Javanusa.com—Daun tapak liman (Elephantopus scaber L) telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional di berbagai daerah Indonesia.
Sejumlah penelitian menunjukkan tanaman liar ini berpotensi membantu mengurangi peradangan, meningkatkan daya tahan tubuh, hingga mendukung kesehatan jantung berkat kandungan senyawa bioaktif di dalamnya.
Daun tapak liman merupakan tanaman herbal dari famili Asteraceae yang tumbuh liar di berbagai wilayah Indonesia.
Tanaman ini dikenal dengan beberapa nama daerah, seperti tapak liman di Jawa, tutup bumi di kalangan masyarakat Melayu, serta ki batarah di Sunda.
Nama tapak liman berasal dari bentuk daunnya yang menyerupai telapak kaki gajah. Daunnya tumbuh membentuk roset di permukaan tanah, memiliki tekstur berbulu kasar, tepi bergerigi, dan berwarna hijau tua. Batangnya dapat mencapai tinggi sekitar 30–70 sentimeter dengan bunga kecil berwarna ungu di bagian pucuk.
Meski sering disamakan dengan daun sirih merah (Piper crocatum), tapak liman merupakan spesies yang berbeda. Tanaman ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di Indonesia, India, dan sejumlah negara Asia.
Berbagai penelitian menunjukkan daun tapak liman mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, seskuiterpen lakton, alkaloid, saponin, tanin, terpenoid, dan steroid yang diduga berperan dalam berbagai aktivitas biologis.
1. Membantu meredakan peradangan
Salah satu manfaat daun tapak liman yang paling banyak diteliti adalah sifat antiinflamasinya. Senyawa aktif dalam tanaman ini diketahui mampu menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX), yaitu enzim yang berperan dalam pembentukan zat pemicu peradangan di dalam tubuh.
Selain itu, ekstrak etanol daun tapak liman juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi melalui metode pengujian DPPH. Aktivitas tersebut membantu menangkal radikal bebas yang berpotensi merusak sel.
Karena itu, tanaman ini dinilai berpotensi membantu menurunkan risiko penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, kanker, dan penuaan dini. Beberapa penelitian bahkan melaporkan kemampuan antioksidannya termasuk tinggi dibandingkan tanaman herbal sejenis.
2. Berpotensi meningkatkan sistem imun
Daun tapak liman juga memiliki potensi sebagai imunomodulator. Penelitian yang diterbitkan dalam Tropical Journal of Pharmaceutical Research menemukan bahwa pemberian ekstrak etanol daun tapak liman pada tikus putih meningkatkan aktivitas makrofag dan jumlah leukosit secara signifikan.
Makrofag merupakan sel imun yang berfungsi melawan infeksi sekaligus membersihkan sel tubuh yang rusak. Hasil tersebut menunjukkan ekstrak daun tapak liman berpotensi memperkuat sistem kekebalan bawaan.
3. Mendukung kesehatan jantung
Hingga kini belum tersedia uji klinis pada manusia yang membuktikan manfaat daun tapak liman terhadap kadar kolesterol.
Namun, penelitian pada hewan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Studi yang dipublikasikan melalui Science Alert melaporkan ekstrak daun tapak liman pada tikus diabetes mampu menurunkan kadar kolesterol total, LDL, VLDL, dan trigliserida, sekaligus meningkatkan kadar HDL.
Peneliti menduga efek tersebut berkaitan dengan meningkatnya sekresi insulin yang memengaruhi pembentukan kolesterol dan asam lemak.
4. Membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan
Selain memiliki sifat antioksidan, daun tapak liman juga memperlihatkan aktivitas antibakteri. Penelitian dalam jurnal Biospecies menunjukkan ekstrak metanol daun tapak liman mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Shigella dysenteriae.
Kedua bakteri tersebut diketahui sering menyebabkan infeksi saluran cerna, termasuk diare dan disentri. Aktivitas antibakteri ini dinilai berpotensi membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme di dalam usus.
5. Berpotensi membantu menurunkan demam
Beberapa penelitian pada hewan juga menemukan efek antipiretik dari daun tapak liman. Riset yang dipublikasikan oleh Fakultas MIPA Universitas Garut menunjukkan pemberian ekstrak etanol 70 persen daun tapak liman pada tikus putih jantan galur Wistar mampu menurunkan suhu tubuh pada dosis tertentu.
Meski demikian, efektivitas dan keamanan penggunaannya sebagai penurun demam pada manusia masih memerlukan penelitian klinis lebih lanjut.
Cara mengolah daun tapak liman
Pengolahan yang tepat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif yang diperoleh.
Menurut penelitian dalam Benzena Pharmaceutical Scientific Journal, beberapa metode yang umum digunakan antara lain:
-
- Rebusan: Rebus 7–10 lembar daun segar atau 3–5 gram daun kering dalam tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Air rebusan dapat diminum dua hingga tiga kali sehari.
- Seduhan: Daun dapat diseduh seperti teh. Metode ini dinilai efektif mengekstraksi kandungan flavonoid.
- Tumbukan: Daun yang telah dihaluskan dapat digunakan sebagai obat luar dengan cara ditempelkan pada area yang membutuhkan.
Sementara itu, penelitian dalam Jurnal Farmasi Vol. 13 No. 1 Tahun 2024 menyebutkan proses ekstraksi selama lima menit pada suhu 95 derajat Celsius menghasilkan kadar flavonoid yang optimal.
Hal yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi
Walaupun telah lama digunakan sebagai obat tradisional, penggunaan daun tapak liman tetap memerlukan kehati-hatian.
Beberapa kelompok sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsinya, terutama ibu hamil, ibu menyusui, serta orang yang sedang menjalani terapi obat tertentu karena berpotensi terjadi interaksi.
Penggunaan juga harus dihentikan apabila muncul reaksi alergi, seperti ruam, gatal, atau sesak napas.
Untuk penyakit kronis maupun kondisi medis serius, daun tapak liman sebaiknya dimanfaatkan sebagai terapi pendamping, bukan pengganti pengobatan medis. Konsultasi dengan dokter tetap diperlukan sebelum menggunakan tanaman herbal ini sebagai bagian dari pengobatan. (*)






