Javanusa.com—Olahraga di tengah kabut asap bukan pilihan yang aman. Paparan polutan dari kebakaran hutan dapat mengganggu sistem pernapasan hingga meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak kabut asap sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Anjuran tersebut juga berlaku untuk kegiatan olahraga yang membutuhkan paparan udara terbuka.
Dilansir dari KlikDokter, kabut asap termasuk bentuk polusi udara yang dapat meningkatkan risiko infeksi akibat virus dan bakteri. Salah satu gangguan yang dapat muncul ialah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kabut Asap Dapat Memicu ISPA dan Asma
Menghirup udara yang tercemar kabut asap dapat menimbulkan keluhan dalam waktu relatif singkat. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk dan iritasi pada tenggorokan.
Risiko tersebut menjadi lebih serius bagi orang yang memiliki kerentanan terhadap penyakit pernapasan. Kabut asap dari kebakaran hutan juga dapat memicu serangan asma.
Serangan asma dapat ditandai dengan batuk, mengi, dan sesak napas. Pada kondisi berat, penderita bahkan dapat mengalami kehilangan kesadaran.
Namun, dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan. Paparan dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi fungsi organ lain.
Paparan Jangka Panjang Berisiko bagi Jantung dan Paru-paru
Kabut asap membawa materi partikulat (particulate matter) yang dapat masuk ke dalam sistem pernapasan. Partikel tersebut juga dapat memicu peradangan serta penyempitan pembuluh darah.
Kondisi itu dapat meningkatkan risiko serangan jantung pada kelompok rentan. Risikonya lebih besar pada orang yang memiliki riwayat serangan jantung atau faktor risiko penyakit jantung koroner.
Paparan kabut asap dalam jangka panjang juga dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan lainnya.
Salah satunya ialah penurunan fungsi paru secara permanen, terutama pada anak-anak. Studi yang dikutip sumber tersebut menemukan kapasitas paru anak dapat berkurang hingga 20 persen akibat paparan kabut asap terus-menerus.
Kabut asap juga dapat membawa logam berat, termasuk timbal, merkuri, dan arsen. Jika paparan berlangsung terus-menerus, zat tersebut berpotensi terakumulasi di dalam tubuh.
Arsen berkaitan dengan peningkatan risiko kanker. Sementara itu, merkuri dapat menyebabkan kerusakan saraf dan kelainan bawaan lahir.
Adapun timbal dapat mengganggu fungsi otak dan menyebabkan masalah belajar pada anak.
Selain itu, polutan dari kabut asap dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Paparan polutan dapat memicu pengerasan sekaligus penyempitan pembuluh darah.
Sebaiknya Tunda Olahraga di Luar Ruangan
Melihat berbagai risiko tersebut, masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas luar ruangan ketika kabut asap sedang pekat.
Menunda olahraga di ruang terbuka menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan polutan. Pilihan yang lebih aman ialah berolahraga di dalam ruangan dengan kualitas udara yang baik.
Jika seseorang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi partikel tinggi dapat membantu mengurangi paparan. Sumber tersebut menyarankan masker berlabel N95, N97, atau N99.
Waktu aktivitas juga perlu diperhatikan. Pilih waktu ketika kualitas udara lebih baik dan hindari beraktivitas saat konsentrasi polutan sedang tinggi.
Jangan memaksakan diri berolahraga ketika muncul batuk, sesak napas, iritasi tenggorokan, atau keluhan pernapasan lainnya. Mengurangi paparan sejak awal dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap. (*)






