Javanusa.com—Merasa lelah setelah beraktivitas merupakan hal yang normal. Namun, jika rasa letih tetap muncul meski sudah tidur dan beristirahat cukup, kondisi tersebut bisa menjadi tanda anxiety atau gangguan kecemasan yang selama ini tidak disadari.
Banyak orang menganggap rasa lelah berkepanjangan hanya disebabkan aktivitas padat. Padahal, kelelahan yang terus muncul tanpa penyebab jelas juga dapat menjadi salah satu gejala anxiety.
Gejala kelelahan akibat kecemasan sering kali menyerupai kelelahan biasa sehingga sulit dikenali. Kondisi ini membuat seseorang tetap merasa letih walaupun sudah cukup tidur atau mengurangi aktivitas.
Talkspace menjelaskan, “Kelelahan akibat kecemasan bisa sangat melelahkan. Gejala kelelahan kronis dapat menyebabkan kelelahan yang tidak akan hilang, tidak peduli seberapa banyak Anda beristirahat, bersantai, atau tidur.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa anxiety tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis, tetapi juga berdampak langsung pada energi tubuh.
Mengapa Anxiety Menyebabkan Tubuh Terus Lelah?
Gangguan kecemasan membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga. Saat otak menganggap ada ancaman, tubuh mengaktifkan respons fight-or-flight atau “lawan atau lari”.
Respons tersebut memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Jika berlangsung dalam waktu lama, sistem tubuh bekerja lebih keras sehingga cadangan energi cepat terkuras.
Selain itu, penderita anxiety sering mengalami hiperarousal kronis, yaitu kondisi ketika pikiran dan tubuh selalu waspada.
Akibatnya, otak terus memindai kemungkinan bahaya meski situasi sebenarnya aman. Aktivitas mental yang berlangsung tanpa henti inilah yang membuat tubuh mudah kelelahan.
Masalah tidur juga memperburuk kondisi tersebut. Kecemasan dapat menyebabkan sulit tidur, sering terbangun pada malam hari, atau tidur tanpa mendapatkan kualitas istirahat yang optimal.
Ketika tidur terganggu, tubuh tidak memiliki kesempatan memulihkan energi. Sebaliknya, kurang tidur justru meningkatkan kecemasan sehingga terbentuk lingkaran yang sulit diputus.
Di sisi lain, kekhawatiran yang berlangsung terus-menerus juga menguras energi emosional. Akibatnya, aktivitas sederhana terasa berat dan motivasi menjalani rutinitas sehari-hari ikut menurun.
Gejala Anxiety yang Sering Disalahartikan Sebagai Kelelahan Biasa
Kelelahan akibat anxiety memiliki beberapa ciri yang berbeda dibandingkan rasa lelah setelah beraktivitas.
1. Lelah yang Tidak Membaik Setelah Istirahat
Seseorang tetap merasa lelah meski sudah tidur cukup. Bahkan pekerjaan ringan pun terasa menguras tenaga.
Berbeda dengan kelelahan biasa yang membaik setelah beristirahat, rasa letih akibat anxiety cenderung bertahan karena pikiran terus berada dalam kondisi aktif.
2. Sulit Berkonsentrasi
Gangguan kecemasan membuat seseorang kesulitan memusatkan perhatian. Pikiran dipenuhi kekhawatiran sehingga memicu kondisi yang sering disebut sebagai brain fog atau kabut otak.
Akibatnya, pekerjaan yang sebelumnya mudah dikerjakan menjadi lebih berat.
3. Nyeri Otot dan Ketegangan Tubuh
Anxiety juga dapat memicu ketegangan otot, terutama di leher, bahu, dan punggung. Pada sebagian orang, kondisi tersebut berkembang menjadi sakit kepala atau migrain.
Keluhan ini berbeda dengan nyeri akibat aktivitas fisik karena dipicu oleh respons stres yang berlangsung terus-menerus.
4. Gangguan Tidur
Kesulitan memulai tidur, sering terbangun, atau bangun tanpa merasa segar menjadi keluhan yang umum dialami penderita anxiety.
Kurangnya tidur berkualitas membuat tubuh semakin lelah dan memperburuk tingkat kecemasan.
5. Perubahan Emosi
Kelelahan akibat anxiety sering disertai perubahan suasana hati. Seseorang menjadi lebih mudah marah, sensitif, atau mengalami ledakan emosi tanpa penyebab yang jelas.
Selain lima gejala tersebut, anxiety juga dapat memunculkan keluhan fisik lain seperti jantung berdebar, detak jantung cepat, sesak napas, nyeri dada, pusing, mual, gangguan pencernaan, hingga keringat berlebihan.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Kelelahan yang berlangsung terus-menerus tidak boleh diabaikan, terutama jika disertai gejala kecemasan dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, konsultasi dengan dokter menjadi langkah yang disarankan.
Pemeriksaan medis penting dilakukan karena rasa lelah berkepanjangan tidak selalu disebabkan oleh anxiety. Keluhan tersebut juga dapat berkaitan dengan anemia, Covid-19, penyakit jantung, infeksi virus, depresi, sindrom kelelahan kronis, kanker, maupun gangguan fungsi tiroid.
Melalui pemeriksaan menyeluruh, dokter dapat menentukan penyebab utama kelelahan sekaligus memberikan penanganan yang sesuai. Dengan diagnosis yang tepat, risiko kondisi semakin memburuk dapat diminimalkan dan kualitas hidup dapat kembali membaik. (*)






