Javanusa.com—Stres akibat pekerjaan tidak hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan jantung hingga kematian dini.
Sejumlah penelitian mengungkap bahwa tekanan kerja berkepanjangan, terutama jika seseorang memiliki sedikit kendali terhadap pekerjaannya, dapat memperpendek harapan hidup.
Stres Kerja Tak Boleh Dianggap Sepele
Bekerja keras memang dapat membuka peluang karier dan meningkatkan kemampuan diri. Namun, ketika tekanan pekerjaan berubah menjadi stres berkepanjangan, dampaknya bisa jauh lebih serius daripada sekadar kelelahan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres kronis berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, gangguan irama jantung, hingga kematian mendadak. Karena itu, mengenali tanda-tanda stres sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan fisik maupun mental.
Gejala Stres karena Pekerjaan yang Perlu Diwaspadai
Stres kerja atau job burnout sering berkembang secara perlahan sehingga banyak orang tidak menyadari kondisinya. Akibatnya, gejala kerap diabaikan hingga mulai mengganggu kesehatan dan performa kerja.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan meliputi:
-
- Tubuh terus terasa lelah meski sudah beristirahat cukup.
- Motivasi untuk bekerja mulai menurun.
- Muncul pikiran negatif mengenai pekerjaan, rekan kerja, atau target yang harus dicapai.
- Sulit berkonsentrasi maupun mengingat informasi.
- Produktivitas menurun sehingga target dan tenggat waktu sering terlewat.
- Hubungan dengan rekan kerja, atasan, klien, atau keluarga menjadi kurang harmonis.
- Mengabaikan pola hidup sehat, seperti sering merokok, mengonsumsi kopi berlebihan, melewatkan waktu makan, atau bergantung pada obat tidur.
- Pikiran terus dipenuhi urusan pekerjaan meski sedang berada di rumah atau menikmati waktu libur.
Penelitian Ungkap Hubungan Stres dengan Kematian Mendadak
Hubungan antara stres dan kesehatan jantung telah menjadi perhatian para peneliti. Studi yang dilakukan Yale University School of Medicine menemukan bahwa tekanan mental dapat memicu gangguan irama jantung atau aritmia yang berpotensi menyebabkan kematian mendadak.
Hasil penelitian yang dipublikasikan American Heart Association dalam jurnal Circulation menunjukkan bahwa aritmia pada individu yang mengalami stres lebih sulit dikendalikan dibandingkan aritmia yang dipicu faktor lain.
Tekanan psikologis yang berat diketahui memengaruhi sistem kelistrikan jantung sehingga meningkatkan risiko serangan jantung yang fatal.
Temuan tersebut diperkuat penelitian Columbia University Medical Center yang berlangsung selama enam tahun.
Penelitian terhadap sekitar 5.000 peserta itu menunjukkan bahwa penderita penyakit jantung yang mengalami stres berat memiliki risiko lebih tinggi memasuki “periode rentan”, yaitu fase ketika kemungkinan mengalami kematian mendadak akibat komplikasi jantung meningkat.
Para peneliti mencatat periode tersebut umumnya berlangsung sekitar dua setengah tahun sebelum risikonya mulai menurun secara bertahap.
Stres Berkepanjangan Dapat Memperpendek Harapan Hidup
Selain berdampak pada kesehatan jantung, stres kerja juga dikaitkan dengan penurunan harapan hidup. Penelitian Indiana University Kelley School of Business selama tujuh tahun menemukan bahwa tingkat kendali seseorang terhadap pekerjaannya berperan penting terhadap risiko kematian.
Dalam penelitian itu, peneliti menilai dua faktor utama, yaitu besarnya tuntutan pekerjaan dan tingkat kebebasan pekerja dalam mengatur aktivitasnya.
Tuntutan pekerjaan mencakup beban kerja, durasi bekerja, hingga kebutuhan konsentrasi. Sementara itu, kendali kerja meliputi keleluasaan menentukan jadwal, alur pekerjaan, menyampaikan pendapat, dan mengambil keputusan.
Hasilnya menunjukkan bahwa individu dengan beban kerja tinggi tetapi memiliki sedikit kendali atas pekerjaannya menghadapi risiko kematian sekitar 15 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok lain.
Sebaliknya, pekerja yang memiliki keleluasaan mengatur pekerjaannya tercatat memiliki harapan hidup sekitar 34 persen lebih panjang dibandingkan mereka yang tidak memiliki kendali serupa.
Cara Mengurangi Risiko Stres Akibat Pekerjaan
Mengelola stres perlu dimulai dengan mengenali karakter dan pola kerja diri sendiri. Pemahaman tersebut membantu seseorang menyesuaikan strategi menghadapi tekanan sehingga pekerjaan tidak berubah menjadi sumber stres berkepanjangan.
Selain itu, memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat dapat membuat tantangan terasa lebih mudah dihadapi. Jika gejala stres mulai muncul, luangkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi sebelum tekanan semakin berat.
Menghabiskan waktu bersama keluarga, melakukan hobi, atau menjauh sejenak dari perangkat elektronik dapat membantu pikiran lebih rileks.
Langkah sederhana tersebut juga mengurangi kecenderungan terus memikirkan pekerjaan di luar jam kerja sehingga keseimbangan hidup tetap terjaga. (*)






