Javanusa.com—Seseorang yang berulang kali berselingkuh belum tentu akan mengulangi perilaku yang sama selamanya. Namun, perubahan tidak cukup hanya dengan penyesalan atau janji untuk setia.
Perselingkuhan merupakan perilaku kompleks yang dapat muncul karena berbagai faktor psikologis. Karena itu, pasangan yang menghadapi perselingkuhan berulang perlu melihat penyebab di balik perilaku tersebut.
Mengapa seseorang berulang kali selingkuh?
Perselingkuhan tidak selalu muncul karena hubungan yang buruk. Dalam sejumlah kasus, masalah justru berkaitan dengan kondisi psikologis dan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Linda Hatch, Ph.D., psikolog klinis sekaligus anggota American Psychological Association, menjelaskan bahwa seseorang dapat mencari hubungan lain ketika merasa terintimidasi oleh pasangannya.
Kondisi itu bisa muncul ketika pasangan dianggap lebih sukses, lebih menarik, atau memiliki pencapaian yang jauh lebih tinggi. Perasaan minder kemudian mendorong seseorang mencari orang lain yang membuat dirinya merasa lebih unggul atau dihargai.
Merasa tidak mendapatkan penghargaan
Alasan lain yang dapat mendorong perselingkuhan adalah anggapan bahwa pasangan tidak menghargai dirinya secara utuh.
Seseorang mungkin merasa pasangannya hanya mencintai karena faktor tertentu, seperti kondisi ekonomi. Ia kemudian mencari orang lain yang dianggap mampu menghargai kepribadian, humor, perhatian, atau kelebihan lain dalam dirinya.
Namun, anggapan tersebut belum tentu sesuai dengan kenyataan. Bisa saja pasangan sebenarnya memberikan penghargaan secara penuh, tetapi individu tersebut gagal mengenalinya.
Dalam kondisi seperti ini, persoalannya dapat berkaitan dengan rasa percaya diri yang rendah. Karena itu, perselingkuhan tidak otomatis menunjukkan bahwa pasangan memiliki kekurangan.
Dorongan seksual yang sulit dikendalikan
Pada sebagian orang, perselingkuhan juga berkaitan dengan dorongan seksual yang sangat kuat dan sulit dikendalikan.
Ketika seseorang tidak mampu mengendalikan dorongan tersebut, ia dapat terus mencari hubungan seksual baru meski sudah memiliki pasangan. Bahkan, pengalaman ketahuan atau konsekuensi sebelumnya belum tentu menghentikan perilaku tersebut.
Kondisi seperti ini membutuhkan perhatian yang berbeda karena masalah utamanya bukan sekadar ketidaksetiaan dalam hubungan.
Apakah tukang selingkuh benar-benar bisa berubah?
Orang yang berulang kali berselingkuh tetap memiliki kemungkinan untuk berubah. Namun, perubahan membutuhkan kesadaran terhadap akar masalah dan kemauan untuk mengubah pola perilaku.
Permintaan maaf setelah perselingkuhan tidak cukup menjadi bukti bahwa seseorang telah berubah. Begitu pula rasa bersalah setelah menyakiti pasangan belum tentu mampu mencegah kejadian serupa pada masa mendatang.
Langkah penting justru dimulai dengan memahami alasan seseorang memilih perselingkuhan. Apakah karena rasa minder, kebutuhan akan pengakuan, masalah dalam hubungan, atau ketidakmampuan mengendalikan dorongan tertentu?
Menurut psikolog klinis dan konseling Jay Kent-Ferraro, Ph.D., pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekadar mempertanyakan apakah seorang tukang selingkuh dapat berubah.
Perubahan dimulai dari mengenali akar masalah
Seseorang yang menyadari dirinya merasa minder terhadap pasangan, misalnya, perlu menghadapi persoalan tersebut secara langsung.
Komunikasi yang lebih terbuka dapat menjadi salah satu langkah. Pengembangan diri juga dapat membantu membangun rasa percaya diri tanpa harus mencari validasi melalui hubungan dengan orang lain.
Dengan memahami pemicu perselingkuhan, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk mengubah pola pikir dan perilakunya.
Perubahan memang tidak selalu mudah. Seseorang perlu mengenali pola yang berulang, memahami emosinya, serta bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat.
Konseling dapat membantu menghentikan pola perselingkuhan
Jika seseorang kesulitan menemukan penyebab perilakunya sendiri, konseling psikologis dapat menjadi pilihan.
Psikolog atau terapis dapat membantu mengidentifikasi pola pikir, emosi, dan perilaku yang mendorong seseorang kembali berselingkuh. Pendekatan tersebut juga dapat membantu individu membangun strategi untuk menghadapi pemicu tanpa kembali mengkhianati pasangan.
Jadi, pertanyaan apakah tukang selingkuh bisa berubah tidak memiliki jawaban mutlak. Perubahan sangat bergantung pada kesadaran, kemauan, serta kesediaan seseorang untuk menghadapi akar masalahnya.
Tanpa upaya tersebut, janji untuk tidak mengulangi perselingkuhan berisiko hanya menjadi ucapan tanpa perubahan perilaku yang nyata. (*)






