Javanusa.com—Pernah merasa baru saja memasuki awal tahun, tetapi tiba-tiba sudah berganti bulan bahkan tahun? Perasaan bahwa waktu berjalan semakin cepat saat dewasa ternyata bukan sekadar sugesti.
Sejumlah teori ilmiah menjelaskan bagaimana perubahan tubuh, otak, hingga pola hidup memengaruhi cara manusia merasakan waktu.
Secara objektif, waktu berjalan dengan kecepatan yang sama bagi setiap orang. Namun, persepsi manusia terhadap waktu berubah seiring bertambahnya usia.
Para peneliti dan ahli menjelaskan bahwa perubahan biologis, cara otak mengolah informasi, serta rutinitas harian membuat orang dewasa merasa hari, minggu, hingga tahun berlalu lebih cepat dibandingkan saat masih anak-anak.
1. Jam biologis tubuh melambat
Salah satu penjelasan berkaitan dengan perubahan jam biologis atau suprachiasmatic nucleus (SCN) yang berada di otak. Sistem ini mengatur berbagai fungsi tubuh, mulai dari detak jantung hingga ritme sirkadian.
Anak-anak memiliki aktivitas fisik yang lebih tinggi sehingga detak jantung mereka juga lebih cepat. Sebagai ilustrasi, jantung anak dapat berdetak sekitar 150 kali per menit, sedangkan pada orang dewasa rata-rata sekitar 75 kali per menit.
Seiring bertambahnya usia, ritme tubuh melambat. Perubahan tersebut diduga ikut memengaruhi persepsi sehingga waktu terasa bergerak lebih cepat.
2. Otak semakin terbiasa dengan rutinitas
Cara otak memproses pengalaman juga berperan penting. Saat masih kecil, hampir setiap hari menghadirkan hal baru yang menarik untuk dipelajari.
Memasuki usia dewasa, aktivitas cenderung berlangsung dengan pola yang sama. Karena lingkungan sudah terasa familiar, otak tidak lagi bekerja seintens saat menghadapi pengalaman baru.
Akibatnya, hari-hari terasa berlalu tanpa banyak momen yang benar-benar melekat dalam ingatan.
3. Setiap tahun menjadi bagian yang lebih kecil dari hidup
Filsuf Prancis abad ke-19, Paul Janet, mengemukakan teori mengenai proporsi waktu dalam kehidupan manusia.
Ketika seseorang berusia lima tahun, satu tahun mewakili sekitar 20 persen dari seluruh perjalanan hidupnya. Namun, pada usia 50 tahun, satu tahun hanya setara sekitar dua persen dari total usia.
Perbedaan proporsi tersebut membuat setiap tahun terasa semakin singkat seiring bertambahnya umur.
4. Penurunan kadar dopamin
Faktor lain berasal dari perubahan zat kimia di otak. Dopamin merupakan neurotransmiter yang membantu proses belajar, memori, dan rasa ingin tahu.
Penelitian dalam jurnal Neurobiology of Aging (2017) menunjukkan kadar dopamin dapat menurun sekitar 3,7 hingga 14 persen setiap 10 tahun pertambahan usia.
Penurunan ini membuat rasa penasaran terhadap pengalaman baru ikut berkurang. Dampaknya, aktivitas sehari-hari terasa lebih monoton sehingga waktu seolah berlalu tanpa disadari.
5. Rutinitas membuat hari terasa serupa
Masa kanak-kanak biasanya dipenuhi pengalaman yang mudah diingat, seperti liburan, ulang tahun, atau kegiatan baru. Sebaliknya, kehidupan orang dewasa sering diisi pekerjaan dan aktivitas yang berulang.
Rutinitas yang sama setiap hari membuat otak memiliki lebih sedikit “penanda waktu”. Ketika ditambah kesibukan atau tekanan pekerjaan, perhatian akan terfokus pada penyelesaian tugas sehingga hari terasa berjalan sangat cepat.
Cara Membuat Waktu Terasa Lebih Bermakna
Meski waktu tidak bisa diperlambat, Anda dapat mengubah cara otak merasakannya dengan memperkaya pengalaman sehari-hari.
Beberapa langkah yang bisa diterapkan antara lain:
-
- Mempelajari keterampilan baru atau mengunjungi tempat yang belum pernah didatangi.
- Mengubah rutinitas harian, misalnya memilih rute perjalanan berbeda atau mencoba menu makanan baru.
- Menggunakan teknik manajemen waktu seperti metode Pomodoro agar pekerjaan lebih teratur.
- Menulis jurnal harian sebagai sarana refleksi terhadap pengalaman yang telah dilalui.
- Melatih mindfulness atau meditasi untuk meningkatkan kesadaran pada momen saat ini.
- Menjaga pola hidup sehat melalui olahraga rutin, konsumsi makanan bergizi, dan tidur yang cukup.
- Menetapkan target jangka pendek maupun jangka panjang, lalu mengevaluasi pencapaiannya secara berkala.
Kesimpulan
Perasaan bahwa waktu semakin cepat berlalu saat dewasa merupakan hasil dari perubahan biologis, cara kerja otak, dan pola hidup yang semakin rutin. Dengan menghadirkan pengalaman baru, menjaga kesehatan, serta lebih sadar terhadap aktivitas sehari-hari, seseorang dapat membuat setiap momen terasa lebih bermakna dan tidak mudah berlalu begitu saja. (*)






