Benarkah Orang yang Hidup Membujang Lebih Rentan Depresi? Ini Penjelasan dan Fakta Penelitiannya

Penulis -

Kamis, 30 Juli 2026 - 08:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi wanita tinggal sendiri. (Foto: Pexels)

Ilustrasi wanita tinggal sendiri. (Foto: Pexels)

Javanusa.com—Meningkatnya tren hidup membujang atau tinggal sendiri menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.

Meski menawarkan kebebasan dan privasi, sejumlah penelitian menunjukkan kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, termasuk depresi dan kesepian, pada sebagian orang.

Semakin banyak orang memilih hidup sendiri karena berbagai alasan, mulai dari mengejar karier, pendidikan, hingga pilihan gaya hidup.

Namun, keputusan tersebut ternyata tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi juga berpotensi berdampak pada kondisi psikologis.

Sejumlah penelitian menemukan orang yang tinggal sendiri memiliki risiko lebih besar mengalami kesepian, depresi, hingga pola makan yang kurang sehat. Meski demikian, dampaknya tidak selalu sama pada setiap individu.

Kesepian Menjadi Risiko yang Paling Sering Muncul

Kesepian merupakan salah satu konsekuensi yang paling banyak dialami oleh mereka yang hidup sendiri. Orang yang tinggal sendirian umumnya lebih sering merasakan keterasingan dibandingkan mereka yang tinggal bersama pasangan, keluarga, atau teman serumah.

Di sisi lain, hidup sendiri memang dapat mengurangi potensi konflik atau pertengkaran sehari-hari. Namun, kondisi tersebut juga bisa membatasi kesempatan membangun hubungan sosial yang bermakna serta memperoleh dukungan emosional dari orang terdekat.

Risiko ini menjadi lebih besar bagi kelompok tertentu, seperti individu yang memiliki keterbatasan fisik. Hambatan mobilitas dapat membuat mereka semakin sulit bersosialisasi dan meninggalkan rumah.

Selain itu, banyaknya waktu yang dihabiskan seorang diri membuat interaksi sosial semakin berkurang. Padahal, hubungan dengan orang lain berperan penting dalam mengurangi rasa kesepian dan memperkuat dukungan sosial.

Penelitian Menunjukkan Risiko Depresi Lebih Tinggi

Berbagai studi juga mengaitkan hidup membujang dengan meningkatnya risiko depresi dan gangguan kesehatan mental lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan pria dewasa yang tinggal sendiri cenderung mengalami tingkat depresi lebih tinggi dibandingkan pria yang tinggal bersama pasangan atau anggota keluarga. Risiko serupa juga ditemukan pada perempuan yang baru pertama kali hidup sendiri setelah bercerai atau ditinggal meninggal pasangan.

Baca Juga :  Mengenal Cowok Semangka, Terlihat Green Flag tetapi Bisa Jadi Red Flag

Sebuah penelitian di Finlandia yang melibatkan sekitar 3.500 pria dan wanita berusia 30 hingga 65 tahun menemukan bahwa individu yang tinggal sendiri lebih sering memperoleh resep serta mengonsumsi obat antidepresan.

Temuan tersebut berbeda dengan kelompok yang tinggal bersama pasangan, keluarga, maupun teman serumah. Pada kelompok ini, hanya sekitar 16 persen yang tercatat menggunakan obat antidepresan.

Hidup Sendiri Juga Berkaitan dengan Pola Makan

Selain kesehatan mental, tinggal sendiri juga dapat memengaruhi pola konsumsi makanan sehari-hari.

Beberapa penelitian menunjukkan orang yang hidup sendiri cenderung mengonsumsi lebih sedikit sayuran dibandingkan mereka yang tinggal bersama pasangan atau keluarga.

Sebaliknya, individu yang tinggal bersama orang lain lebih terdorong untuk memasak dan mengonsumsi makanan bergizi. Kebiasaan tersebut membantu menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.

Tidak Semua Orang yang Membujang Akan Mengalami Depresi

Meski sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara hidup sendiri dan depresi, kondisi tersebut tidak berlaku bagi semua orang.

Pengaruh hidup membujang terhadap kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, kepribadian, serta kualitas hubungan sosial yang dimiliki seseorang.

Karena itu, hidup sendiri tidak selalu identik dengan masalah psikologis. Selama seseorang tetap memiliki jaringan sosial yang baik, aktif berinteraksi, dan menjaga gaya hidup sehat, risiko gangguan kesehatan mental dapat diminimalkan. (*)

Berita Terkait

Suami yang Baik Bukan Harus Sempurna, Ini Cara Membangun Rumah Tangga Penuh Cinta
Cara Mengembalikan Semangat Hidup Saat Merasa Hampa, Ini Langkah Sederhananya
Benarkah Wanita Selalu Benar? Ini Kata Psikolog
Wanita Mengajak Menikah Duluan, Lumrah Kah? Ini Penjelasan Psikolog
Benarkah Pernikahan Paling Rawan di Tahun Ketujuh? Ini 5 Fase yang Perlu Diketahui
Perselingkuhan di Tempat Kerja Bisa Berawal dari Kedekatan, Ini Cara Mencegahnya
10 Ciri Pasangan Mulai Bosan dalam Hubungan, Kenali Tandanya
Mengenal Cowok Semangka, Terlihat Green Flag tetapi Bisa Jadi Red Flag

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:50 WIB

David Silva Comeback dari Pensiun, Gabung Klub Hong Kong Supreme Sha Tin

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Usai Bertugas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pedro Rodriguez Umumkan Pensiun

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:54 WIB

Edo Vernando Sumbang Emas Pertama Biliar Kota Padang di Porprov Sumbar 2026

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Jadwal Lengkap Pertamina Grand Prix Indonesia: MotoGP, Sprint, hingga Balapan Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

MotoGP Mandalika 2026: Perebutan Gelar Memanas, Martin dan Marquez Cuma Terpaut 2 Poin

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Gulat Sumbang Dua Emas, Pasbar Buka Perolehan Medali di Porprov XVI Sumbar 2026

Berita Terbaru

Mikel Arteta sepakat memperpanjang kontrak di Arsenal. (Foto: IG @mikelarteta)

Olahraga

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Okt 2026 - 08:06 WIB