Dharmasraya, Javanusa—Wakil Bupati Dharmasraya, Leli Arni, mengungkapkan fakta mengejutkan tentang maraknya praktik utang rentenir berkedok koperasi simpan pinjam di wilayahnya.
Ia menyebut setidaknya 28.000 warga telah menjadi korban jeratan utang dari lembaga-lembaga yang mengaku sebagai koperasi, padahal sebenarnya menjalankan praktik rentenir.
Saat menjadi pembina apel gabungan di eks RSUD Sungai Dareh, Pulau Punjung, Selasa (10/06/2025), Leli Arni menjelaskan terdapat delapan koperasi ilegal yang beroperasi di Dharmasraya.
Mereka menawarkan pinjaman cepat, tanpa agunan, dan bunga rendah, tetapi kenyataannya malah mencekik peminjam.
“Sudah ada delapan koperasi berkedok simpan pinjam yang kami identifikasi. Mereka menyasar masyarakat yang butuh uang cepat, padahal ujung-ujungnya utang makin menumpuk,” ujar Leli Arni.
Dampak praktik ilegal ini sudah sangat memprihatinkan. Di salah satu nagari, empat kepala keluarga (KK) terpaksa meninggalkan rumah mereka karena tak sanggup membayar cicilan. “Untung wali nagari punya empati dan mau membantu warganya,” imbuh Leli.
Korban Jiwa Akibat Tekanan Utang
Lebih memilukan lagi, Leli mengaitkan kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian seorang anak perempuan oleh ayah tirinya di Koto Baru, yang sempat viral di Indonesia, dengan tekanan ekonomi akibat utang ke rentenir.
“Pinjaman mungkin hanya Rp2 juta sampai Rp5 juta. Tetapi cicilan mingguan dan bunga tak transparan sangat memberatkan. Apalagi kalau untuk konsumsi, bukan kebutuhan mendesak,” jelasnya.
Leli Arni menegaskan pemerintah daerah tak bisa langsung melarang koperasi-koperasi ini karena beberapa di antaranya memiliki izin resmi.
Namun, Pemkab Dharmasraya akan mengambil langkah strategis lewat edukasi dan literasi keuangan.
“Mungkin nanti akan ada penyuluhan ke nagari-nagari, terutama yang terdampak. Masyarakat perlu tahu mana koperasi yang sehat dan mana yang abal-abal,” tegasnya.
ASN Harus Jadi Contoh
Leli juga mengingatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) agar tak ikut terjebak dalam sistem pinjaman yang tak sehat. “ASN harus menjadi contoh di tengah masyarakat. Jangan sembarangan meminjam, apalagi ke lembaga yang tak jelas,” tuturnya.
Ia berharap ASN mampu menjadi pencerah bagi masyarakat dan memberikan edukasi agar warga tidak makin terpuruk dalam jeratan utang yang mencekik. (*/red)






