Javanusa.com—Menghadapi tekanan hidup tidak selalu mudah, terutama ketika seseorang berhadapan dengan situasi di luar kendalinya.
Stoicism atau stoisisme menawarkan pendekatan filosofis untuk mengelola emosi, menerima kenyataan, dan mengambil keputusan secara lebih rasional.
Gaya hidup ini mengajak seseorang memusatkan perhatian pada pikiran, sikap, dan tindakan yang bisa dikendalikan.
Dengan menerapkan prinsip tersebut, seseorang dapat belajar menghadapi persoalan sehari-hari tanpa bereaksi secara impulsif.
Apa Itu Stoicism?
Dikutip dari Halodoc, stoicism merupakan aliran filsafat yang menekankan kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai peristiwa kehidupan. Prinsip utamanya adalah membedakan hal-hal yang berada dalam kendali pribadi dari keadaan yang tidak bisa diubah.
Pikiran, keputusan, sikap, dan tindakan termasuk dalam kendali seseorang. Sebaliknya, pendapat orang lain, kejadian masa lalu, serta berbagai peristiwa eksternal tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Pemahaman ini membantu seseorang mengarahkan energi pada tindakan yang realistis. Alih-alih terus memikirkan sesuatu yang tidak bisa diubah, seseorang dapat berfokus pada langkah yang masih memungkinkan.
Manfaat Stoicism untuk Kesehatan Mental
Stoicism dapat menjadi pendekatan untuk membangun kebiasaan berpikir lebih tenang ketika menghadapi tekanan. Filosofi ini juga mendorong seseorang mengevaluasi situasi berdasarkan fakta, bukan semata-mata mengikuti dorongan emosi.
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh melalui penerapannya meliputi:
1. Mengenali batas kendali
Membantu seseorang membedakan persoalan yang dapat diupayakan dari keadaan yang perlu diterima.
2. Mengendalikan reaksi
Mendorong seseorang mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan atau merespons situasi yang memicu emosi.
3. Membangun kesadaran diri
Membiasakan refleksi terhadap perilaku, keputusan, dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
4. Menghadapi masalah secara realistis
Mengarahkan perhatian pada solusi yang memungkinkan daripada terus terjebak dalam kekhawatiran.
Meski demikian, stoicism bukan berarti seseorang harus menekan perasaan atau mengabaikan masalah. Pendekatan ini justru mendorong pengenalan emosi agar seseorang dapat memilih respons yang lebih sesuai dengan nilai dan tujuan hidupnya.
Cara Menerapkan Stoicism dalam Kehidupan Sehari-hari
Menerapkan stoicism tidak harus melalui latihan yang rumit. Seseorang dapat memulainya dengan kebiasaan sederhana dan konsisten dalam menghadapi persoalan sehari-hari.
1. Bedakan Hal yang Bisa dan Tidak Bisa Dikendalikan
Ketika menghadapi masalah, tuliskan situasi yang sedang terjadi. Kemudian, pisahkan aspek yang dapat dipengaruhi melalui tindakan pribadi dari hal-hal yang berada di luar kendali.
Sebagai contoh, seseorang tidak dapat menentukan pendapat orang lain. Namun, ia dapat memilih cara berkomunikasi, memperbaiki tindakannya, dan menentukan respons yang tepat.
2. Beri Jeda Sebelum Bereaksi
Emosi yang meningkat dapat memengaruhi penilaian dan keputusan. Karena itu, luangkan waktu sejenak sebelum membalas pesan, menanggapi kritik, atau mengambil keputusan penting.
Tarik napas perlahan dan evaluasi situasi sebelum bertindak. Jeda singkat ini memberi kesempatan untuk mempertimbangkan fakta serta konsekuensi dari respons yang akan diambil.
3. Lakukan Refleksi Setiap Hari
Refleksi membantu seseorang memahami pola pikir dan perilakunya. Luangkan beberapa menit pada akhir hari untuk mengevaluasi pengalaman yang telah dilalui.
Ajukan tiga pertanyaan sederhana: Apa yang sudah dilakukan dengan baik? Apa yang perlu diperbaiki? Tindakan realistis apa yang dapat dilakukan esok hari?
Kebiasaan ini dapat membantu seseorang mengenali kesalahan tanpa terus menyalahkan diri sendiri. Refleksi juga menjadi dasar untuk mengambil keputusan yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.
4. Pertahankan Kebiasaan Sehat
Pengelolaan emosi juga berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari. Tidur yang cukup, pola makan teratur, aktivitas fisik, dan hubungan sosial yang sehat tetap penting untuk mendukung kesejahteraan mental.
Prinsip stoicism dapat melengkapi kebiasaan tersebut dengan mendorong sikap yang lebih sadar terhadap pikiran dan tindakan. Namun, filosofi ini tidak menggantikan kebutuhan dasar tubuh maupun dukungan dari orang lain.
Hubungan Stoicism dengan Terapi Perilaku Kognitif
Stoicism memiliki kemiripan dengan sejumlah teknik dalam terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT). Keduanya melibatkan pengamatan terhadap pikiran serta evaluasi cara seseorang menafsirkan dan merespons suatu peristiwa.
Meski memiliki kesamaan, stoicism merupakan pendekatan filosofis, sedangkan CBT adalah bentuk psikoterapi dengan metode klinis tertentu. Karena itu, keduanya tidak dapat dianggap sebagai hal yang sama.
Seseorang yang mengalami kecemasan, kesedihan, atau tekanan berkepanjangan hingga mengganggu tidur, pekerjaan, maupun hubungan sosial sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan mental.
Stoicism dapat menjadi pendekatan pendamping, tetapi tidak seharusnya menggantikan pemeriksaan dan penanganan profesional ketika diperlukan. (*)






