Tetap Harus Bekerja Saat Kabut Asap? Ini Tips Menjaga Kesehatan

Penulis -

Selasa, 8 September 2026 - 20:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi bekerja di tengah kabut asap. (Foto: AI Generated)

Ilustrasi bekerja di tengah kabut asap. (Foto: AI Generated)

Javanusa.com—Kabut asap tidak selalu membuat aktivitas kerja bisa dihentikan. Sebagian pekerja tetap harus menjalankan tugas meski kualitas udara memburuk, terutama mereka yang bekerja di luar ruangan.

Paparan polusi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan. Risiko tersebut dapat bertambah ketika pekerjaan menuntut aktivitas fisik yang membuat seseorang bernapas lebih cepat dan dalam.

Karena itu, pekerja perlu mengurangi paparan polusi sebanyak mungkin. Dilansir dari Klik Medika, berikut langkah perlindungan diri menyesuaikan kondisi tempat dan jenis pekerjaan.

1. Periksa Kualitas Udara Sebelum Berangkat

Langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengetahui kondisi udara di wilayah tempat bekerja. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan sebelum memulai aktivitas.

Ketika kualitas udara mencapai tingkat yang tidak sehat, pekerja dapat membicarakan penyesuaian jadwal atau lokasi kerja dengan pihak terkait. Penyesuaian juga dapat mencakup perubahan metode kerja jika kondisi memungkinkan.

2. Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Pekerja yang tidak harus berada di luar ruangan sebaiknya mengurangi aktivitas tambahan. Perjalanan atau kegiatan yang tidak mendesak dapat ditunda sampai kondisi udara membaik.

Saat waktu istirahat tiba, pilih lokasi dengan kualitas udara yang lebih baik. Berada di dalam ruangan yang terlindungi dapat membantu mengurangi durasi paparan.

3. Pilih Masker yang Mampu Menyaring Partikel

Masker yang dirancang untuk menyaring partikel udara dapat membantu mengurangi paparan polutan. Manfaatnya akan lebih optimal jika masker digunakan dengan cara yang tepat.

Pastikan masker menutup hidung dan mulut serta terpasang cukup rapat. Celah pada sisi masker dapat membuat udara yang tercemar masuk melalui bagian yang tidak terlindungi.

4. Kurangi Aktivitas Fisik Berat

Aktivitas fisik berat membuat tubuh membutuhkan lebih banyak udara. Akibatnya, jumlah udara yang masuk ke saluran pernapasan juga dapat meningkat.

Baca Juga :  Taman Bacaan Terbuka Dispusip Padang Bikin Betah Membaca, Pengunjung Minta Koleksi Buku Ditambah

Jika pekerjaan memungkinkan, kurangi aktivitas yang membutuhkan tenaga besar ketika kualitas udara sedang buruk. Penyesuaian tugas dapat menjadi salah satu cara untuk menekan paparan.

5. Perhatikan Kondisi Udara di Dalam Ruangan

Bekerja di dalam gedung tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari polusi. Udara dari luar dapat masuk melalui pintu, jendela, maupun sistem ventilasi.

Karena itu, pengelolaan pintu dan jendela perlu menyesuaikan kondisi udara luar. Tempat kerja yang memiliki sistem penyaring udara juga perlu memastikan perangkat tersebut bekerja dengan baik.

Perawatan filter menjadi bagian penting. Filter yang kotor atau tidak terawat dapat mengurangi efektivitas sistem penyaringan udara.

6. Hindari Polusi dari Sumber Lain

Ketika kualitas udara luar memburuk, hindari menambah sumber polusi di lingkungan kerja. Merokok di sekitar tempat kerja dapat memperburuk paparan asap dan partikel.

Aktivitas lain yang menghasilkan asap juga sebaiknya dihindari. Menjaga lingkungan kerja tetap bebas dari sumber asap menjadi bagian penting dalam perlindungan kesehatan.

7. Tetap Cukupi Kebutuhan Cairan

Pekerja tetap perlu memenuhi kebutuhan cairan sepanjang hari. Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk menjaga hidrasi.

Namun, minum air dalam jumlah lebih banyak tidak dapat melindungi tubuh dari dampak polusi udara. Hidrasi hanya menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh.

