Jakarta, Javanusa—Ikatan Keluarga Padang Panjang, Batipuh dan X Koto (IKAPPABASKO) Jabodetabek menggelar tabligh akbar dan doa bersama di Jakarta sebagai bentuk empati terhadap korban bencana galodo di Tanah Datar dan Padang Panjang.
Kegiatan ini dihadiri langsung Bupati Tanah Datar Eka Putra dan Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis di Masjid Agung At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah, Minggu (11/1/2026).
Acara tersebut menjadi ruang silaturahmi perantau Minangkabau sekaligus momentum spiritual untuk mendoakan kampung halaman yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Jemaah yang hadir merupakan perantau asal Padang Panjang, Batipuh, X Koto, dan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar.
Selain ibadah, kegiatan ini menjadi bentuk solidaritas atas musibah banjir bandang, tanah longsor, dan galodo yang melanda wilayah Sumatera Barat dalam beberapa waktu terakhir.
Penggalangan Dana Capai Rp170 Juta
Ketua IKAPPABASKO Jabodetabek, Chairul Alfi, menyampaikan apresiasi atas kehadiran kepala daerah dalam kegiatan tersebut.
Ia menegaskan peran perantau tidak hanya bersifat moral, tetapi juga nyata melalui bantuan kemanusiaan.
“IKAPPABASKO telah mengumpulkan bantuan sebesar Rp170 juta dan langsung disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana di Padang Panjang dan Tanah Datar,” ujar Chairul.
Bupati Tanah Datar Eka Putra menyampaikan terima kasih kepada para perantau atas kepedulian terhadap warga di kampung halaman.
Ia menegaskan, pemerintah daerah saat ini telah memasuki masa transisi tanggap darurat pascabencana galodo.
“Insya Allah dalam waktu dekat akan dibangun sabo dam di wilayah X Koto dan Malalo. Ini sudah menjadi komitmen pemerintah pusat,” kata Eka.
Satu Titik Masih Rawan di Batipuh Selatan
Eka Putra juga mengungkapkan masih terdapat satu titik rawan dengan debit air tinggi. Lokasi tersebut berada di Jorong Tanjung Sawah, Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan.
Pemda telah menyampaikan kondisi tersebut ke pemerintah provinsi. Rencananya, akan dibangun jembatan armco sebagai solusi sementara untuk akses warga.
Tabligh akbar ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Buya H. Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh.
Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah memetik hikmah dari musibah serta memperkuat solidaritas sosial.
Kegiatan ini menegaskan peran strategis perantau sebagai bagian dari pemulihan sosial dan spiritual pascabencana di Sumatera Barat. (*/red)






