Kisah Haru Nenek Jumariah: Hidup Sendiri, Menabung di Ember, Akhirnya Menyentuh Ka’bah dan Jadi Ikon Global Haji 2026

Penulis -

Selasa, 19 Mei 2026 - 00:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nenek Jumariah, jemaah haji lansia Maros sebatang kara yang jadi ikon global haji 2026. (Foto: Kemenhaj)

Nenek Jumariah, jemaah haji lansia Maros sebatang kara yang jadi ikon global haji 2026. (Foto: Kemenhaj)

Makkah, Javanusa—Dada Jumariah berdebar kencang saat kakinya melangkah memasuki pelataran Masjidil Haram, Minggu (10/5/2026).

Di bawah terik langit Makkah, perempuan lanjut usia itu berulang kali mengusap wajahnya dengan ujung kerudung hitam yang ia kenakan.

Lalu, momen magis itu tiba. Ketika bangunan kubus terbungkus kain kiswah hitam megah itu tegak berdiri persis di depan matanya, pertahanan Jumariah runtuh. Air matanya tumpah ruah.

Itulah pemandangan yang ia langitkan dalam doa selama puluhan tahun silam. Sebuah mimpi yang ia rawat dalam kesendirian, sejak ia berpisah dengan sang suami dan menjalani hidup sebatang kara.

“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucapnya lirih saat ditemui di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah, tempat menginapnya bersama jemaah haji Embarkasi Makassar Kloter 14, atau UPG-14.

Kenangan melihat Baitullah itu kembali membuat matanya berkaca-kaca, sebelum jemari rentanya dengan cepat menyeka air mata itu lagi.

Sunyi di Maros, Ramai di Doa

Jumariah adalah jemaah haji lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ingatan tak lagi tajam untuk merinci angka pasti usianya, ia hanya mengingat dirinya kini berada di kisaran 70-an tahun.

Di kampung halamannya, sunyi adalah teman akrab Jumariah sehari-hari. Saban pagi usai fajar menyingsing, ia memulai ritual hidupnya: memberi makan ayam-ayam peliharaan, membersihkan rumah panggungnya, dan memasak sarapan untuk dirinya sendiri.

Tepat pukul 9 pagi, ia mulai menguji fisiknya. Bermodal sabit, Jumariah merawat kebun ubi milik tetangganya, lalu berjalan 50 meter lagi menuju sawah miliknya yang hanya seluas 15 are untuk menyiangi padi.

“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai sabit, kalau sekarang sudah dibantu mesin,” kenangnya seraya melempar senyum manis.

Baca Juga :  Distribusi Kartu Nusuk Jemaah Haji Disiapkan Tepat Waktu, Simulasi Tunjukkan Kesiapan Sistem

Namun, di balik kesendirian itu, Jumariah sadar ia tidak pernah benar-benar sebatang kara. Ada Tuhan yang selalu menemaninya. Iman itulah yang menggerakkan tekadnya untuk menginjakkan kaki di rumah-Nya, sekecil apa pun celah kesempatan yang ia miliki.

Rp50 Ribu di Dalam Ember

Jumariah tidak bisa membaca maupun menulis. Jangankan ijazah, ia bahkan tak pernah sedetik pun mengecap bangku sekolah. Namun, ketidakberdayaan itu kalah oleh keteguhan niatnya yang dimulai 20 tahun lalu.

Secara sembunyi-sembunyi, Jumariyah mengumpulkan pundi-pundi uang hasil keringatnya di dalam sebuah ember di rumahnya.

“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember,” tuturnya polos. “Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” ujarnya.

Pada tahun 2011, setelah isi embernya menyentuh angka Rp25 juta, ia memberanikan diri mendaftar haji, dituntun oleh kemenakan jauhnya. Sejak hari pendaftaran itu, ritme menabungnya justru kian menggila demi melunasi sisa biaya pelunasan.

Ketika namanya resmi tercantum sebagai jemaah yang berangkat pada musim haji 2026, semangatnya meledak.
Jarak 15 kilometer dari rumah menuju lokasi manasik tak dipedulikannya.

Lebih dari 80 kali sesi manasik yang digelar Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) ia lahap tanpa absen sekalipun. Jumariah selalu duduk di barisan paling depan, menyimak lamat-lamat setiap arahan muthawwif.

Kegigihan sang nenek akhirnya mengetuk pintu perhatian Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Profilnya yang luar biasa diajukan ke Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi sebagai pemeran dalam video dokumenter “Makkah Route”.

“Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi,” ungkap Sitti Hawaisyah, Ketua Kloter UPG-14.

