Javanusa.com—Durian memang menggoda untuk disantap dalam jumlah banyak. Namun, penggemar buah ini perlu memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi bersamaan.
Beberapa jenis asupan dapat memperberat keluhan pencernaan atau memengaruhi kondisi tertentu ketika dikonsumsi bersama durian. Karena itu, membatasi porsi dan memperhatikan kombinasi makanan tetap penting.
Makanan dan Minuman yang Perlu Diperhatikan
Dikutip dari KlikDokter, berikut sejumlah makanan dan minuman yang sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan durian.
1. Manggis
Durian dan manggis kerap dianggap sebagai kombinasi yang perlu dihindari karena dapat memicu sembelit.
Keduanya mengandung selulosa. Zat tersebut dapat menyerap air dan mengembang di dalam saluran pencernaan sehingga berpotensi membuat buang air besar lebih sulit.
2. Makanan Manis
Pengidap diabetes perlu lebih cermat ketika menyantap durian. Porsi kecil mungkin masih dapat masuk dalam pola makan tertentu, tetapi konsumsinya harus menyesuaikan kondisi masing-masing.
Masalah dapat muncul ketika durian dikonsumsi dalam jumlah banyak bersama makanan atau minuman tinggi gula. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan asupan gula dan berisiko memicu kenaikan kadar gula darah.
3. Seafood
Durian mengandung lemak, sementara beberapa jenis seafood juga memiliki kandungan lemak cukup tinggi. Kepiting menjadi salah satu contohnya.
Asupan tinggi lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Jika dikonsumsi bersamaan dalam jumlah banyak, kombinasi tersebut dapat membuat perut terasa penuh, tidak nyaman, atau memicu mual.
4. Kopi
Kombinasi durian dan kopi juga perlu mendapat perhatian, terutama bagi orang yang memiliki masalah jantung.
Kopi mengandung kafein yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan memengaruhi denyut jantung. Karena itu, orang dengan penyakit jantung sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai konsumsi kopi dan durian.
5. Minuman Beralkohol
Mengonsumsi durian bersama minuman beralkohol juga sebaiknya dihindari.
Kombinasi tersebut dapat memperburuk keluhan pada saluran pencernaan, seperti perut terasa penuh, bergas, atau nyeri. Risikonya dapat meningkat ketika seseorang mengonsumsi keduanya dalam jumlah banyak.
6. Susu
Olahan seperti milkshake durian menjadi salah satu cara populer menikmati buah tersebut. Namun, orang dengan hipertensi perlu memperhatikan kandungan keseluruhan minuman, termasuk tambahan gula.
Konsumsi durian bersama susu sering dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah. Jika memiliki hipertensi, sebaiknya batasi porsinya dan perhatikan respons tubuh.
7. Daging Kambing
Selanjutnya, makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan durian adalah daging kambing.
Daging kambing memiliki efek termogenik dalam proses metabolisme. Sementara itu, sebagian orang juga merasakan sensasi panas setelah makan durian.
Kombinasi keduanya dapat membuat sensasi tersebut terasa lebih kuat pada sebagian orang, terutama jika dikonsumsi dalam porsi besar.
8. Minuman Bersoda
Minuman bersoda mengandung karbonasi yang menghasilkan gas di dalam saluran pencernaan. Karena itu, mengonsumsinya bersama durian dapat membuat sebagian orang merasa lebih kembung.
Keluhan seperti perut begah dan rasa tidak nyaman juga dapat muncul. Sebaiknya beri jeda dan batasi jumlah konsumsi jika tubuh mudah mengalami kembung.
Jangan Berlebihan Saat Makan Durian
Selain memperhatikan makanan pendamping, jumlah durian yang dikonsumsi juga perlu dikendalikan.
Jika telanjur mengonsumsi durian bersama makanan atau minuman tersebut, perhatikan reaksi tubuh. Keluhan ringan seperti kembung atau mual dapat muncul setelah makan dalam jumlah berlebihan.
Untuk membantu meredakan keluhan pencernaan ringan, seseorang dapat mencoba minuman hangat seperti teh jahe. Antasida juga dapat digunakan sesuai aturan pakai jika keluhan berkaitan dengan asam lambung.
Namun, gejala berat atau keluhan yang tidak kunjung membaik memerlukan pemeriksaan medis. Terutama jika muncul nyeri hebat, muntah terus-menerus, sesak, atau gangguan kesehatan lain yang mengkhawatirkan.
Pada akhirnya, durian tetap dapat menjadi bagian dari pola makan yang seimbang. Kuncinya terletak pada porsi, frekuensi konsumsi, serta kondisi kesehatan masing-masing orang. (*)






