Javanusa.com—Membaca buku bukan sekadar aktivitas untuk menambah wawasan. Sejumlah penelitian menunjukkan, kebiasaan membaca dapat meningkatkan aktivitas otak, memperkuat kemampuan memahami emosi, serta membantu seseorang melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Di tengah dominasi televisi dan berbagai hiburan berbasis layar, kebiasaan membaca buku justru semakin penting. Aktivitas tersebut memberikan rangsangan yang berbeda terhadap otak, terutama ketika pembaca terlibat secara emosional dalam cerita.
Membaca meningkatkan aktivitas sejumlah area otak
Salah satu penelitian mengenai manfaat membaca dilakukan para peneliti dari Emory University pada 2013. Peneliti membandingkan hasil pemindaian otak orang yang gemar membaca dengan kelompok yang tidak memiliki kebiasaan tersebut.
Sebelumnya, seluruh peserta diminta membaca sebuah karya literatur klasik. Hasil pemindaian menunjukkan adanya perbedaan aktivitas otak di antara kedua kelompok.
Pada pembaca yang memiliki kebiasaan membaca, aktivitas dan konektivitas meningkat pada sejumlah bagian otak. Salah satunya korteks temporal kiri yang berperan dalam pemahaman bahasa.
Peneliti juga menemukan peningkatan konektivitas pada sulkus sentral. Area tersebut termasuk bagian sensorik primer yang berkaitan dengan kemampuan otak dalam memvisualisasikan gerakan.
Temuan ini menunjukkan bahwa membaca cerita tidak hanya melibatkan proses memahami kata. Ketika pembaca membayangkan pengalaman yang dialami tokoh dalam cerita, otak juga dapat merespons seolah-olah pembaca ikut berada dalam situasi tersebut.
Misalnya, ketika sebuah cerita menggambarkan seseorang menyelam di laut dengan terumbu karang dan ikan berwarna-warni, pembaca dapat membangun gambaran pengalaman tersebut dalam pikirannya.
Proses serupa terjadi ketika pembaca mengidentifikasi dirinya dengan karakter. Emosi dan pengalaman tokoh dapat terasa lebih nyata sehingga mendorong keterlibatan emosional.
Membaca fiksi berkaitan dengan kemampuan berempati
Hubungan antara membaca dan empati juga mendapat perhatian dalam penelitian Matthijs Bal dan Martijn Verltkamp pada 2013.
Keduanya meneliti bagaimana pembaca dapat mengalami keterlibatan emosional setelah mengikuti sebuah cerita. Peserta diminta menilai seberapa kuat cerita yang mereka baca memengaruhi kondisi emosional mereka.
Penilaian tersebut mencakup berbagai situasi. Misalnya, perasaan ketika tokoh utama memperoleh keberhasilan atau ketika karakter dalam cerita mengalami kesedihan dan kesulitan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya empati pada kelompok yang membaca fiksi dan benar-benar terbawa oleh alur cerita. Sebaliknya, kelompok yang tidak memiliki ketertarikan terhadap aktivitas membaca menunjukkan penurunan empati.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman membaca fiksi dapat berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami dan merasakan kondisi emosional orang lain.
Literatur klasik mendorong pembaca memahami karakter lebih dalam
Jenis bacaan juga dapat memengaruhi pengalaman pembaca. Literatur klasik, misalnya, sering menghadirkan karakter dengan kepribadian, konflik, serta motivasi yang kompleks.
Kondisi tersebut membuat pembaca perlu memahami karakter secara lebih mendalam. Mereka tidak hanya mengikuti alur cerita, tetapi juga mencoba memahami alasan di balik tindakan dan emosi setiap tokoh.
Proses itu memiliki kemiripan dengan interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang perlu memahami emosi, motivasi, dan sudut pandang orang lain sebelum memberikan penilaian.
Penelitian berikutnya yang dipimpin Loris Vezalli pada 2014 turut memperkuat hubungan antara bacaan fiksi dan kemampuan melihat perspektif kelompok lain.
Penggemar Harry Potter dinilai lebih toleran
Penelitian Loris Vezalli dan sejumlah peneliti lain yang dimuat dalam The Journal of Applied Social Psychology pada 2014 menyoroti pembaca seri Harry Potter karya J.K. Rowling.
Para peneliti melakukan tiga penelitian dengan kelompok peserta yang berbeda. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara ketertarikan terhadap seri Harry Potter dan kemampuan pembaca memahami kelompok yang berbeda dari dirinya.
Pembaca Harry Potter cenderung memiliki perspektif yang lebih luas terhadap persoalan imigran serta kelompok yang mengalami marginalisasi.
Penelitian tersebut juga menemukan pemahaman dan empati yang lebih besar terhadap kelompok LGBT serta persoalan aksi kebencian yang diberitakan media arus utama.
Dengan demikian, membaca fiksi tidak hanya memberikan hiburan. Keterlibatan pembaca dengan karakter dan konflik dalam cerita juga dapat membantu membangun perspektif sosial yang lebih luas.
Membaca juga membantu menjaga kesehatan otak
Manfaat membaca buku tidak berhenti pada kemampuan memahami bahasa atau meningkatkan empati. Aktivitas ini juga dapat memberikan efek relaksasi bagi pembacanya.
Membaca dapat membantu menciptakan suasana tenang dan menurunkan tekanan darah. Dunia imajinatif yang muncul melalui cerita juga dapat menjadi ruang untuk sejenak melepaskan diri dari tekanan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, aktivitas membaca dikaitkan dengan kemampuan mengurangi stres dan depresi. Membaca juga menuntut konsentrasi sehingga otak terus bekerja mempertahankan perhatian terhadap informasi yang diterima.
Kebiasaan tersebut sekaligus melatih fokus, kemampuan mengingat, dan proses analisis. Dalam jangka panjang, orang yang rutin membaca disebut memiliki risiko lebih rendah terhadap sejumlah gangguan otak, termasuk demensia dan Alzheimer.
Bagi orang yang selama ini jarang membaca, membangun kebiasaan tersebut dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk memberikan stimulasi mental secara rutin.
Pada akhirnya, buku tidak hanya menjadi sumber informasi. Aktivitas membaca juga dapat melatih otak, memperkaya pengalaman emosional, dan membantu seseorang memahami orang lain dengan perspektif yang lebih luas. (*)






