Padang, Javanusa—Kota Padang tengah mengambil langkah progresif untuk mengukuhkan posisinya di kancah kuliner dunia.
Di balik kelezatan rendang dan aneka hidangan khas yang telah melegenda, subsektor gastronomi daerah ini ternyata menyimpan perputaran roda ekonomi yang masif dan melibatkan puluhan ribu pahlawan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data pencapaian ekonomi, subsektor gastronomi tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp 81 miliar per tahun.
Pertumbuhan ini didorong oleh keberadaan 47.000 unit usaha serta industri pengolahan makanan dan minuman.
Skala industri ini sukses menyerap tenaga kerja hingga 53.048 orang dari 33.604 Industri Kecil Menengah (IKM).
Guna menjaga kualitas sumber daya manusianya, Kota Padang juga telah memiliki 42 lembaga pelatihan kerja yang berfokus pada keahlian gastronomi.
Kegiatan ekonomi bernilai puluhan miliar ini didukung oleh rantai pasok bahan baku segar dari dalam Kota Padang maupun kawasan penyangga di Sumbar, yang didistribusikan secara berkelanjutan melalui pasar tradisional.
Sebagai upaya menjaga keberlanjutan sektor hulu hingga hilir, Pemerintah Kota (Pemko) Padang telah mengeksekusi serangkaian pembangunan infrastruktur strategis.
Mulai dari revitalisasi pasar tradisional, pembangunan gedung sentra rendang, pendirian rumah kemasan dan rumah wirausaha, hingga penyediaan balai pembibitan ikan dan rumah potong hewan.
Kini, seluruh potensi besar tersebut tengah disatukan dalam sebuah cetak biru untuk membawa Kota Padang melangkah ke panggung dunia.
Pemko Padang dan Tim Ahli Roadmap Gastronomi menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) akhir Hexa Helix pada Kamis (30/7/2026) di fasilitas Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center Padang.
Agenda utama dari diskusi lintas sektor ini adalah pematangan tahapan penyusunan dokumen rencana strategi atau peta jalan (Roadmap) Gastronomi Kota Padang.
Dokumen ini menjadi langkah krusial dalam persiapan pendaftaran (submission) Padang Road to Gastronomy City menuju keanggotaan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada tahun 2027 mendatang.
Keseriusan agenda ini tercermin dari penerapan konsep kolaborasi “Hexa Helix” yang melibatkan enam unsur penting dalam pembangunan daerah.
Tidak hanya dihadiri oleh jajaran pemerintahan tetapi juga melibatkan perwakilan akademisi dari Universitas Negeri Padang dan Universitas Andalas, pelaku bisnis hingga berbagai asosiasi dan komunitas. Tidak ketinggalan, unsur media massa juga turut dilibatkan untuk memperkuat amplifikasi program.
Berdasarkan draf peta jalan yang dipaparkan, strategi pengembangan gastronomi Padang dirancang untuk lima tahun ke depan (2026-2030) dengan berpijak pada empat pilar utama.
Rencana tersebut meliputi kebijakan strategis dan konsolidasi pada 2026, aktivasi ekosistem gastronomi pada 2027, inovasi dan ekspansi pada 2028, serta pemantapan keberlanjutan ekosistem pada 2029 hingga 2030.
Seluruh eksekusi program ini akan dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat kota, kecamatan, hingga unit pelaksana di akar rumput yakni kelurahan.
Untuk merealisasikan rencana aksi besar tersebut, tim telah merancang estimasi total anggaran mencapai Rp 60 miliar selama periode empat tahun, atau sekitar Rp 15 miliar per tahun.
Pembiayaan ini dirancang berbasis kolaborasi, yakni 65 persen dari APBD, 20 persen dari CSR atau kemitraan, dan 15 persen dari skema hibah internasional serta pembiayaan hijau (green financing).
Ketua Tim Ahli, Haris Satria, memberikan penjelasan terkait pembagian porsi dan filosofi di balik rancangan anggaran tersebut.
Estimasi anggaran dirancang secara realistis berdasarkan prinsip kelayakan, koherensi, keterlaksanaan, dan keberlanjutan sehingga mampu mendukung implementasi setiap inisiatif secara efektif.
“Alokasi 60 persen pada program lokal ditujukan memperkuat ekosistem gastronomi Kota Padang, sedangkan 40 persen mendukung kolaborasi internasional dan kontribusi aktif dalam jejaring UCCN,” paparnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, melalui sinergi erat antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat, ekosistem gastronomi Kota Padang dipastikan siap bertransformasi.
Bukan hanya sekadar menjaga warisan resep leluhur, melainkan memastikannya tetap menjadi mesin penggerak ekonomi daerah yang berdaya saing global dan diakui secara resmi oleh UNESCO.
Sementara itu, Ketua LPPM Universitas Negeri Padang Okki Trinanda, memaparkan tiga luaran utama dari penyusunan roadmap, yakni profil gastronomi Kota Padang, model pengembangan Padang City of Gastronomy, serta rencana aksi gastronomi Kota Padang untuk lima tahun ke depan.
Model Pengembangan Padang City of Gastronomy menetapkan empat tujuan akhir, yaitu menjadikan Padang sebagai kota gastronomi yang kompetitif, berkelanjutan, berjejaring global, dan siap memenuhi standar UNESCO.
“Keempat tujuan tersebut dicapai melalui empat tahapan roadmap selama lima tahun, yaitu Kebijakan Strategis dan Konsolidasi pada 2026, Aktivasi Ekosistem Gastronomi pada 2027, Inovasi dan Pengembangan (Ekspansi) pada 2028, serta Keberlanjutan Ekosistem Gastronomi pada 2029-2030,” jelasnya.
Keempat tahapan tersebut dijabarkan ke dalam total 19 strategi dan diturunkan menjadi 35 kegiatan implementatif yang dilaksanakan secara berjenjang.
Mulai dari tingkat Kota Padang sebagai lokomotif dan pusat koordinasi, tingkat kecamatan sebagai simpul koordinasi dan agregasi potensi kelurahan, hingga tingkat kelurahan sebagai unit pelaksana berbasis komunitas, pelaku usaha, resep, bahan baku, dan ruang kreatif. (*)






