Javanusa.com—Kabut asap tidak selalu membuat aktivitas kerja bisa dihentikan. Sebagian pekerja tetap harus menjalankan tugas meski kualitas udara memburuk, terutama mereka yang bekerja di luar ruangan.
Paparan polusi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan. Risiko tersebut dapat bertambah ketika pekerjaan menuntut aktivitas fisik yang membuat seseorang bernapas lebih cepat dan dalam.
Karena itu, pekerja perlu mengurangi paparan polusi sebanyak mungkin. Dilansir dari Klik Medika, berikut langkah perlindungan diri menyesuaikan kondisi tempat dan jenis pekerjaan.
1. Periksa Kualitas Udara Sebelum Berangkat
Langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengetahui kondisi udara di wilayah tempat bekerja. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan sebelum memulai aktivitas.
Ketika kualitas udara mencapai tingkat yang tidak sehat, pekerja dapat membicarakan penyesuaian jadwal atau lokasi kerja dengan pihak terkait. Penyesuaian juga dapat mencakup perubahan metode kerja jika kondisi memungkinkan.
2. Batasi Aktivitas di Luar Ruangan
Pekerja yang tidak harus berada di luar ruangan sebaiknya mengurangi aktivitas tambahan. Perjalanan atau kegiatan yang tidak mendesak dapat ditunda sampai kondisi udara membaik.
Saat waktu istirahat tiba, pilih lokasi dengan kualitas udara yang lebih baik. Berada di dalam ruangan yang terlindungi dapat membantu mengurangi durasi paparan.
3. Pilih Masker yang Mampu Menyaring Partikel
Masker yang dirancang untuk menyaring partikel udara dapat membantu mengurangi paparan polutan. Manfaatnya akan lebih optimal jika masker digunakan dengan cara yang tepat.
Pastikan masker menutup hidung dan mulut serta terpasang cukup rapat. Celah pada sisi masker dapat membuat udara yang tercemar masuk melalui bagian yang tidak terlindungi.
4. Kurangi Aktivitas Fisik Berat
Aktivitas fisik berat membuat tubuh membutuhkan lebih banyak udara. Akibatnya, jumlah udara yang masuk ke saluran pernapasan juga dapat meningkat.
Jika pekerjaan memungkinkan, kurangi aktivitas yang membutuhkan tenaga besar ketika kualitas udara sedang buruk. Penyesuaian tugas dapat menjadi salah satu cara untuk menekan paparan.
5. Perhatikan Kondisi Udara di Dalam Ruangan
Bekerja di dalam gedung tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari polusi. Udara dari luar dapat masuk melalui pintu, jendela, maupun sistem ventilasi.
Karena itu, pengelolaan pintu dan jendela perlu menyesuaikan kondisi udara luar. Tempat kerja yang memiliki sistem penyaring udara juga perlu memastikan perangkat tersebut bekerja dengan baik.
Perawatan filter menjadi bagian penting. Filter yang kotor atau tidak terawat dapat mengurangi efektivitas sistem penyaringan udara.
6. Hindari Polusi dari Sumber Lain
Ketika kualitas udara luar memburuk, hindari menambah sumber polusi di lingkungan kerja. Merokok di sekitar tempat kerja dapat memperburuk paparan asap dan partikel.
Aktivitas lain yang menghasilkan asap juga sebaiknya dihindari. Menjaga lingkungan kerja tetap bebas dari sumber asap menjadi bagian penting dalam perlindungan kesehatan.
7. Tetap Cukupi Kebutuhan Cairan
Pekerja tetap perlu memenuhi kebutuhan cairan sepanjang hari. Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk menjaga hidrasi.
Namun, minum air dalam jumlah lebih banyak tidak dapat melindungi tubuh dari dampak polusi udara. Hidrasi hanya menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh.
Upaya terpenting tetap mengurangi paparan terhadap udara yang tercemar. Karena itu, pekerja perlu mengutamakan pengurangan waktu dan intensitas paparan.
Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada
Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap polusi udara. Pekerja dengan asma, penyakit paru, penyakit jantung, atau kondisi kesehatan tertentu dapat menghadapi risiko lebih tinggi.
Kelompok tersebut perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi tubuh selama bekerja. Jika memiliki rekomendasi khusus dari dokter, ikuti anjuran tersebut, terutama ketika kondisi kesehatan sedang tidak stabil.
Kenali Gejala Akibat Paparan Kabut Asap
Tubuh dapat memberikan tanda ketika mulai mengalami gangguan akibat paparan udara tercemar. Beberapa keluhan yang perlu diperhatikan antara lain batuk yang semakin sering, tenggorokan teriritasi, sesak napas, dan dada terasa berat.
Gejala lain dapat berupa napas berbunyi, pusing, serta kelelahan yang terasa tidak biasa. Jika keluhan muncul saat bekerja di luar, segera cari tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.
Hentikan aktivitas yang dapat memperburuk kondisi. Jangan mengabaikan gejala hanya demi menyelesaikan pekerjaan.
Jangan Tunda Pertolongan Medis
Beberapa gejala membutuhkan pertolongan medis segera. Sesak napas berat, nyeri dada, pingsan, kebingungan, serta bibir atau wajah membiru merupakan tanda bahaya.
Kesulitan bernapas yang terus memburuk juga memerlukan penanganan segera. Dalam kondisi tersebut, jangan memaksakan diri untuk tetap bekerja.
Menjaga kesehatan saat bekerja di tengah kabut asap bukan hanya soal menggunakan masker. Mengurangi paparan, mengatur aktivitas, memperhatikan kualitas udara, dan mengenali tanda bahaya menjadi langkah yang saling melengkapi. (*)






