Padang, Javanusa—Proses pemulangan jemaah haji Debarkasi Padang tidak langsung berakhir setelah pesawat mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).
Setiap jemaah wajib menjalani pemeriksaan kesehatan berlapis guna memastikan kondisi mereka aman sebelum kembali ke daerah asal.
Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Padang bersama Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), mulai dari kedatangan di bandara hingga berada di Asrama Haji Debarkasi Padang.
Dokter Klinik Kesehatan Debarkasi Padang, Resnita, mengatakan pemantauan kesehatan dimulai sejak pesawat tiba. Tim BKK langsung berkoordinasi dengan dokter kloter melalui proses serah terima kesehatan di pintu pesawat.
“Saat pesawat mendarat, tim BKK langsung melakukan serah terima dengan dokter kloter di pintu pesawat. Dari situ kami mengetahui apakah ada jemaah yang memerlukan penanganan segera atau ada kondisi kesehatan tertentu yang harus dipantau lebih lanjut,” kata Resnita saat melakukan observasi jemaah, Sabtu (13/6).
Selain pemeriksaan awal, seluruh jemaah yang tiba di Asrama Haji juga melewati pemantauan menggunakan thermal scanner. Langkah ini bertujuan mendeteksi suhu tubuh sekaligus mengidentifikasi kemungkinan gangguan kesehatan yang membutuhkan tindak lanjut.
“Setiap jemaah yang tiba juga dipantau melalui thermal scanner. Tujuannya untuk melihat kondisi suhu tubuh dan mendeteksi apabila ada indikasi gangguan kesehatan yang memerlukan tindak lanjut,” ujarnya.
Empat Jemaah Lansia Jalani Observasi
Pada kedatangan Kloter 09 Debarkasi Padang, petugas kesehatan memberikan observasi khusus kepada empat jemaah sebelum mereka diperbolehkan melanjutkan perjalanan pulang.
Kloter tersebut membawa 390 jemaah dan petugas yang berasal dari Kota Solok, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Padang Panjang, Payakumbuh, dan Kota Padang. Sebanyak 95 orang di antaranya merupakan jemaah lanjut usia berumur 65 tahun ke atas.
Jemaah pertama yang menjalani observasi adalah Yuliar (84) asal Kabupaten Solok. Ia mengeluhkan pusing saat tiba di BIM. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah yang tinggi.
Selain itu, Yuliar memiliki riwayat Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau saraf kejepit yang menyebabkan kesulitan berjalan. Petugas kemudian membawanya menggunakan ambulans dari bandara menuju Asrama Haji.
Observasi juga dilakukan terhadap Sawinar (81). Pemeriksaan menemukan kadar gula darah yang tinggi, sementara yang bersangkutan mengeluhkan nyeri yang menjalar dari pinggang hingga kaki.
Sementara itu, Martini (71) mendapatkan pemantauan karena mengalami hipokalemia atau kadar kalium dalam darah yang berada di bawah batas normal.
Adapun Andriana (67) mengalami sesak napas sesaat setelah tiba di Asrama Haji. Petugas segera membawanya menggunakan kursi roda menuju Klinik Kesehatan Debarkasi untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Kondisi Jemaah Stabil
Meski sempat menjalani observasi, seluruh jemaah yang mendapatkan pemantauan khusus akhirnya dinyatakan dalam kondisi stabil.
“Pada Kloter 09 ada empat jemaah yang kami observasi di klinik kesehatan debarkasi. Namun setelah dilakukan pemeriksaan dan pemantauan, alhamdulillah seluruhnya dalam kondisi stabil dan dapat melanjutkan perjalanan pulang bersama rombongan,” jelas Resnita.
Ia menegaskan observasi kesehatan merupakan prosedur standar yang bertujuan memastikan jemaah mampu melanjutkan perjalanan dengan aman, terutama bagi kelompok lanjut usia yang memerlukan perhatian lebih.
“Kami ingin memastikan seluruh jemaah yang meninggalkan Asrama Haji benar-benar dalam kondisi yang terpantau dengan baik. Jika ada keluhan kesehatan, langsung kami observasi dan tindak lanjuti sebelum mereka kembali ke daerah,” katanya.
Ribuan Jemaah Sudah Tiba di Tanah Air
Hingga kedatangan Kloter 09, total 3.515 jemaah dan petugas Debarkasi Padang telah kembali ke Indonesia. Seluruh jemaah tetap menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari prosedur debarkasi sebelum dipulangkan ke daerah masing-masing.
PPIH Debarkasi Padang bersama Balai Kekarantinaan Kesehatan terus menyiagakan layanan medis selama proses pemulangan berlangsung. Langkah tersebut dilakukan agar setiap keluhan kesehatan yang muncul dapat segera ditangani.
“Observasi bukan berarti jemaah dalam kondisi gawat. Ini merupakan bagian dari prosedur untuk memastikan jemaah aman melanjutkan perjalanan ke daerah asal. Apalagi sebagian besar yang kami tangani jemaah lanjut usia yang memerlukan perhatian lebih,” tutup Resnita. (*/red)