Upaya terpenting tetap mengurangi paparan terhadap udara yang tercemar. Karena itu, pekerja perlu mengutamakan pengurangan waktu dan intensitas paparan.

Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada

Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap polusi udara. Pekerja dengan asma, penyakit paru, penyakit jantung, atau kondisi kesehatan tertentu dapat menghadapi risiko lebih tinggi.

Kelompok tersebut perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi tubuh selama bekerja. Jika memiliki rekomendasi khusus dari dokter, ikuti anjuran tersebut, terutama ketika kondisi kesehatan sedang tidak stabil.

Baca Juga :  Hanya Dua Kota di Indonesia, Padang Raih Penghargaan Kota Wakaf 2024
Kenali Gejala Akibat Paparan Kabut Asap

Tubuh dapat memberikan tanda ketika mulai mengalami gangguan akibat paparan udara tercemar. Beberapa keluhan yang perlu diperhatikan antara lain batuk yang semakin sering, tenggorokan teriritasi, sesak napas, dan dada terasa berat.

Gejala lain dapat berupa napas berbunyi, pusing, serta kelelahan yang terasa tidak biasa. Jika keluhan muncul saat bekerja di luar, segera cari tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.

Hentikan aktivitas yang dapat memperburuk kondisi. Jangan mengabaikan gejala hanya demi menyelesaikan pekerjaan.

Jangan Tunda Pertolongan Medis

Beberapa gejala membutuhkan pertolongan medis segera. Sesak napas berat, nyeri dada, pingsan, kebingungan, serta bibir atau wajah membiru merupakan tanda bahaya.

Kesulitan bernapas yang terus memburuk juga memerlukan penanganan segera. Dalam kondisi tersebut, jangan memaksakan diri untuk tetap bekerja.

Menjaga kesehatan saat bekerja di tengah kabut asap bukan hanya soal menggunakan masker. Mengurangi paparan, mengatur aktivitas, memperhatikan kualitas udara, dan mengenali tanda bahaya menjadi langkah yang saling melengkapi. (*)

Berita Terkait

Benarkah Kacang Tanah Pemicu Asam Urat? Cek Fakta dan Porsi Amannya
Bintik Kasar Seperti Kulit Ayam di Lengan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Sering Kurang Tidur? Kenali Gejala, Dampak Kesehatan dan Cara Mengatasinya
7 Pilihan Lauk untuk Penderita Darah Tinggi, Sehat dan Mudah Diolah
Anak Makan Banyak tapi Tetap Kurus? Kenali 7 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Benarkah Nanas Bisa Meredakan Batuk? Ini Penjelasan dan Faktanya
7 Cara Alami Meredakan Ambeien Tanpa Obat, Efektif Kurangi Nyeri dan Bengkak
7 Minuman yang Bisa Membantu Menurunkan Kolesterol, dari Teh Hijau hingga Susu Kedelai

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:26 WIB

Tanpa Tegar, Sumsel United Siap Tempur Lawan Semen Padang

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:24 WIB

Stadion Haji Agus Salim Padang Punya Kapasitas 12.067 Penonton, Ini Fasilitasnya

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:42 WIB

Genoa Bungkam Juventus 2-0, Bianconeri Tertahan di Peringkat 8

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Hasil Carabao Cup: Manchester City Singkirkan Brighton Lewat Adu Penalti 4-3

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Tanpa Harry Kane, Bayern Munich Bantai Magdeburg 6-1 di DFB Pokal

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:10 WIB

Liverpool Singkirkan Chelsea Lewat Adu Penalti, Lolos ke Perempat Final Carabao Cup

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:04 WIB

Fortuna Sittard Singkirkan Sparta Rotterdam, Justin Hubner Cs Lolos ke Babak Kedua Piala KNVB

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:55 WIB

AC Milan Dibantai Bologna 2-4 di San Siro, Samuel Mbangula Cetak Hattrick

Berita Terbaru

Sumsel United siap menghadapi Semen Padang di Pegadaian Championship 2026/2027. (Foto: ileague.id)

Liga 2

Tanpa Tegar, Sumsel United Siap Tempur Lawan Semen Padang

Kamis, 29 Okt 2026 - 18:26 WIB