Javanusa.com—Terbangun satu atau beberapa kali saat tidur malam tidak selalu menandakan gangguan kesehatan.
Namun, kondisi ini perlu diperhatikan ketika seseorang sulit kembali tidur atau terus mengalaminya hingga mengganggu kualitas istirahat.
Kebiasaan terbangun tengah malam dapat muncul karena banyak faktor. Penyebabnya mulai dari kebiasaan sebelum tidur, lingkungan kamar, gangguan tidur, perubahan hormon, hingga penyakit tertentu.
Tubuh tidak selalu mempertahankan tidur dalam kondisi tanpa terbangun sepanjang malam. Seseorang dapat terjaga beberapa kali selama siklus tidurnya dan kembali terlelap setelahnya.
Masalah biasanya muncul ketika Anda membutuhkan waktu lama untuk tidur kembali. Rasa sedih, kesepian, cemas, atau putus asa yang muncul berulang saat terbangun juga perlu mendapat perhatian.
Karena itu, frekuensi terbangun bukan satu-satunya hal yang perlu dinilai. Dampaknya terhadap kualitas tidur dan kondisi tubuh pada siang hari juga penting.
Berbagai Penyebab Sering Terbangun Tengah Malam
Ada sejumlah kondisi yang dapat membuat tidur menjadi terputus-putus. Dilansir dari laman Hellosehat, berikut beberapa penyebab yang cukup sering ditemukan.
1. Gangguan tidur
Insomnia dapat membuat seseorang sulit mempertahankan tidur hingga pagi. Setelah terbangun, penderita juga bisa mengalami kesulitan untuk kembali terlelap.
Gangguan tidur lain juga dapat memicu kondisi serupa. Narkolepsi menyebabkan kantuk berlebihan pada siang hari, sedangkan sindrom kaki gelisah memunculkan dorongan untuk menggerakkan kaki, terutama pada malam hari.
Sleep apnea juga perlu diwaspadai. Gangguan ini menyebabkan pernapasan berhenti sementara saat tidur dan dapat membuat seseorang terbangun dengan batuk, tersedak, atau merasa sesak.
Selain itu, parasomnia dapat menyebabkan perilaku tidak biasa ketika seseorang sedang tertidur, tertidur lelap, atau berada dalam proses terbangun.
2. Mendengkur
Mendengkur tidak hanya mengganggu pasangan atau orang yang tidur di sekitar Anda. Kondisi ini juga dapat membuat tidur terfragmentasi dan menyebabkan seseorang lebih sering terbangun.
Risiko mendengkur cenderung lebih tinggi pada pria dan orang dengan berat badan berlebih. Saluran napas yang menyempit dapat menghasilkan suara dengkuran saat udara melewatinya.
Dengkuran yang keras dan berulang sebaiknya tidak diabaikan. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan sleep apnea yang membuat tidur menjadi tidak berkualitas.
3. Perubahan hormon
Perubahan kadar hormon dapat memengaruhi pola tidur. Kondisi ini antara lain terjadi saat menstruasi, kehamilan, dan menopause.
Pada kehamilan, perubahan hormonal dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil. Akibatnya, seseorang lebih mudah terbangun pada malam hari dan kualitas tidurnya ikut menurun.
4. Kebiasaan sebelum tidur
Rutinitas pada beberapa jam sebelum tidur juga dapat menentukan kualitas istirahat. Salah satunya adalah konsumsi kopi atau minuman berkafein pada malam hari.
Kafein bekerja dengan menghambat reseptor adenosin di otak. Adenosin berperan dalam memunculkan rasa kantuk, sehingga konsumsi kafein dapat membuat tubuh tetap terjaga.
Kafein juga dapat meningkatkan aktivitas tubuh melalui hormon adrenalin. Selain kopi, beberapa kebiasaan lain dapat mengganggu tidur, seperti merokok, makan terlalu dekat dengan waktu tidur, dan menggunakan gawai sebelum beristirahat.
