Padang, Javanusa—Penyelenggara ibadah haji di Embarkasi Padang terus memperkuat keterlibatan petugas perempuan.
Langkah ini merespons dominasi jemaah perempuan sekaligus mendorong layanan yang ramah lansia, disabilitas, dan perempuan.
Petugas perempuan tidak lagi sekadar pelengkap dalam pelayanan haji. Mereka kini menempati posisi strategis di berbagai lini layanan.
Sejumlah kelompok terbang (kloter) bahkan menunjuk perempuan sebagai ketua kloter. Mereka bekerja bersama pembimbing ibadah dan tenaga kesehatan perempuan.
Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Barat, M. Rifki, menyebut tiga kloter di Embarkasi Padang dipimpin perempuan.
“Selain ketua kloter perempuan, pembimbing ibadah dan tenaga kesehatan perempuan juga cukup banyak terlibat dalam pelayanan,” ujar Rifki.
Dominasi Jemaah Perempuan
Rifki menjelaskan komposisi jemaah yang didominasi perempuan mendorong pendekatan layanan lebih adaptif. Kondisi ini menuntut kehadiran petugas perempuan dalam setiap proses pelayanan.
“Sebagian besar jemaah kita adalah perempuan. Karena itu, kehadiran petugas perempuan menjadi penting untuk memastikan pelayanan berjalan optimal dan sesuai kebutuhan,” katanya.
Ia menilai kehadiran petugas perempuan juga meningkatkan kenyamanan jemaah, terutama bagi lansia dan jemaah berkebutuhan khusus.
“Ini bagian dari komitmen kita menghadirkan layanan yang inklusif,” ujarnya.
Kedekatan Emosional dengan Jemaah Lansia
Ketua Kloter 3, Leni Marlina, merasakan langsung manfaat penguatan peran perempuan. Ia membangun kedekatan emosional saat melayani jemaah, khususnya lansia.
“Sesuai motto haji ramah lansia, saya sebagai ketua kloter perempuan merasa terpanggil untuk melayani jemaah lansia, karena mereka sangat membutuhkan pendampingan,” ujar Leni.
Ia menyebut jumlah jemaah perempuan yang lebih banyak di kloter 3 mempermudah pendekatan pelayanan. Kondisi ini menciptakan interaksi yang lebih hangat antara petugas dan jemaah.
“Jemaah perempuan di kloter kami lebih banyak. Kami merasa bangga dan senang bisa melayani mereka, apalagi lansia yang kami anggap seperti orang tua sendiri,” katanya.
Menurut Leni, hubungan antara petugas dan jemaah berjalan harmonis tanpa kendala berarti. Kedekatan emosional justru memperkuat kualitas pelayanan.
“Pelayanan kepada jemaah perempuan tidak ada kendala, justru lebih terintegrasi karena ada kedekatan emosional. Mereka menganggap kami sebagai anak, dan kami menganggap mereka sebagai orang tua,” ujarnya.
Layanan Inklusif dan Responsif
Keterlibatan aktif petugas perempuan di berbagai lini layanan membuat penyelenggaraan haji di Embarkasi Padang semakin responsif. Pendekatan ini membantu menjawab kebutuhan jemaah secara lebih tepat.
Penyelenggara haji terus menjaga komitmen menghadirkan layanan aman, nyaman, dan inklusif. Fokus layanan tetap mengutamakan jemaah perempuan dan lansia sebagai kelompok dominan. (*/red)






