Mengapa Kurang Tidur Bisa Bikin Gemuk? Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Siklus Obesitas

Penulis -

Selasa, 2 Juni 2026 - 13:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Image by Magnific

Image by Magnific

Javanusa.com—Kualitas tidur dan berat badan memiliki hubungan yang sangat erat. Kurang tidur dapat meningkatkan risiko obesitas. Sebaliknya, obesitas juga berpotensi menurunkan kualitas tidur seseorang.

Hubungan tersebut membentuk siklus yang saling memengaruhi dan dapat berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang.

Dikutip dari laman Hello Sehat, kurang tidur tidak hanya membuat tubuh lemas dan mengantuk pada siang hari. Kondisi ini juga mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Akibatnya, pola makan dan metabolisme tubuh ikut terpengaruh.

Salah satu faktor utama yang berperan ialah perubahan kadar hormon leptin dan ghrelin. Leptin bertugas mengirim sinyal kenyang ke otak. Sementara itu, ghrelin berfungsi merangsang munculnya rasa lapar.

Ketika seseorang kurang tidur, produksi leptin cenderung menurun. Sebaliknya, kadar ghrelin meningkat. Kondisi tersebut membuat tubuh lebih mudah merasa lapar meskipun kebutuhan energi sebenarnya telah terpenuhi.

Akibatnya, seseorang menjadi lebih sering makan, termasuk di luar jam makan utama. Kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko penambahan berat badan jika berlangsung dalam waktu lama.

Selain meningkatkan nafsu makan, kurang tidur juga memengaruhi pilihan jenis makanan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidur kurang dari enam hingga tujuh jam setiap malam lebih cenderung mengonsumsi makanan tinggi kalori, gula, dan lemak.

Fenomena tersebut berkaitan dengan peningkatan hormon kortisol atau hormon stres. Saat kadar kortisol meningkat, keinginan mengonsumsi makanan sebagai pelampiasan emosi atau emotional eating ikut bertambah.

Di sisi lain, hormon kortisol juga berperan dalam meningkatkan penumpukan lemak, terutama pada area perut. Karena itu, kurang tidur sering dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas.

Kurangnya waktu istirahat juga berdampak pada aktivitas fisik sehari-hari. Rasa lelah dan kantuk membuat seseorang cenderung mengurangi gerak tubuh. Mereka juga lebih banyak melakukan aktivitas sedentari, seperti menonton televisi atau menggunakan gawai dalam waktu lama.

Baca Juga :  Warna Lampu Tidur yang Baik untuk Kesehatan, Ini Pilihan Terbaik agar Tidur Lebih Nyenyak

Selain itu, motivasi untuk berolahraga biasanya ikut menurun. Kondisi tersebut membuat pembakaran kalori menjadi tidak optimal dan berpotensi mempercepat kenaikan berat badan.

Obesitas Dapat Memperburuk Kualitas Tidur

Di sisi lain, obesitas tidak hanya berdampak pada kesehatan metabolik. Kondisi ini juga dapat mengganggu pola tidur seseorang.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa individu dengan obesitas lebih rentan mengalami berbagai gangguan tidur. Gangguan tersebut meliputi insomnia, kesulitan mempertahankan tidur, hingga rasa kantuk berlebihan pada siang hari.

Berbagai faktor biologis memengaruhi kondisi tersebut. Penumpukan lemak berlebih dapat mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun.

Selain itu, ketidakseimbangan hormon yang berkaitan dengan pengaturan energi dan nafsu makan turut memengaruhi kualitas tidur. Akibatnya, seseorang lebih mudah mengalami gangguan istirahat pada malam hari.

Obesitas juga sering dikaitkan dengan peradangan kronis tingkat rendah. Jaringan lemak, terutama lemak visceral yang berada di sekitar organ perut, menghasilkan berbagai zat proinflamasi yang dapat memengaruhi sistem saraf pusat.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan rasa kantuk berlebihan pada siang hari. Hal itu bahkan bisa terjadi meskipun seseorang merasa telah tidur cukup pada malam sebelumnya.

Dalam jangka panjang, kondisi ini membentuk lingkaran yang sulit diputus. Kurang tidur meningkatkan risiko kenaikan berat badan. Sebaliknya, obesitas yang tidak ditangani dapat terus memperburuk kualitas tidur.

Selain insomnia, obesitas juga menjadi salah satu faktor risiko utama terjadinya sleep apnea. Gangguan pernapasan saat tidur ini menyebabkan seseorang tidak memperoleh tidur yang nyenyak meskipun durasinya cukup.

