Javanusa.com—Margarin dan mentega sama-sama populer di dapur, tetapi keduanya memiliki bahan dasar, karakteristik, serta kandungan gizi yang berbeda. Perbedaan tersebut juga dapat memengaruhi rasa makanan dan dampaknya bagi kesehatan.
Perbedaan margarin dan mentega paling mendasar terletak pada bahan pembuatnya. Mentega atau butter berasal dari susu sapi, terutama bagian krim yang mengandung lemak susu.
Proses pengolahan mentega memisahkan komponen lemak dari bagian cair susu. Karena berasal dari produk hewani, mentega mengandung lemak jenuh dan kolesterol dalam jumlah tertentu.
Berbeda dari mentega, margarin pada umumnya menggunakan minyak nabati sebagai bahan baku. Produsen dapat menggunakan minyak seperti minyak sawit, kedelai, atau canola.
Komposisi tersebut membuat kandungan lemak margarin berbeda dari mentega. Jenis dan formulasi produk juga dapat memengaruhi kandungan nutrisi akhirnya.
Kandungan gizi margarin dan mentega tidak sama
Data FoodData Central menunjukkan adanya perbedaan komposisi gizi antara margarin dan mentega dalam setiap 100 gram.
Margarin mengandung sekitar 17,1 gram air, 0,22 gram protein, 80,2 gram lemak, dan 0,75 gram karbohidrat. Produk ini juga mengandung sekitar 3 mg kalsium, 17 mg kalium, 768 mcg vitamin A, 15,4 mg vitamin E, serta 610 mcg beta karoten.
Sementara itu, mentega mengandung sekitar 78,57 gram lemak. Kandungan lainnya mencakup 571 mg natrium, vitamin A sebesar 2.857 IU, serta 179 mg kolesterol.
Perbedaan tersebut tidak berarti salah satu produk selalu lebih baik. Komposisi dapat berbeda berdasarkan merek, bahan baku, proses produksi, dan formulasi masing-masing produk.
Mentega memberikan aroma dan rasa yang khas
Selain kandungan gizi, margarin dan mentega memiliki karakter berbeda ketika digunakan untuk memasak.
Mentega cenderung mudah melunak dan meleleh pada suhu ruang. Bahan ini juga memberikan rasa gurih dengan aroma khas susu.
Karakter tersebut membuat mentega banyak digunakan dalam pembuatan kue. Penggunaannya dapat menghasilkan cita rasa yang lebih kaya serta tekstur kue yang lembut.
Karena sifatnya mudah meleleh, penyimpanan mentega membutuhkan perhatian. Produk ini umumnya disimpan dalam lemari pendingin agar teksturnya tetap terjaga.
Margarin lebih fleksibel untuk memasak
Margarin juga sering digunakan dalam pembuatan kue, terutama cake dan berbagai jenis kue basah. Teksturnya dapat membantu proses pencampuran bahan dalam adonan.
Selain untuk memanggang, margarin dapat digunakan untuk menumis atau mengolah makanan tertentu. Penggunaan margarin juga dapat memberikan karakter rasa dan tekstur yang berbeda dibandingkan minyak goreng biasa.
Pilihan antara margarin dan mentega biasanya bergantung pada jenis makanan serta hasil akhir yang diinginkan. Untuk kue, misalnya, perbedaan aroma dan tekstur menjadi pertimbangan penting.
Bagaimana dampak margarin terhadap kesehatan?
Margarin umumnya menggunakan lemak nabati sebagai bahan dasarnya. Namun, anggapan bahwa semua margarin otomatis lebih sehat daripada mentega perlu dipertimbangkan kembali.
Komposisi setiap produk berbeda. Karena itu, konsumen perlu memperhatikan label nutrisi, terutama jumlah lemak jenuh, lemak trans, natrium, serta jenis minyak yang digunakan.
Sebuah penelitian yang terbit dalam jurnal Epidemiology pada 2017 melaporkan hubungan konsumsi margarin dengan risiko sejumlah masalah kardiovaskular pada kelompok perempuan berusia 50–79 tahun.
Masalah tersebut mencakup myocardial infarction, penyakit jantung koroner, stroke iskemik, dan aterosklerosis. Temuan penelitian tetap perlu dipahami sesuai desain, populasi, dan konteks penelitian.
Mentega mengandung lemak jenuh dan vitamin tertentu
Mentega memiliki kandungan lemak jenuh yang perlu diperhatikan. Konsumsi berlebihan dalam jangka panjang dapat menjadi bagian dari pola makan yang meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Di sisi lain, mentega berasal dari susu sapi sehingga menyediakan sejumlah zat gizi. Kandungannya antara lain vitamin A dan sejumlah vitamin serta mineral yang terdapat pada produk susu.
Namun, jumlah mentega yang digunakan dalam makanan biasanya relatif kecil. Karena itu, mentega tidak dapat dijadikan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral harian.
Jangan berlebihan mengonsumsi keduanya
Baik margarin maupun mentega sebaiknya digunakan secara proporsional. Jumlah konsumsi menjadi faktor penting karena kedua bahan tersebut tetap menyumbang energi dan lemak.
Pada margarin, jenis lemak yang digunakan dalam produk menjadi perhatian. Konsumsi lemak secara berlebihan dapat meningkatkan asupan energi dan berkontribusi terhadap masalah kesehatan tertentu.
Sementara itu, konsumsi mentega secara berlebihan perlu dibatasi karena kandungan lemak jenuhnya. Pola makan secara keseluruhan tetap lebih menentukan dibandingkan hanya memilih salah satu dari kedua produk tersebut.
Dengan demikian, perbedaan margarin dan mentega tidak hanya terlihat dari bahan pembuatnya. Keduanya juga memiliki karakter rasa, tekstur, komposisi gizi, dan penggunaan yang berbeda.
Memilih margarin atau mentega sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan memasak serta pola makan secara keseluruhan. Untuk kondisi kesehatan tertentu, pertimbangkan kandungan nutrisi pada label dan konsultasikan pilihan makanan dengan tenaga kesehatan. (*)






