Mengenal Stoicism, Gaya Hidup yang Membantu Mengelola Emosi dan Stres

Penulis -

Rabu, 14 Oktober 2026 - 21:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. (Foto: AI Generated)

Ilustrasi. (Foto: AI Generated)

Javanusa.com—Menghadapi tekanan hidup tidak selalu mudah, terutama ketika seseorang berhadapan dengan situasi di luar kendalinya.

Stoicism atau stoisisme menawarkan pendekatan filosofis untuk mengelola emosi, menerima kenyataan, dan mengambil keputusan secara lebih rasional.

Gaya hidup ini mengajak seseorang memusatkan perhatian pada pikiran, sikap, dan tindakan yang bisa dikendalikan.

Dengan menerapkan prinsip tersebut, seseorang dapat belajar menghadapi persoalan sehari-hari tanpa bereaksi secara impulsif.

Apa Itu Stoicism?

Dikutip dari Halodoc, stoicism merupakan aliran filsafat yang menekankan kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai peristiwa kehidupan. Prinsip utamanya adalah membedakan hal-hal yang berada dalam kendali pribadi dari keadaan yang tidak bisa diubah.

Pikiran, keputusan, sikap, dan tindakan termasuk dalam kendali seseorang. Sebaliknya, pendapat orang lain, kejadian masa lalu, serta berbagai peristiwa eksternal tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.

Pemahaman ini membantu seseorang mengarahkan energi pada tindakan yang realistis. Alih-alih terus memikirkan sesuatu yang tidak bisa diubah, seseorang dapat berfokus pada langkah yang masih memungkinkan.

Manfaat Stoicism untuk Kesehatan Mental

Stoicism dapat menjadi pendekatan untuk membangun kebiasaan berpikir lebih tenang ketika menghadapi tekanan. Filosofi ini juga mendorong seseorang mengevaluasi situasi berdasarkan fakta, bukan semata-mata mengikuti dorongan emosi.

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh melalui penerapannya meliputi:

1. Mengenali batas kendali

Membantu seseorang membedakan persoalan yang dapat diupayakan dari keadaan yang perlu diterima.

2. Mengendalikan reaksi

Mendorong seseorang mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan atau merespons situasi yang memicu emosi.

3. Membangun kesadaran diri

Membiasakan refleksi terhadap perilaku, keputusan, dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

4. Menghadapi masalah secara realistis

Mengarahkan perhatian pada solusi yang memungkinkan daripada terus terjebak dalam kekhawatiran.

Meski demikian, stoicism bukan berarti seseorang harus menekan perasaan atau mengabaikan masalah. Pendekatan ini justru mendorong pengenalan emosi agar seseorang dapat memilih respons yang lebih sesuai dengan nilai dan tujuan hidupnya.

Baca Juga :  MotoGP Indonesia 2026: Marc Marquez Ingin Akhiri Catatan Buruk di Mandalika
Cara Menerapkan Stoicism dalam Kehidupan Sehari-hari

Menerapkan stoicism tidak harus melalui latihan yang rumit. Seseorang dapat memulainya dengan kebiasaan sederhana dan konsisten dalam menghadapi persoalan sehari-hari.

1. Bedakan Hal yang Bisa dan Tidak Bisa Dikendalikan

Ketika menghadapi masalah, tuliskan situasi yang sedang terjadi. Kemudian, pisahkan aspek yang dapat dipengaruhi melalui tindakan pribadi dari hal-hal yang berada di luar kendali.

Sebagai contoh, seseorang tidak dapat menentukan pendapat orang lain. Namun, ia dapat memilih cara berkomunikasi, memperbaiki tindakannya, dan menentukan respons yang tepat.

2. Beri Jeda Sebelum Bereaksi

Emosi yang meningkat dapat memengaruhi penilaian dan keputusan. Karena itu, luangkan waktu sejenak sebelum membalas pesan, menanggapi kritik, atau mengambil keputusan penting.

Tarik napas perlahan dan evaluasi situasi sebelum bertindak. Jeda singkat ini memberi kesempatan untuk mempertimbangkan fakta serta konsekuensi dari respons yang akan diambil.

3. Lakukan Refleksi Setiap Hari

Refleksi membantu seseorang memahami pola pikir dan perilakunya. Luangkan beberapa menit pada akhir hari untuk mengevaluasi pengalaman yang telah dilalui.

Ajukan tiga pertanyaan sederhana: Apa yang sudah dilakukan dengan baik? Apa yang perlu diperbaiki? Tindakan realistis apa yang dapat dilakukan esok hari?

