Javanusa.com—Asma dapat kambuh ketika saluran napas bereaksi terhadap pemicu tertentu, seperti debu, asap rokok, perubahan cuaca, hingga stres. Kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari jika tidak dikendalikan dengan baik.
Meski belum dapat disembuhkan, penderita tetap dapat mengendalikan gejala asma. Mengenali pemicu, mengikuti pengobatan, serta menjaga kebiasaan sehari-hari menjadi bagian penting dalam cara mencegah asma kambuh.
Kenali pemicu sebelum asma kambuh
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan, asma merupakan penyakit peradangan kronis pada saluran napas. Kondisi ini dapat menyebabkan saluran napas menyempit dan menjadi lebih reaktif.
Gejala asma antara lain sesak napas, mengi, batuk, terutama pada malam atau dini hari, serta rasa berat atau nyeri pada dada.
Pemicu asma berbeda pada setiap orang. Karena itu, penderita perlu mengenali kondisi atau paparan yang sering mendahului munculnya gejala.
Kemenkes mencatat sejumlah pemicu yang perlu diwaspadai, antara lain:
-
- Tungau debu rumah
- Perubahan cuaca
- Bulu binatang
- Bau atau aroma yang menyengat
- Obat-obatan tertentu
- Asap rokok dan asap dari aktivitas rumah tangga
- Stres emosional
- Kelelahan fisik
- Serbuk sari bunga
Selain faktor tersebut, WHO menyebut infeksi virus, paparan asap atau uap bahan kimia, serta polusi udara sebagai pemicu asma yang umum.
Pahami fungsi obat pengontrol dan pelega
Pengobatan menjadi bagian penting dalam mengendalikan asma. Kemenkes membagi obat asma secara umum menjadi obat pengontrol dan obat pelega.
Obat pengontrol digunakan dalam jangka panjang untuk membantu mengendalikan peradangan pada saluran napas. Salah satu kandungannya berupa kortikosteroid.
Sementara itu, obat pelega bekerja lebih cepat untuk membantu melebarkan saluran napas ketika gejala muncul.
WHO juga menjelaskan bahwa inhaler steroid atau preventer membantu mengurangi peradangan di paru-paru dan mencegah serangan berat.
Penderita perlu menggunakan obat sesuai resep dan petunjuk dokter. Jangan menghentikan atau mengubah penggunaannya tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
5 cara mencegah asma kambuh
Dikutip dari Halodoc, ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu mengurangi risiko kekambuhan.
1. Kenali dan hindari pemicu
Cari tahu faktor yang sering memicu gejala asma. Jika debu menjadi masalah, bersihkan rumah secara rutin dan kurangi sumber debu.
Hindari asap rokok. Penderita yang sensitif terhadap bulu hewan juga perlu membatasi paparan sesuai kondisi masing-masing.
2. Gunakan obat sesuai anjuran dokter
Obat pengontrol perlu digunakan secara teratur sesuai petunjuk dokter, termasuk ketika gejala sedang tidak muncul.
Selain itu, bawa inhaler pelega saat bepergian. Langkah tersebut membantu penderita lebih siap menghadapi gejala yang muncul secara tiba-tiba.
3. Pastikan teknik penggunaan inhaler benar
Cara menggunakan inhaler turut menentukan seberapa efektif obat mencapai saluran napas.
WHO menyebut penggunaan spacer dapat membantu obat masuk lebih jauh ke saluran napas kecil di paru-paru. Penderita sebaiknya mempelajari teknik penggunaan inhaler dari tenaga kesehatan.
4. Lengkapi vaksinasi yang dianjurkan
Infeksi saluran pernapasan dapat memicu kekambuhan asma. Karena itu, vaksinasi yang dianjurkan, termasuk vaksin influenza dan pneumonia sesuai rekomendasi Kemenkes, dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan.
Konsultasikan jenis dan jadwal vaksinasi dengan dokter agar sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing.
5. Kelola stres dan tetap aktif
Stres emosional dan kelelahan fisik dapat menjadi pemicu pada sebagian penderita asma. Karena itu, penting menjaga keseimbangan aktivitas dan waktu istirahat.
Pola makan sehat serta aktivitas fisik juga perlu dijaga sesuai kemampuan. Keluarga dan teman dekat sebaiknya mengetahui kondisi penderita agar dapat membantu ketika serangan terjadi.
Kapan penderita asma perlu ke dokter?
Frekuensi gejala dapat menjadi tanda apakah asma sudah terkontrol. Segera konsultasikan kondisi kepada dokter jika gejala semakin sering muncul atau penderita kerap terbangun pada malam hari karena batuk dan sesak.
Kebutuhan terhadap inhaler pelega yang semakin sering juga perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa asma belum terkendali dan dokter perlu mengevaluasi kembali pengobatan.
Sementara itu, pertolongan medis darurat diperlukan ketika sesak dan mengi menjadi sangat berat. Kesulitan berbicara akibat sesak atau gejala yang tidak membaik setelah penggunaan obat pelega juga membutuhkan penanganan segera.
Dengan mengenali pemicu dan menjalankan pengobatan sesuai arahan dokter, penderita dapat membantu mengurangi risiko asma kambuh dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman. (*)






