Jakarta, Javanusa—Banyak orang rela mengurangi waktu tidur demi menyelesaikan pekerjaan atau memenuhi tuntutan aktivitas harian.
Namun, kebiasaan tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan mental dan fungsi otak.
Para ahli menilai hubungan antara tidur dan kesehatan mental bersifat timbal balik. Gangguan tidur dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang.
Sebaliknya, tekanan emosional dan stres juga sering menjadi penyebab seseorang sulit mendapatkan tidur yang cukup. Berikut ini dampak negatif kurang tidur bagi kesehatan mental.
1. Kurang Tidur Mengganggu Stabilitas Emosi
Salah satu dampak yang paling cepat muncul akibat kurang tidur adalah perubahan emosi. Ketika waktu istirahat berkurang, aktivitas amygdala, bagian otak yang berperan mengatur respons emosional, dapat meningkat hingga 60 persen.
Peningkatan aktivitas tersebut membuat otak lebih sulit mengendalikan emosi. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah marah, sensitif, atau bereaksi berlebihan terhadap situasi tertentu.
Selain itu, kurang tidur juga berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi. Kondisi ini dapat muncul sebagai akibat dari pola tidur yang buruk, sekaligus menjadi faktor yang memperburuk gangguan depresi yang sudah ada.
2. ADHD dan Gangguan Bipolar
Kurang tidur juga memiliki keterkaitan dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan hiperaktivitas dan defisit atensi. Gejala ADHD sering menyerupai dampak kurang tidur, seperti kesulitan berkonsentrasi, mengantuk pada siang hari, hiperaktif, dan perubahan suasana hati yang cepat.
Kondisi tersebut dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Dalam banyak kasus, gejala ADHD dan gangguan tidur muncul secara bersamaan sehingga memerlukan penanganan yang tepat.
Sementara itu, pada pengidap gangguan bipolar, kurang tidur dapat memperparah episode mania. Kondisi ini juga berpotensi memicu kelelahan berat yang membuat durasi tidur menjadi lebih panjang ketika memasuki fase depresi.
3. Risiko Gangguan Kecemasan Meningkat
Gangguan kecemasan menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang sering berhubungan dengan kualitas tidur yang buruk. Kurangnya waktu istirahat dapat meningkatkan risiko serangan panik, mimpi buruk, serta memperburuk kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi.
Karena itu, menjaga pola tidur yang sehat menjadi bagian penting dalam upaya mengelola kecemasan dan menjaga kesehatan mental secara keseluruhan.
4. Dampak Kurang Tidur pada Fungsi Otak
Kurang tidur juga memengaruhi kinerja otak. Seseorang umumnya dianggap mengalami kurang tidur jika hanya beristirahat kurang dari enam jam dalam semalam.
Saat kondisi ini berlangsung, otak harus bekerja lebih keras untuk melawan rasa kantuk yang terus muncul. Akibatnya, efisiensi kerja otak menurun dan kemampuan berpikir menjadi terganggu.
Salah satu dampak yang sering dirasakan adalah brain fog atau pikiran berkabut. Kondisi ini membuat seseorang sulit fokus, lambat mengambil keputusan, dan merasa tidak mampu berpikir secara jernih.
Selain itu, kurang tidur dapat mengganggu kemampuan mengingat. Gangguan tersebut bisa terjadi pada memori jangka pendek maupun memori jangka panjang. Padahal, proses penyimpanan dan penguatan memori berlangsung saat seseorang tidur.
Tidak hanya itu, minimnya waktu istirahat juga dapat menurunkan kemampuan mengendalikan perilaku serta menyusun rencana. Kondisi ini membuat seseorang lebih impulsif dan kurang efektif dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pentingnya Menjaga Kualitas Tidur
Tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan fungsi otak. Oleh karena itu, seseorang yang mengalami gangguan tidur berkepanjangan sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Dengan menjaga kualitas dan durasi tidur yang optimal, risiko berbagai gangguan psikologis maupun penurunan fungsi kognitif dapat diminimalkan. (*/red)






