Javanusa.com—Meningkatnya tren hidup membujang atau tinggal sendiri menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
Meski menawarkan kebebasan dan privasi, sejumlah penelitian menunjukkan kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, termasuk depresi dan kesepian, pada sebagian orang.
Semakin banyak orang memilih hidup sendiri karena berbagai alasan, mulai dari mengejar karier, pendidikan, hingga pilihan gaya hidup.
Namun, keputusan tersebut ternyata tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi juga berpotensi berdampak pada kondisi psikologis.
Sejumlah penelitian menemukan orang yang tinggal sendiri memiliki risiko lebih besar mengalami kesepian, depresi, hingga pola makan yang kurang sehat. Meski demikian, dampaknya tidak selalu sama pada setiap individu.
Kesepian Menjadi Risiko yang Paling Sering Muncul
Kesepian merupakan salah satu konsekuensi yang paling banyak dialami oleh mereka yang hidup sendiri. Orang yang tinggal sendirian umumnya lebih sering merasakan keterasingan dibandingkan mereka yang tinggal bersama pasangan, keluarga, atau teman serumah.
Di sisi lain, hidup sendiri memang dapat mengurangi potensi konflik atau pertengkaran sehari-hari. Namun, kondisi tersebut juga bisa membatasi kesempatan membangun hubungan sosial yang bermakna serta memperoleh dukungan emosional dari orang terdekat.
Risiko ini menjadi lebih besar bagi kelompok tertentu, seperti individu yang memiliki keterbatasan fisik. Hambatan mobilitas dapat membuat mereka semakin sulit bersosialisasi dan meninggalkan rumah.
Selain itu, banyaknya waktu yang dihabiskan seorang diri membuat interaksi sosial semakin berkurang. Padahal, hubungan dengan orang lain berperan penting dalam mengurangi rasa kesepian dan memperkuat dukungan sosial.
Penelitian Menunjukkan Risiko Depresi Lebih Tinggi
Berbagai studi juga mengaitkan hidup membujang dengan meningkatnya risiko depresi dan gangguan kesehatan mental lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan pria dewasa yang tinggal sendiri cenderung mengalami tingkat depresi lebih tinggi dibandingkan pria yang tinggal bersama pasangan atau anggota keluarga. Risiko serupa juga ditemukan pada perempuan yang baru pertama kali hidup sendiri setelah bercerai atau ditinggal meninggal pasangan.
Sebuah penelitian di Finlandia yang melibatkan sekitar 3.500 pria dan wanita berusia 30 hingga 65 tahun menemukan bahwa individu yang tinggal sendiri lebih sering memperoleh resep serta mengonsumsi obat antidepresan.
Temuan tersebut berbeda dengan kelompok yang tinggal bersama pasangan, keluarga, maupun teman serumah. Pada kelompok ini, hanya sekitar 16 persen yang tercatat menggunakan obat antidepresan.
Hidup Sendiri Juga Berkaitan dengan Pola Makan
Selain kesehatan mental, tinggal sendiri juga dapat memengaruhi pola konsumsi makanan sehari-hari.
Beberapa penelitian menunjukkan orang yang hidup sendiri cenderung mengonsumsi lebih sedikit sayuran dibandingkan mereka yang tinggal bersama pasangan atau keluarga.
Sebaliknya, individu yang tinggal bersama orang lain lebih terdorong untuk memasak dan mengonsumsi makanan bergizi. Kebiasaan tersebut membantu menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Tidak Semua Orang yang Membujang Akan Mengalami Depresi
Meski sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara hidup sendiri dan depresi, kondisi tersebut tidak berlaku bagi semua orang.
Pengaruh hidup membujang terhadap kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, kepribadian, serta kualitas hubungan sosial yang dimiliki seseorang.
Karena itu, hidup sendiri tidak selalu identik dengan masalah psikologis. Selama seseorang tetap memiliki jaringan sosial yang baik, aktif berinteraksi, dan menjaga gaya hidup sehat, risiko gangguan kesehatan mental dapat diminimalkan. (*)






