Javanusa.com—Kulit bawang merah yang biasanya langsung masuk tempat sampah ternyata menyimpan sejumlah senyawa bioaktif.
Berbagai penelitian menunjukkan bagian terluar bawang ini berpotensi mendukung kesehatan dan memiliki kegunaan lain.
Kulit bawang merah kerap dianggap sebagai limbah dapur. Teksturnya yang tipis dan licin membuat bagian tersebut jarang dimanfaatkan dalam pengolahan makanan.
Namun, sejumlah penelitian menemukan kandungan flavonoid dan polifenol dalam kulit bawang merah. Senyawa tersebut memiliki aktivitas antioksidan dan menunjukkan berbagai potensi dalam penelitian laboratorium maupun pada hewan.
Berikut tujuh manfaat kulit bawang merah yang telah diteliti.
1. Berpotensi membantu melindungi ginjal
Kulit bawang merah atau Allium cepa memiliki kandungan flavonoid yang cukup tinggi. Kandungan antioksidan tersebut menjadi salah satu alasan peneliti mengkaji potensinya terhadap kerusakan ginjal.
Sebuah penelitian dalam Journal of Agromedicine and Medical Sciences menguji ekstrak kulit bawang merah pada tikus Wistar (Rattus norvegicus).
Penelitian tersebut melihat kemampuan antioksidan ekstrak kulit bawang dalam mengurangi stres oksidatif pada ginjal akibat paparan diazinon. Pestisida ini banyak digunakan dalam kegiatan pertanian.
Paparan residu diazinon pada bahan pangan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Meski demikian, hasil penelitian pada hewan belum cukup untuk menyimpulkan manfaat yang sama pada manusia.
2. Berpotensi mengurangi stres oksidatif pada hati
Diazinon juga dapat memberikan efek hepatotoksik karena proses metabolismenya berlangsung di hati. Kondisi tersebut mendorong penelitian mengenai bahan alami yang berpotensi mengurangi dampaknya.
Penelitian dalam Qanun Medika – Medical Journal Faculty of Medicine Muhammadiyah Surabaya menguji ekstrak etanol kulit bawang merah pada tikus.
Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak sebanyak 1.200 mg/kg dapat menurunkan stres oksidatif pada hati akibat paparan diazinon.
Temuan tersebut masih berasal dari penelitian pada hewan. Karena itu, peneliti masih membutuhkan studi lanjutan untuk mengetahui keamanan dan efektivitasnya pada manusia.
3. Memiliki potensi antikanker
Kulit bawang merah juga menarik perhatian karena mengandung quercetin. Senyawa flavonoid ini memiliki aktivitas antioksidan serta berpotensi memengaruhi pertumbuhan sel abnormal.
Studi yang dimuat dalam Biomedicine & Pharmacotherapy menunjukkan potensi kulit bawang merah dalam menekan perkembangan kanker payudara.
Salah satu mekanisme yang diteliti berkaitan dengan kemampuan quercetin menghambat pembelahan sel abnormal. Senyawa tersebut juga dapat mendorong apoptosis atau kematian sel terprogram.
Meski menjanjikan, temuan tersebut belum berarti kulit bawang merah dapat digunakan sebagai terapi kanker. Penelitian klinis tetap diperlukan untuk membuktikan manfaat dan keamanannya pada pasien.
4. Berpotensi membantu mengontrol obesitas dan gula darah
Manfaat kulit bawang merah juga berkaitan dengan metabolisme tubuh. Kandungan quercetin dalam ekstraknya menjadi salah satu senyawa yang banyak mendapat perhatian dalam penelitian.
Sebuah penelitian menemukan konsumsi kapsul ekstrak kulit bawang merah yang kaya quercetin pada wanita dengan obesitas berkaitan dengan penurunan lingkar pinggang.
Penelitian lain pada tikus menunjukkan ekstrak etil alkohol kulit bawang merah memiliki aktivitas antihiperglikemik. Ekstrak tersebut juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin.
Temuan ini menunjukkan potensi kulit bawang merah dalam membantu pengendalian kadar gula darah. Namun, manfaat tersebut belum dapat disamakan dengan efek obat diabetes pada manusia.
5. Berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular
Kadar kolesterol LDL yang tinggi menjadi salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular. Karena itu, peneliti juga menguji kemampuan ekstrak kulit bawang merah terhadap profil lipid.
Dalam penelitian selama 12 minggu, tikus mendapatkan suplementasi ekstrak kulit bawang merah dengan dosis 100 mg/kg dan 200 mg/kg berat badan.
Hasilnya menunjukkan penurunan kadar LDL sekaligus peningkatan kadar HDL atau kolesterol baik.
Perubahan profil lipid tersebut menunjukkan adanya potensi manfaat terhadap kesehatan jantung. Namun, pemanfaatan kulit bawang merah sebagai terapi penyakit kardiovaskular masih membutuhkan bukti penelitian yang lebih kuat.
6. Bisa dimanfaatkan sebagai pengawet makanan
Potensi kulit bawang merah tidak hanya berkaitan dengan kesehatan. Kandungan senyawa aktifnya juga dapat dimanfaatkan dalam pengolahan dan pengawetan makanan.
Penelitian dalam Vietnam Journal of Chemistry menemukan ekstraksi kulit bawang merah menggunakan etanol 70 persen menghasilkan kadar polifenol dan flavonoid yang tinggi pada kondisi tertentu.
Ekstrak tersebut menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Bacillus subtilis, Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus.
Aktivitas antibakteri tersebut membuka peluang pemanfaatan ekstrak kulit bawang merah sebagai bahan pengawet alami, termasuk untuk membantu memperpanjang masa simpan ikan.
7. Membantu pertumbuhan akar tanaman ubi kayu
Kulit bawang merah juga dapat dimanfaatkan dalam bidang pertanian. Salah satu penelitian menguji ekstraknya terhadap pertumbuhan akar pada stek batang ubi kayu.
Penelitian Septiani Ayda menunjukkan pemberian ekstrak kulit bawang merah memengaruhi pertumbuhan akar stek batang ubi kayu.
Konsentrasi 20 persen memberikan hasil paling efektif untuk meningkatkan jumlah akar. Sementara itu, konsentrasi 30 persen menunjukkan hasil paling baik terhadap panjang akar.
Pertumbuhan akar yang lebih baik dapat mendukung perkembangan tanaman. Namun, pemanfaatan ekstrak kulit bawang merah tetap perlu disesuaikan dengan jenis tanaman dan kondisi budidaya.
Tidak semua manfaat sudah terbukti pada manusia
Berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa kulit bawang merah memiliki potensi karena mengandung senyawa seperti flavonoid, quercetin, dan polifenol.
Namun, sebagian temuan masih berasal dari penelitian laboratorium atau hewan. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung menganggap kulit bawang merah sebagai obat untuk penyakit tertentu.
Penelitian pada manusia dengan desain yang lebih kuat masih diperlukan untuk memastikan dosis, efektivitas, keamanan, serta kemungkinan interaksi dengan obat.
Dengan demikian, kulit bawang merah memang memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Namun, bukti ilmiah yang tersedia belum cukup untuk menjadikannya sebagai pengganti pengobatan medis. (*)