5. Penggunaan obat tertentu
Beberapa obat dapat memengaruhi kualitas tidur atau membuat seseorang lebih sering terbangun. Efeknya bergantung pada jenis obat dan respons tubuh masing-masing.
Beta-blocker, misalnya, dapat memengaruhi produksi melatonin yang berperan dalam pengaturan tidur. Sementara itu, diuretik meningkatkan produksi urine sehingga seseorang lebih sering terbangun untuk buang air kecil.
Obat antidepresan juga dapat menyebabkan gangguan tidur pada sebagian pengguna. Karena itu, keluhan tidur yang muncul setelah mengonsumsi obat sebaiknya didiskusikan dengan dokter.
6. Gangguan ritme sirkadian
Ritme sirkadian berfungsi mengatur siklus tidur dan bangun. Ketika jam biologis mengalami gangguan, seseorang dapat tidur pada waktu yang tidak teratur atau terbangun terlalu dini.
Keluhan ini lebih sering ditemukan pada usia lanjut. Perubahan biologis yang terjadi seiring pertambahan usia juga dapat meningkatkan risiko gangguan tidur.
7. Stres dan masalah psikologis
Stres dapat membuat otak dan tubuh tetap berada dalam kondisi waspada. Salah satu respons tubuh terhadap stres adalah peningkatan hormon kortisol.
Peningkatan kortisol dapat menaikkan denyut jantung dan tekanan darah. Akibatnya, seseorang lebih mudah terbangun dan sulit kembali tidur.
Masalah psikologis yang berlangsung terus-menerus juga dapat memperburuk pola tidur. Karena itu, kualitas tidur perlu dipandang bersama kondisi emosional seseorang.
8. Penyakit tertentu
Keluhan fisik tertentu dapat mengganggu tidur pada malam hari. Rasa sakit akibat sakit punggung, sakit kepala, atau gangguan sendi temporomandibular dapat membuat seseorang terbangun berulang kali.
Beberapa penyakit kronis juga dapat memengaruhi tidur. Asma, penyakit Parkinson, dan gagal jantung termasuk kondisi yang dapat berkaitan dengan gangguan tidur.
Penanganannya perlu menyesuaikan penyebab utama. Ketika penyakit yang mendasari terkontrol, kualitas tidur pada sebagian pasien juga dapat membaik.
Suhu Kamar dan Jet Lag Juga Bisa Mengganggu Tidur
Faktor lingkungan tidak kalah penting. Kamar yang terlalu panas, terlalu dingin, atau berisik dapat membuat seseorang mudah terbangun dan kesulitan tidur kembali.
Perjalanan melintasi beberapa zona waktu juga dapat mengacaukan jam biologis. Kondisi yang dikenal sebagai jet lag ini dapat menyebabkan jadwal tidur berubah sementara.
Cara Mengurangi Kebiasaan Terbangun Tengah Malam
Perubahan kebiasaan tidur dapat membantu ketika tidak ada masalah medis yang mendasarinya. Usahakan tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari agar ritme tubuh lebih teratur.
Batasi penggunaan ponsel dan perangkat elektronik menjelang tidur. Cahaya dari layar dapat memengaruhi ritme sirkadian dan membuat tubuh lebih sulit memasuki waktu istirahat.
Kondisikan kamar agar gelap, tenang, dan memiliki suhu yang nyaman. Pilih posisi tidur yang membuat tubuh rileks dan hindari aktivitas fisik berat mendekati waktu tidur.
Pola makan juga perlu diperhatikan. Hindari makanan berat sekitar dua hingga tiga jam sebelum tidur serta batasi konsumsi kafein dan alkohol pada malam hari.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Terbangun tengah malam perlu mendapat perhatian ketika terjadi terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Kesulitan tidur kembali, rasa lelah pada siang hari, atau gejala lain yang menyertai juga menjadi alasan untuk mencari bantuan medis.
Dokter dapat membantu menentukan apakah gangguan tidur berkaitan dengan kebiasaan, obat-obatan, kondisi psikologis, atau penyakit tertentu. Penanganan kemudian dapat disesuaikan dengan penyebab yang ditemukan. (*)






