa dan meninggalkan rumah dapat mengubah dinamika pasangan. Kondisi tersebut dikenal sebagai empty nest syndrome atau sindrom sarang kosong.
Selain itu, pasangan mulai menghadapi perubahan fisik dan kesehatan seiring bertambahnya usia. Peran keluarga juga berkembang ketika anak menikah dan membentuk keluarga baru.
Tantangan yang mungkin muncul meliputi:
-
- Beradaptasi ketika anak dewasa meninggalkan rumah.
- Menjalani peran baru sebagai mertua.
- Menyesuaikan diri dengan perubahan fisik akibat penuaan.
- Menemukan cara baru untuk menjaga kedekatan dan kebahagiaan.
Tidak Ada Usia Pernikahan yang Sepenuhnya Bebas Konflik
Setiap tahap pernikahan membawa dinamika yang berbeda. Karena itu, tidak ada satu usia pernikahan yang dapat disebut sebagai masa paling rawan bagi semua pasangan.
Kondisi setiap rumah tangga berbeda. Konflik dapat muncul karena perubahan kebutuhan, tekanan ekonomi, pengasuhan anak, karier, maupun perubahan tujuan hidup.
Komunikasi menjadi salah satu fondasi penting untuk menghadapi berbagai persoalan tersebut. Pasangan juga perlu membangun saling pengertian dan mempertahankan komitmen ketika menghadapi perbedaan.
Dengan kemampuan berkomunikasi dan menyelesaikan masalah bersama, pasangan memiliki peluang lebih besar untuk melewati berbagai ujian dalam perjalanan pernikahan. (*)