Karena hubungan keduanya saling memengaruhi, perbaikan perlu dilakukan secara bersamaan. Menjaga berat badan ideal dan membangun pola tidur sehat menjadi langkah penting untuk memutus siklus tersebut.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Dorong Percepatan Penanganan Sampah Nasional, Target 2–3 Tahun Terkendali
Cara Meningkatkan Kualitas Tidur pada Orang dengan Obesitas

Orang dengan obesitas dapat meningkatkan kualitas tidur melalui sejumlah perubahan gaya hidup sederhana yang dilakukan secara konsisten.

1. Rutin Berolahraga

Aktivitas fisik membantu tubuh tidur lebih nyenyak. Selain itu, olahraga dapat mengurangi gejala sleep apnea.

Paparan sinar matahari saat berolahraga di luar ruangan juga membantu menjaga ritme sirkadian tetap optimal. Dengan demikian, tubuh lebih mudah mengatur waktu tidur dan bangun.

2. Menggunakan Kasur yang Tepat

Kasur yang mampu menopang tubuh dengan baik membantu menjaga posisi tulang belakang tetap netral. Selain itu, kasur yang sesuai dapat mengurangi tekanan pada beberapa bagian tubuh saat tidur.

3. Menjaga Pola Makan Seimbang

Konsumsi makanan bergizi seimbang dan kurangi asupan tinggi kalori, gula, serta lemak jenuh. Selain itu, hindari makan dalam jumlah besar sekitar empat jam sebelum waktu tidur.

4. Mengurangi Penggunaan Gawai

Paparan cahaya dari layar ponsel, tablet, maupun komputer dapat menghambat produksi hormon melatonin. Padahal, hormon ini berperan penting dalam membantu proses tidur.

Karena itu, batasi penggunaan gawai setidaknya 30 hingga 60 menit sebelum tidur agar tubuh lebih mudah beristirahat.

5. Menciptakan Lingkungan Tidur yang Nyaman

Pastikan kamar tidur memiliki suhu yang sejuk, pencahayaan yang minim, dan suasana yang tenang. Lingkungan yang nyaman membantu tubuh memasuki fase tidur dalam dengan lebih mudah.

6. Membatasi Konsumsi Kafein

Kopi, teh, minuman energi, maupun minuman manis sebaiknya tidak dikonsumsi pada sore hingga malam hari. Pasalnya, minuman tersebut dapat mengganggu proses tidur dan menurunkan kualitas istirahat.

Tidur yang cukup dan berkualitas berperan penting dalam menjaga keseimbangan hormon, mengatur nafsu makan, serta mendukung metabolisme tubuh. Jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus atau disertai gejala tertentu, konsultasikan kondisi tersebut kepada tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat. (*/red)

Baca Juga :  Pastikan Keamanan Pangan, Wawako Padang dan BBPOM Sidak Pasar Pabukoan

Berita Terkait

Lem Gigi Palsu: Jangan Asal Pilih, Ini Cara Menggunakannya dengan Aman
Jerawat Pasir di Wajah Sulit Hilang? Ini 5 Cara Mengatasinya dengan Aman
Jantung Koroner: Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Menurunkan Risikonya
Cacar Air pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Kapan Harus ke Dokter
Cara Membaca Hasil USG 4D Saat Hamil, Ini Istilah dan Angka yang Perlu Dipahami
Rutin Minum Jus Wortel, Apa Benar Bisa Menyehatkan Mata dan Kulit?
Toilet Jongkok atau Duduk, Mana yang Lebih Sehat? Ini Posisi yang Disarankan
Jangan Salah, Begini Cara Menghibur Orang Sedih agar Tidak Makin Tertekan

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:43 WIB

BMKG Maritim Teluk Bayur Peringatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Sumbar 9–12 Oktober

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Perkuat Ketahanan Pangan, Pemko Padang Dorong Budidaya Ikan RAS dan Mina Padi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:44 WIB

Padang Mulai Uji Teknologi AI untuk Petakan Kerusakan Infrastruktur Pascabencana

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:18 WIB

Kabut Asap Selimuti Padang, BPBD Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:27 WIB

Penumpang KA Lembah Anai Terlibat Perselisihan, KAI Ingatkan Etika di Kereta

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:22 WIB

Kafilah Bungus Teluk Kabung Siap Hadapi MTQN ke-42 Kota Padang, Persiapan Capai 85 Persen

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:17 WIB

Padang Utara Siapkan 72 Kafilah, Targetkan Juara Umum MTQN ke-42 Kota Padang

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:11 WIB

KAI Divre II Sumbar Tutup 30 Perlintasan Liar, Keselamatan di Jalur Kereta Diperketat

Berita Terbaru