Kenapa Sering Tidur Saat Menghadapi Masalah? Ini 8 Kemungkinan Penyebabnya

Penulis -

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi tidur saat menghadapi masalah. (Foto: Pexels)

Ilustrasi tidur saat menghadapi masalah. (Foto: Pexels)

Javanusa.com—Tidur memang membantu tubuh memulihkan energi setelah menjalani aktivitas yang melelahkan.

Namun, kebiasaan tidur berlebihan setiap kali menghadapi masalah bisa menunjukkan adanya persoalan yang lebih dalam.

Sesekali tidur siang untuk melepas penat tentu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Masalah dapat muncul ketika seseorang menjadikan tidur sebagai cara utama untuk menghindari stres, tekanan, atau emosi yang sulit dihadapi.

Kurang tidur dapat mengganggu aktivitas kerja dan hubungan sosial. Sebaliknya, terlalu banyak tidur juga dapat berkaitan dengan berbagai persoalan fisik maupun psikologis.

Lantas, mengapa seseorang memilih tidur ketika sedang menghadapi situasi yang tidak menyenangkan?

1. Sedang menghadapi tekanan emosional

Putus cinta, kehilangan pekerjaan, konflik keluarga, atau pengalaman berat lainnya dapat memicu respons stres. Pada kondisi tertentu, seseorang memilih menarik diri dan menghabiskan lebih banyak waktu di tempat tidur.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara depresi dan kebiasaan tidur berlebihan. Sekitar 15 persen orang dengan depresi dilaporkan menghabiskan lebih banyak waktu di tempat tidur untuk menghadapi gejalanya.

Yang menarik, seseorang belum tentu menyadari bahwa kebiasaan tersebut berkaitan dengan kondisi emosional. Tidur kemudian menjadi semacam pelarian ketika mereka merasa tidak memiliki hal yang bisa dinantikan.

2. Stres berkepanjangan membuat tubuh kelelahan

Tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat menguras energi. Seseorang bahkan bisa merasa sangat lelah tanpa memahami bahwa stres menjadi salah satu pemicunya.

Stres juga dapat mengganggu kualitas tidur. Ketika tidur malam terganggu, seseorang mungkin mencoba menggantinya dengan tidur lebih lama pada siang atau pagi hari.

Akibatnya, waktu yang dihabiskan di tempat tidur semakin panjang dan pola tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan.

3. Rasa percaya diri sedang menurun

Harga diri yang rendah dapat memengaruhi pola tidur dengan cara berbeda. Sebagian orang mengalami tidur yang terganggu, sedangkan lainnya justru sulit meninggalkan tempat tidur.

Baca Juga :  Pipi Kempot? Ini Penyebab dan Cara Membuat Wajah Tampak Lebih Berisi

Perasaan tidak cukup baik juga dapat membuat seseorang menghindari lingkungan sosial. Tempat tidur kemudian terasa lebih aman dibandingkan situasi yang membuat mereka merasa tidak percaya diri.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan menarik diri tersebut dapat memperkuat perasaan terisolasi.

4. Duka dan kehilangan belum terselesaikan

Kehilangan orang terdekat atau sesuatu yang sangat berarti dapat mengubah rutinitas seseorang secara drastis. Duka juga dapat menguras energi dan membuat aktivitas sehari-hari terasa jauh lebih berat.

Pada sebagian orang, kondisi tersebut muncul dalam bentuk kelelahan berkepanjangan. Mereka akhirnya menghabiskan lebih banyak waktu di tempat tidur karena merasa tidak memiliki tenaga untuk melakukan aktivitas lain.

Perubahan pola tidur dapat menjadi bagian dari proses berduka. Namun, tidur berlebihan yang berlangsung lama perlu mendapat perhatian, terutama jika mengganggu kehidupan sehari-hari.

5. Kesepian membuat seseorang memilih mengisolasi diri

Kesepian dapat membuat seseorang menjauh dari lingkungan sosial. Ketika interaksi dengan orang lain terasa sulit, tempat tidur bisa menjadi ruang untuk menghindari perasaan tersebut.