Hanya butuh waktu empat jam bagi tim dokumenter untuk merekam kehidupan bersahaja Jumariah di Maros.
Siapa sangka, video singkat tentang nenek pencari ubi ini kini bertransformasi menjadi materi promosi internasional Kerajaan Arab Saudi untuk menyambut musim Haji 2026. Jumariyah telah menjadi ikon.

Baca Juga :  Hari ke-7 Operasional Haji 1447 H: 34.657 Jemaah Diberangkatkan, Layanan Madinah Terintegrasi Optimal
Fisik Baja di Usia Senja

Tiga hari setelah dokumenter itu dibuat, Jumariah mencicipi pengalaman pertamanya terbang ke angkasa, langsung menuju Madinah.

“Sempat ada rasa takut waktu naik (pesawat), tapi setelah itu nyaman,” katanya memamerkan deretan gigi tuanya.

Di Kota Nabi, fisiknya bak anak muda. Ia sanggup beriktikaf di Masjid Nabawi dari azan Asar hingga salat Isya berjamaah usai. Berkat bantuan rombongan kloternya yang sigap menggandengnya tanpa ponsel, Jumariah juga sukses bersujud di Raudhah.

Ketangguhan itu berlanjut di Makkah. Sejak tiba pada Sabtu (9/5/2026), Jumariyah tercatat telah menuntaskan tiga kali umrah—satu umrah wajib dan dua umrah sunnah. Hebatnya lagi, ia tak pernah mengeluh sakit.

“Di tanda pengenal saya ini ada tanda merah, artinya saya punya riwayat sakit. Tapi di gelang Nenek Jumariah bersih, dia sehat total,” puji Sitti Hawaisyah keheranan.

Marwati, tetangga sekaligus rekan sekloternya dari Maros, ikut geleng-geleng kepala.

“Selama umrah beliau paling semangat. Kita yang muda ini sudah kecapekan, beliau masih mau jalan.”

Saat ditanya apa resep rahasia di balik tubuh bajanya, Jumariah menjawab ringkas: “Ke sawah setiap hari, dan banyak minum air.”

Selain itu, ia selalu menjaga hati dan pikirannya dari stres, serta melahap makanan apa pun yang disediakan petugas tanpa pilih-pilih, terutama udang—makanan favoritnya.

Kini, langkah kaki Jumariyah sedang bersiap menuju rute terakhir dari penantian panjangnya: wukuf di Padang Arafah.

Kurang dari sepuluh hari lagi, di bawah hamparan langit Arafah, janda sebatang kara ini akan berdialog langsung dengan Tuhannya, menuntaskan kerinduan yang selama puluhan tahun ini terkunci rapat di dalam sebuah ember tabungan. (*/red)

Berita Terkait

BPIH 2027 Disepakati Rp98,46 Juta, Jemaah Haji Cukup Lunasi Rp23,04 Juta
Lindungi Dana Jemaah Umrah, Kemenhaj dan OJK Kaji Rekening Penampungan
Kemenhaj dan Kemendagri Padankan Data Jemaah Haji, Nomor Antrean Tetap Aman
Travel Umrah Diperingatkan Tak Promosikan Haji Khusus Tanpa Izin PIHK
368 ASN Lulus Seleksi Mutasi Karier Batch II, Mulai Bergabung 1 November 2026
189 Pengaduan Travel Haji dan Umrah Masuk hingga September 2026, Kemenhaj Perketat Pengawasan
Kemenhaj Sumbar Ingatkan Travel Umrah Gunakan Identitas Sesuai Izin, ID Card Wajib Diberikan H-1
Perkuat Perlindungan Jemaah, Kemenhaj Sumbar Bentuk Satgas Awasi Travel Umrah di Bandara

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:20 WIB

Balap Motor Kota Padang Sabet 3 Emas di Porprov Sumbar 2026, Target Juara Umum Makin Terbuka

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:13 WIB

Muhammad Fakhri Ramadan Raih Emas Lompat Tinggi Porprov Sumbar 2026

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Alesha, Pesenam 6 Tahun Asal Payakumbuh Bersama Tsafani dan Adiba Raih Perunggu Porprov Sumbar 2026

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:59 WIB

Gulat Kota Padang Juara Umum Porprov XVI Sumbar, Raih 16 Medali Emas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:50 WIB

David Silva Comeback dari Pensiun, Gabung Klub Hong Kong Supreme Sha Tin

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Usai Bertugas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pedro Rodriguez Umumkan Pensiun

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Berita Terbaru