Kebiasaan ini dapat membantu seseorang mengenali kesalahan tanpa terus menyalahkan diri sendiri. Refleksi juga menjadi dasar untuk mengambil keputusan yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.

4. Pertahankan Kebiasaan Sehat

Pengelolaan emosi juga berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari. Tidur yang cukup, pola makan teratur, aktivitas fisik, dan hubungan sosial yang sehat tetap penting untuk mendukung kesejahteraan mental.

Prinsip stoicism dapat melengkapi kebiasaan tersebut dengan mendorong sikap yang lebih sadar terhadap pikiran dan tindakan. Namun, filosofi ini tidak menggantikan kebutuhan dasar tubuh maupun dukungan dari orang lain.

Baca Juga :  Suka Parfum Floral Green? Ini Karakter Kepribadian yang Sering Melekat pada Penggunanya
Hubungan Stoicism dengan Terapi Perilaku Kognitif

Stoicism memiliki kemiripan dengan sejumlah teknik dalam terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT). Keduanya melibatkan pengamatan terhadap pikiran serta evaluasi cara seseorang menafsirkan dan merespons suatu peristiwa.

Meski memiliki kesamaan, stoicism merupakan pendekatan filosofis, sedangkan CBT adalah bentuk psikoterapi dengan metode klinis tertentu. Karena itu, keduanya tidak dapat dianggap sebagai hal yang sama.

Seseorang yang mengalami kecemasan, kesedihan, atau tekanan berkepanjangan hingga mengganggu tidur, pekerjaan, maupun hubungan sosial sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan mental.

Stoicism dapat menjadi pendekatan pendamping, tetapi tidak seharusnya menggantikan pemeriksaan dan penanganan profesional ketika diperlukan. (*)

Berita Terkait

Selfie Artinya: Swafoto, Narsisme Atau Aktualisasi Diri?
Catat, 5 Cara Aman Menggunakan Teko Listrik agar Terhindar dari Luka Bakar
9 Olahraga untuk Mengecilkan Perut Buncit, Efektif dan Aman Dilakukan
Sebelum Lari, Jangan Asal Makan! Ini 8 Makanan dan Minuman yang Bantu Jaga Stamina
Mengapa Pria Sering Buncit Setelah Menikah? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Jangan Asal Makan, Ini Waktu yang Tepat untuk Sarapan hingga Makan Malam
Orang yang Jarang Aktif di Media Sosial Punya 9 Hobi yang Membuat Hidup Lebih Bahagia
7 Kebiasaan Malam yang Bikin Hidup Lebih Tenang bagi Orang yang Suka Tidur Sebelum Jam 9

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 22:41 WIB

Koto Tangah Kembali Juara Umum MTQN ke-42 Padang, Ini Daftar Tuan Rumah Berikutnya

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:20 WIB

MTQ Nasional ke-42 Kota Padang Ditutup, Koto Tangah Pertahankan Gelar Juara Umum

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:49 WIB

Pemko Padang Beri Bantuan Rp1,5 Juta per KK untuk Korban Kebakaran Limau Manis

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:27 WIB

Kemensos Salurkan Bantuan Logistik Korban Banjir Bandang Padang, Gus Ipul: Kebutuhan Dasar Prioritas

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:04 WIB

Kerugian Kebakaran di Limau Manis Capai Rp3 Miliar, Pemko Padang Salurkan Bantuan Rp1,5 Juta per KK

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:15 WIB

MTQ ke-42 Kota Padang Masuki Final, Enam Peserta Bersaing di Tahfizh 30 Juz dan Tafsir Arab

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:08 WIB

Evaluasi MTQN ke-42 Kota Padang, Pemko Siapkan Pola Pembinaan Al-Qur’an Berkelanjutan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:57 WIB

Fadly Amran Apresiasi Sinergi Kodaeral II Padang, Sarimpunan Tanjung Bersiap Jalani Tugas Baru

Berita Terbaru

Ketua Komisi II DPRD Kota Padang Rachmad Wijaya saat diwawancarai awak media usai rapat kerja bersama PT Pertamina Patra Niaga dan Dinas Perdagangan Kota Padang, Rabu (14/10/2026). (Foto: Istimewa)

Ekonomi Bisnis

DPRD Padang Kawal Hasil Uji BBM dan Penyelesaian 1.799 Aduan Konsumen

Rabu, 14 Okt 2026 - 22:01 WIB