Kondisi ini dapat menciptakan lingkaran yang tidak sehat. Semakin seseorang mengisolasi diri, semakin besar kemungkinan munculnya perasaan terputus dari lingkungan sekitar.

Kurang tidur juga berkaitan dengan kemampuan seseorang membangun kedekatan dengan orang lain. Karena itu, menjaga pola tidur yang sehat tetap penting ketika menghadapi kesepian.

6. Tidur menjadi cara menghindari rasa bersalah

Rasa bersalah yang kuat dapat membuat seseorang ingin menghindari situasi atau orang yang mengingatkan mereka pada kesalahan tersebut.

Dalam kondisi tertentu, tidur menjadi cara paling mudah untuk mengalihkan perhatian dari perasaan tidak nyaman. Berbaring di tempat tidur membuat seseorang tidak perlu segera menghadapi masalah yang menimbulkan rasa bersalah.

Baca Juga :  Terlalu Sering Makan Seblak Bisa Picu Masalah Kesehatan, Ini 6 Risikonya

Padahal, penyelesaian masalah biasanya membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan dan mengambil tindakan. Menghindarinya terus-menerus dapat membuat persoalan semakin sulit diselesaikan.

7. Kelelahan mungkin berkaitan dengan masalah kesehatan

Tidur berlebihan tidak selalu berkaitan dengan kondisi psikologis. Berbagai gangguan kesehatan juga dapat menyebabkan kelelahan dan meningkatkan kebutuhan untuk beristirahat.

Penyakit Parkinson dan hipotiroidisme, misalnya, dapat menimbulkan kelelahan. Beberapa kondisi kesehatan mental juga dapat memengaruhi energi dan pola tidur seseorang.

Nyeri kronis menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan. Tidur mungkin terasa sebagai satu-satunya waktu ketika seseorang terbebas sementara dari rasa sakit.

Karena itu, perubahan pola tidur yang berlangsung lama sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kebiasaan biasa.

8. Kekecewaan yang terus berulang

Kekecewaan berkepanjangan dapat memengaruhi motivasi seseorang. Ketika harapan berulang kali tidak sesuai kenyataan, aktivitas yang sebelumnya terasa penting bisa kehilangan makna.

Kondisi tersebut dapat terjadi setelah seseorang mengalami kegagalan di sekolah, pekerjaan, hubungan, maupun lingkungan keluarga.

Kekecewaan juga memiliki kaitan dengan depresi. Ketika motivasi menurun dan kelelahan terus muncul, seseorang mungkin memilih berbaring dan tidur daripada menghadapi situasi yang mengecewakan.

Tidur bukan selalu solusi untuk menghindari masalah

Tidur tetap menjadi kebutuhan penting bagi tubuh. Namun, jika seseorang terus menggunakan tidur sebagai cara untuk menghindari tekanan emosional, kebiasaan tersebut perlu diperhatikan.

Perubahan pola tidur yang berlangsung lama, disertai kelelahan, kehilangan motivasi, menarik diri dari lingkungan sosial, atau kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, dapat menjadi tanda adanya masalah yang perlu ditangani.

Mengenali penyebabnya merupakan langkah awal. Jika kondisi tersebut menetap atau mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menemukan penyebab dan penanganan yang sesuai. (*)

Baca Juga :  Klasemen Grup B Piala Dunia 2026: Empat Tim Sama-Sama Raih Satu Poin, Perebutan Tiket 32 Besar Kian Sengit

Berita Terkait

Kenali 7 Ciri Penyakit Jantung pada Wanita, Jangan Abaikan Gejala Awalnya
Perkuat Pariwisata Kesehatan Sumbar, Fadly Amran Dorong Digitalisasi Herbal
Lem Gigi Palsu: Jangan Asal Pilih, Ini Cara Menggunakannya dengan Aman
Jerawat Pasir di Wajah Sulit Hilang? Ini 5 Cara Mengatasinya dengan Aman
Jantung Koroner: Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Menurunkan Risikonya
Cacar Air pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Kapan Harus ke Dokter
Cara Membaca Hasil USG 4D Saat Hamil, Ini Istilah dan Angka yang Perlu Dipahami
Rutin Minum Jus Wortel, Apa Benar Bisa Menyehatkan Mata dan Kulit?

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru