Kemenperin–BSN Perkuat IKM Batik Lewat Standardisasi Produk

Penulis -

Minggu, 23 November 2025 - 06:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat daya saing IKM batik dengan mendorong pemenuhan standar mutu nasional. (Foto: Kemenperin)

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat daya saing IKM batik dengan mendorong pemenuhan standar mutu nasional. (Foto: Kemenperin)

Jakarta, Javanusa—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) batik dengan mendorong pemenuhan standar mutu nasional.

Langkah ini untuk memastikan keaslian, kualitas, sekaligus keberlanjutan batik sebagai warisan budaya Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, standardisasi menjadi instrumen penting untuk menjaga posisi batik sebagai identitas bangsa dan komoditas industri berdaya saing tinggi.

“Batik bukan sekadar produk industri, tetapi simbol kebudayaan yang diakui dunia. Karena itu mutunya harus dijaga melalui standardisasi yang sesuai kaidah produksi batik asli. Penerapan SNI Batik akan memperkuat kepercayaan konsumen dan membuka pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (22/11).

Agus mengapresiasi sinergi Badan Standardisasi Nasional (BSN) dengan Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB). Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi fondasi percepatan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi lebih banyak pelaku usaha batik di berbagai daerah.

“Kami menilai langkah kolaboratif seperti bimbingan teknis dan fasilitasi sertifikasi adalah kunci dalam memperkuat struktur industri batik nasional,” tambahnya.

SNI Tegaskan Keaslian dan Proses Produksi Batik

Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) bersama BBSPJIKB menjalin kolaborasi strategis dengan BSN untuk memperluas penerapan SNI pada produk batik.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menjelaskan batik merupakan warisan budaya takbenda Indonesia yang telah diakui UNESCO sejak 2009, sehingga keaslian proses produksinya perlu dijaga melalui penerapan standar yang jelas.

Ia memaparkan, karakteristik batik asli tercantum dalam SNI 0239:2019, yang kemudian dirinci ke dalam beberapa jenis, yakni:

    • Batik tulis (SNI 8302:2016)
    • Batik cap (SNI 8303:2016)
    • Batik kombinasi (SNI 8304:2016), yaitu perpaduan batik tulis dan batik cap
Baca Juga :  Kualitas Kopi Nasional, Kemenperin Gelar Sertifikasi Penyangraian

Keaslian batik ditandai antara lain oleh penggunaan malam panas sebagai perintang warna, pemakaian canting tulis atau canting cap sebagai alat utama pencipta motif, serta keberadaan makna pada setiap motif yang dihasilkan.

“Dengan adanya SNI, pembeli bisa lebih mudah membedakan batik asli dengan kain bermotif batik atau batik print yang diproduksi secara massal. Standar ini bertujuan menjaga kualitas dan memastikan praktik produksi batik berjalan sesuai pakem yang benar,” ujar Reni.

Ditjen IKMA sebelumnya telah menyelenggarakan webinar tentang standardisasi batik sebagai sarana edukasi bagi pelaku IKM. Program ini dilanjutkan dengan fasilitasi penerapan SNI bagi IKM batik binaan, bekerja sama dengan BSN dan BBSPJIKB.

IKM Batik DIY Didorong Sukses Ber-SNI

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penerapan SNI bertema “IKM Batik Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya Sukses Ber-SNI” yang digelar pada 21 Oktober 2025 di Yogyakarta.

Sebanyak 15 IKM mengikuti pendampingan teknis, sementara tujuh IKM lainnya berhasil memperoleh fasilitasi sertifikat SNI Batik. Tujuh IKM tersebut adalah Batik Geulis Handayani, CV Karya Satu Rumah, Batik Duo Serangkai, Soendari Batik, Bengkel Batik, Vandriel Batik, dan Gifara Batik.

Reni berharap, kegiatan serupa dapat menginspirasi daerah lain untuk mengadopsi standardisasi yang sama sehingga jumlah perajin batik ber-SNI terus bertambah.

