Javanusa.com—Banyak pelari mengenakan jaket saat berolahraga demi kenyamanan atau sekadar menunjang penampilan.
Namun, kebiasaan ini tidak selalu aman. Penggunaan jaket saat lari harus disesuaikan dengan kondisi cuaca dan jenis bahan agar tidak meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Lari merupakan olahraga kardio yang digemari berbagai kalangan, terutama masyarakat perkotaan. Selain memperhatikan sepatu dan pakaian olahraga, sebagian pelari memilih mengenakan jaket saat berlari.
Pada dasarnya, lari pakai jaket tidak menjadi masalah selama disesuaikan dengan suhu lingkungan. Jaket justru dapat membantu menjaga suhu tubuh ketika cuaca dingin atau angin bertiup kencang.
Sebaliknya, mengenakan jaket tebal saat cuaca panas tidak disarankan. Saat berlari, jantung bekerja lebih cepat untuk mengalirkan darah kaya oksigen ke otot yang aktif sehingga suhu tubuh ikut meningkat.
Tubuh kemudian menghasilkan keringat sebagai mekanisme alami untuk membuang panas. Jika jaket menghambat penguapan keringat, proses pendinginan tubuh menjadi kurang efektif dan suhu tubuh dapat terus meningkat.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga serangan panas (heat stroke). Karena itu, kondisi cuaca perlu menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan memakai jaket saat jogging.
Berkeringat Lebih Banyak Tidak Berarti Lemak Lebih Cepat Terbakar
Masih banyak orang percaya bahwa memakai jaket saat lari dapat mempercepat pembakaran lemak karena tubuh berkeringat lebih banyak.
Padahal, jumlah keringat bukan indikator banyaknya lemak yang terbakar. Keringat berfungsi menjaga suhu tubuh tetap stabil, bukan sebagai tanda peningkatan pembakaran lemak.
Menggunakan jaket saat tubuh sudah kepanasan justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan selama berolahraga. Berikut risiko lari memakai jaket saat cuaca panas:
1. Dehidrasi berat
Berlari menggunakan jaket saat cuaca panas membuat tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat. Akibatnya, cairan dan elektrolit hilang lebih cepat sehingga risiko dehidrasi meningkat.
Gejala dehidrasi berat meliputi pusing, tubuh terasa lemas, cepat lelah, hingga kebingungan atau disorientasi.
2. Heat exhaustion
Jaket berbahan tebal, termasuk hoodie, dapat memperbesar risiko heat exhaustion jika digunakan saat berolahraga di bawah terik matahari.
Kondisi ini terjadi akibat paparan panas berkepanjangan yang disertai kehilangan cairan dan elektrolit. Gejalanya antara lain lemas, pusing, tekanan darah menurun, kelelahan, bahkan pingsan.
3. Heat stroke
Risiko yang lebih serius adalah heat stroke, yaitu kondisi ketika suhu tubuh meningkat sangat cepat dan tubuh tidak lagi mampu mendinginkan diri secara optimal.
Jika tidak segera ditangani, heat stroke dapat menyebabkan kerusakan organ hingga mengancam jiwa.
Gejalanya meliputi demam tinggi mencapai 40 derajat Celsius atau lebih, denyut jantung cepat, kepala terasa berkunang-kunang, hingga kehilangan kesadaran.
4. Performa lari menurun
Selain berdampak pada kesehatan, penggunaan jaket tebal juga dapat mengurangi kenyamanan saat berlari.
Bobot pakaian yang lebih berat dapat membatasi gerakan, sementara suhu tubuh yang terus meningkat membuat tubuh lebih cepat lelah. Akibatnya, latihan menjadi kurang efektif dan stamina menurun lebih cepat.
Tips Aman Menggunakan Jaket Saat Lari
1. Perhatikan kondisi cuaca
Jaket lebih tepat digunakan ketika udara dingin atau berangin. Dalam kondisi tersebut, jaket membantu menjaga suhu tubuh tetap hangat sekaligus mengurangi paparan angin langsung.
Sebaliknya, hindari memakai jaket saat cuaca panas karena dapat meningkatkan risiko gangguan akibat panas berlebih.
2. Pilih bahan yang nyaman
Jenis bahan menjadi faktor penting saat memilih jaket olahraga. Hindari bahan parasut yang kurang mampu mengalirkan udara dan menyerap keringat.
Pilih jaket berbahan ringan, memiliki sirkulasi udara yang baik (breathable), serta mampu mengeringkan keringat dengan cepat.
Untuk pakaian olahraga, bahan seperti quick-dry, poliester, dan polipropilena juga lebih direkomendasikan karena mampu membantu menjaga tubuh tetap nyaman selama berlari.
3. Kenali sinyal tubuh
Segera hentikan aktivitas apabila muncul tanda-tanda seperti pusing, mual, kulit memerah, atau kelelahan berlebihan saat menggunakan jaket.
Gejala tersebut dapat menjadi tanda awal heat exhaustion maupun heat stroke. Beristirahat di tempat teduh dan mendinginkan tubuh menjadi langkah yang perlu segera dilakukan.
4. Utamakan Keamanan Dibanding Penampilan
Memakai jaket saat lari bukanlah hal yang dilarang. Namun, manfaatnya lebih terasa ketika digunakan pada cuaca dingin atau berangin.
Saat suhu udara tinggi, penggunaan jaket justru dapat meningkatkan risiko dehidrasi, heat exhaustion, heat stroke, hingga menurunkan performa olahraga.
Karena itu, pilih pakaian yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan selalu utamakan kenyamanan agar manfaat lari dapat diperoleh secara maksimal. (*/red)






