Padang, Javanusa—Institut Teknologi Padang (ITP) melakukan penguatan tebing sungai di kawasan Sawah Liek, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang.
Langkah ini dilakukan menyusul meningkatnya debit air sungai setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Aliran Sungai Siteba yang kerap meluap telah menggerus bantaran sungai dan merusak ruas jalan di sepanjang sisi aliran. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi karena berpotensi mengancam permukiman warga di sekitarnya.
Jika ruas jalan tersebut jebol, luapan air dikhawatirkan masuk ke kawasan permukiman dan berdampak langsung pada sekitar 300 kepala keluarga (KK) yang tinggal di area rawan.
Sebagai langkah mitigasi darurat, ITP melalui program ITP Peduli bekerja sama dengan kitabisa.com melakukan penguatan tanggul sementara. Penguatan dilakukan dengan memasang 1.000 jumbo bag sepanjang 103 meter di sisi sungai.
Pekerjaan ini didukung satu unit alat berat jenis ekskavator untuk mempercepat proses penguatan tebing. Langkah tersebut difokuskan pada titik-titik kritis yang mengalami erosi paling parah.
Debit Sungai Naik, Jalan Terancam Jebol
Koordinator ITP Peduli, Dr. Ir. Hendri Nofrianto, M.T, IPM mengatakan pengikisan bantaran sungai akibat debit air yang tinggi telah menyebabkan kerusakan serius pada badan jalan. Menurutnya, kondisi tersebut harus segera ditangani agar tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
“Jika jalan ini jebol, dampaknya akan langsung dirasakan sekitar 300 KK di lingkungan ini. Karena itu, kami melakukan penguatan darurat untuk mencegah luapan air,” ujar Hendri saat meninjau lokasi, Rabu (7/1).
Ia menjelaskan, pada banjir sebelumnya, permukaan air Sungai Siteba sempat nyaris sejajar dengan bibir sungai. Saat ini, jarak antara permukaan air dan badan jalan hanya tersisa sekitar dua meter.
Menurut Hendri, jika tidak segera ditangani, luapan air tidak hanya mengancam Sawahliek. Kawasan Lapai juga berpotensi terdampak banjir.
Ia memperkirakan, apabila ruas jalan jebol, air setinggi sekitar satu meter dapat menggenangi wilayah tersebut. Risiko inilah yang coba ditekan melalui penguatan tanggul sementara.
Bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi
Hendri menegaskan keterlibatan ITP merupakan wujud pengabdian kepada masyarakat sebagai pilar ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini juga sejalan dengan konsep Kampus Berdampak.
“Ini bukan sekadar kewajiban institusi, tetapi ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang memberi dampak langsung,” katanya.
Dorong Normalisasi Sungai oleh BWS Sumatera V
Meski demikian, Hendri menekankan penggunaan jumbo bag bersifat sementara. Ia berharap Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V segera melakukan pengerukan sedimen pasir dan lumpur di Sungai Siteba.
“Sedimentasi membuat kapasitas sungai berkurang. Saat hujan intensitas tinggi, air mudah meluap. Normalisasi sungai sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Warga Apresiasi Kepedulian ITP
Sementara itu, Ketua RW 03 Kelurahan Kampung Olo, Efri, menyampaikan apresiasi atas kepedulian ITP dan kitabisa.com. Ia menyebut trauma banjir besar tahun 1986 masih membekas di ingatan warga.
“Air waktu itu meluap sampai Lapai dan Jalan Khatib Sulaiman. Kami tidak ingin kejadian itu terulang,” kata Efri.
Ia menambahkan, warga juga bergerak secara swadaya dengan dukungan Yayasan Dar El Iman. Dengan tambahan satu ekskavator dari ITP Peduli, proses penguatan kini melibatkan dua alat berat dan ditargetkan rampung dalam empat hari ke depan. (*/red)






