Javanusa.com—Kurang mendapatkan paparan sinar matahari tidak hanya berkaitan dengan produksi vitamin D. Perubahan pola cahaya juga dapat memengaruhi ritme sirkadian, kualitas tidur, energi, dan suasana hati.
Tubuh membutuhkan paparan sinar matahari untuk membantu pembentukan vitamin D. Namun, kebutuhan tersebut berbeda pada setiap orang dan dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk usia, warna kulit, lokasi geografis, pola aktivitas, serta penggunaan tabir surya.
Selain vitamin D, cahaya alami juga berperan dalam pengaturan jam biologis tubuh. Sejumlah penelitian mengaitkan lebih banyak waktu di luar ruangan dengan suasana hati yang lebih baik dan risiko depresi jangka panjang yang lebih rendah.
Dikutip dari laman Yourtango, berikut tanda yang mungkin muncul ketika seseorang terlalu jarang mendapatkan sinar matahari?
1. Tubuh Tetap Lelah Meski Sudah Cukup Tidur
Rasa lelah yang menetap menjadi salah satu keluhan yang perlu diperhatikan. Seseorang bisa tidur selama beberapa jam, tetapi tetap bangun dengan tubuh terasa kurang bugar.
Kondisi tersebut tidak otomatis menunjukkan kekurangan sinar matahari. Kurang tidur, anemia, gangguan tiroid, stres, hingga masalah kesehatan lainnya juga dapat menyebabkan kelelahan.
Karena itu, kelelahan yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda kekurangan vitamin D.
2. Tubuh Terasa Berubah Saat Musim Berganti
Sebagian orang lebih sensitif terhadap perubahan durasi dan intensitas cahaya sepanjang tahun. Perubahan tersebut dapat memengaruhi ritme tidur, energi, serta kondisi emosional.
Pada gangguan afektif musiman atau seasonal affective disorder (SAD), perubahan paparan cahaya dapat berkaitan dengan munculnya gejala seperti energi menurun, perubahan suasana hati, gangguan tidur, dan hilangnya minat terhadap aktivitas sehari-hari.
Namun, perubahan suasana hati saat pergantian musim tidak selalu berarti seseorang mengalami SAD. Diagnosis tetap membutuhkan penilaian tenaga kesehatan.
3. Aktivitas Sederhana Terasa Lebih Menguras Energi
Membalas pesan, menentukan makanan, menyelesaikan pekerjaan rumah, atau melakukan pekerjaan rutin bisa terasa lebih berat ketika tubuh mengalami kelelahan.
Jika kondisi tersebut berlangsung berulang, perhatikan juga pola tidur, aktivitas fisik, stres, asupan makanan, dan waktu yang dihabiskan di luar ruangan.
Paparan sinar matahari pada pagi atau siang hari dapat membantu mendukung ritme sirkadian. UCLA Health juga merekomendasikan paparan cahaya alami sebagai bagian dari kebiasaan yang mendukung tidur dan kewaspadaan pada siang hari.
4. Anda Lebih Sering Mencari Tempat yang Terang
Kebiasaan duduk dekat jendela atau memilih ruangan dengan pencahayaan alami mungkin tampak sederhana. Namun, preferensi tersebut dapat menjadi pengingat bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak paparan cahaya pada siang hari.
Cahaya yang masuk melalui mata membantu tubuh mengenali siklus siang dan malam. Mekanisme ini berhubungan dengan pengaturan ritme sirkadian yang memengaruhi tidur dan tingkat kewaspadaan.
Karena itu, membuka tirai, bekerja di dekat jendela, atau berjalan sebentar di luar ruangan dapat menjadi kebiasaan sederhana untuk meningkatkan paparan cahaya alami.
5. Suasana Hati Mudah Berubah Mengikuti Kondisi Cahaya
Ada orang yang merasa lebih bersemangat ketika hari cerah dan justru lebih murung ketika langit mendung. Pola tersebut dapat terjadi karena sinar matahari berhubungan dengan mekanisme biologis yang mengatur tidur dan suasana hati.
Penelitian yang dirangkum UCLA Health menemukan hubungan antara durasi berada di luar ruangan dalam cahaya alami dengan suasana hati yang lebih baik. Namun, hubungan tersebut tidak berarti cahaya matahari menjadi satu-satunya faktor yang menentukan kondisi mental seseorang.
6. Hari-Hari Ketika Terpapar Cahaya Alami Terasa Lebih Baik
Cobalah memperhatikan pola selama beberapa minggu. Catat waktu tidur, tingkat energi, suasana hati, aktivitas di luar ruangan, dan kondisi cuaca.
Catatan sederhana tersebut dapat membantu melihat apakah terdapat pola tertentu antara paparan cahaya alami dan kondisi tubuh. Meski demikian, pola pribadi tidak dapat digunakan untuk memastikan diagnosis defisiensi vitamin D atau gangguan suasana hati.
7. Anda Mulai Menganggap Rasa Lelah sebagai Hal yang Normal
Tanda yang sering luput adalah ketika seseorang mulai terbiasa dengan energi yang rendah. Keluhan yang berlangsung lama akhirnya dianggap sebagai bagian dari kepribadian atau rutinitas sehari-hari.
Padahal, perubahan energi dan suasana hati yang menetap layak mendapat perhatian. Terlebih jika kondisi tersebut mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, tidur, atau aktivitas harian.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Langkah pertama tidak harus langsung menggunakan suplemen atau perangkat tertentu. Cobalah meningkatkan aktivitas di luar ruangan secara aman dan teratur.
Paparan sinar matahari pada pagi hari dapat membantu menyelaraskan ritme sirkadian. Aktivitas seperti berjalan kaki juga memberikan manfaat tambahan karena mendorong tubuh bergerak dan mengurangi waktu yang dihabiskan di dalam ruangan.
Untuk kebutuhan vitamin D, paparan sinar matahari bukan satu-satunya sumber. Vitamin D juga dapat diperoleh dari makanan dan suplemen ketika memang diperlukan. Status vitamin D dapat dinilai melalui pemeriksaan darah, terutama jika terdapat faktor risiko atau keluhan yang relevan.
Sementara itu, hindari paparan matahari berlebihan. Mendapatkan cahaya alami tidak berarti harus berjemur dalam waktu lama hingga kulit mengalami kemerahan atau terbakar.
Jangan Langsung Menyimpulkan Kekurangan Vitamin D
Kelelahan, perubahan suasana hati, dan gangguan tidur memiliki banyak kemungkinan penyebab. Karena itu, tujuh tanda di atas sebaiknya digunakan sebagai bahan evaluasi kebiasaan, bukan sebagai alat diagnosis.
Jika rasa lelah berlangsung lama, semakin berat, atau disertai perubahan suasana hati yang signifikan, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter. Beberapa gangguan seperti anemia, masalah tiroid, depresi, dan kondisi medis lainnya dapat menimbulkan gejala serupa.
Dengan demikian, memperhatikan paparan sinar matahari merupakan bagian dari gaya hidup sehat, tetapi bukan pengganti pemeriksaan medis ketika keluhan menetap. (*)