“Inisiatif seperti ini penting untuk mempertebal fondasi industri batik nasional dan memastikan keberlanjutannya di masa depan,” katanya.

IKM Diminta Konsisten Terapkan Standar

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan, menjelaskan Bimtek penerapan SNI dirancang untuk memberikan pemahaman menyeluruh kepada pelaku IKM mengenai sistem produksi yang baik, manajemen mutu, dan kesiapan teknis dalam proses sertifikasi SNI.

Baca Juga :  Tingkatkan SDM Manufaktur Nasional, RI-Swiss Perkuat Kurikulum Vokasi Industri IBC

Ia menegaskan, pemenuhan standar bukan sekadar formalitas administrasi, tetapi praktik penting yang menentukan kualitas produk di lapangan.

Budi menyoroti perlunya efisiensi dan konsistensi dalam proses produksi agar IKM mampu memenuhi persyaratan SNI Batik. Menurutnya, pengelolaan bahan baku, pemilihan kain, ketahanan warna, kerapian motif, serta kontrol mutu di setiap tahap produksi harus menjadi perhatian serius.

“Dengan mengikuti standar yang tepat, tingkat kecacatan produksi dapat ditekan, sementara kredibilitas usaha meningkat. Hal ini otomatis memperluas peluang pasar dan membuka kesempatan masuk ke segmen premium maupun ekspor,” tuturnya.

Ia menambahkan, proses sertifikasi memang memerlukan waktu karena melalui tahapan verifikasi dan evaluasi yang ketat. Namun, nilai jangka panjangnya dinilai sangat besar bagi keberlanjutan usaha.

“Kegiatan ini membuka ruang sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memperkuat industri batik nasional. Standar mutu adalah salah satu tiang utama keberlanjutan,” kata Budi.

Upaya standardisasi ini tidak hanya menjaga kelestarian budaya batik, tetapi juga mendorong batik menjadi sektor industri unggulan yang memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian daerah maupun nasional. (*/red)

Berita Terkait

Kaleb J Rilis Tanda Cinta, Lagu tentang Janji Setia hingga Seumur Hidup
Presiden Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel di IWIP Senilai Rp180 Triliun
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat di Pasaman Barat dan Pesisir Selatan Hari Ini
Kepala BGN Sudaryono: Insentif MBG Kini Lebih Adil, Proporsional dan Efisien
Uji Coba MBG Sistem Prasmanan, BGN Ingin Makanan Lebih Hangat dan Segar di Sekolah
MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah SLTA, tapi Tak Batalkan sebagai Wapres
Pemerintah Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah dan Madrasah hingga 2029, Kemenag Siap Bersinergi
Kemenag Buka Bantuan S2 dan S3 hingga Rp25 Juta, Cek Syarat dan Jadwalnya

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:49 WIB

Semen Padang FC Bidik 3 Poin atas Persikad, Teco Pantau Kondisi Pemain

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Atlet Dayung Kota Padang Sabet Emas Nomor 1.000 Meter di Porprov XVI Sumbar 2026

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:14 WIB

Nofri Rinaldi Sumbang Emas, Payakumbuh Makin Dekat dengan Target Porprov Sumbar 2026

Jumat, 9 Oktober 2026 - 18:36 WIB

Tembus Final Porprov Sumbar 2026, Empat Petarung Wushu Payakumbuh Bidik Emas  

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:16 WIB

Anak Sasian PPS Sakato Semen Padang Raih 1 Emas dan 4 Perunggu di Porprov XVI Sumbar 2026

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:21 WIB

Kabaddi Kota Padang Borong 8 Emas Porprov XVI Sumbar 2026

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:52 WIB

Futsal Porprov XVI Sumbar 2026 Masuk 8 Besar, Ini Jadwal dan Daftar Tim Lolos

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:20 WIB

Balap Motor Kota Padang Sabet 3 Emas di Porprov Sumbar 2026, Target Juara Umum Makin Terbuka

Berita Terbaru