Jakarta, Javanusa—Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong The Local Market ID: Pasar Wiwitan SCBD menjadi kegiatan rutin bulanan sebagai ruang promosi sekaligus penguatan pasar bagi pelaku ekonomi kreatif nasional.
Harapan itu disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, saat membuka The Local Market ID: Pasar Wiwitan SCBD di SCBD Park, Jakarta, Sabtu (1/8).
Menurut Irene, keberlanjutan pasar kreatif sangat penting agar pelaku ekonomi kreatif memiliki wadah yang konsisten untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jangkauan konsumennya.
“The Local Market yang perdana di SCBD ini akan menjadi rutin setiap bulan untuk minggu pertama dari jam 7 pagi hingga jam 9 malam selama dua hari. Tentu ini sebuah bentuk bagi pejuang ekonomi kreatif Indonesia yang membutuhkan sebuah panggung untuk memperlihatkan apa yang sudah mereka kreasikan. Ini akan menjadi movement yang terus hadir setiap bulan. Dimana panggung The Local Market akan dimanfaatkan para pejuang ekonomi kreatif,” ujar Irene Umar.
Ia menjelaskan, pasar kreatif tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga menjadi ruang interaksi antara pembuat produk dengan masyarakat. Kedekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai sebuah produk karena setiap karya lahir dari kreativitas, proses, dan dedikasi para pelakunya.
“Produk Indonesia bukan saja bagus, tetapi sudah banyak yang mendunia. Mari, kita mulai dari diri sendiri untuk mendukung belanja dan pakai produk lokal,” kata Irene.
Kolaborasi Heksaheliks Perkuat Ekosistem Produk Lokal
The Local Market ID: Pasar Wiwitan SCBD mengusung konsep kolaborasi heksaheliks yang mempertemukan pemerintah, kurator produk kreatif, pengelola ruang publik, dan pelaku ekonomi kreatif dalam satu ekosistem.
Kegiatan yang digelar PT Ku Ka Aku Suka (The Local Market ID) itu menjadi sarana promosi berbagai produk lokal. Sekaligus ruang untuk memperkenalkan kreativitas dan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, menilai kolaborasi lintas sektor seperti Pasar Wiwitan mampu membuka peluang yang lebih besar bagi produk lokal. Sekaligus memperkuat pemberdayaan perempuan dan menghadirkan ruang publik yang ramah keluarga.
“Produk-produk lokal sebenarnya memiliki kualitas yang sangat baik, tetapi sering kali belum memiliki wadah untuk memperkenalkan kepada masyarakat. Melalui kolaborasi ini, mereka mendapatkan ruang untuk bertumbuh. Bagi kami, kegiatan seperti ini juga menjadi bentuk pemberdayaan perempuan sekaligus menghadirkan ruang bagi keluarga untuk berkumpul, menikmati, dan menghargai produk-produk karya anak bangsa,” ujar Veronica Tan.
Hadirkan Ratusan Produk Kreatif dan UMKM
Berlokasi di kawasan hijau SCBD Park dengan bentang koridor sepanjang 240 meter dan koridor lainnya sepanjang 127 meter, Pasar Wiwitan menghadirkan konsep street market berskala besar di pusat bisnis Jakarta.
Pengunjung dapat menemukan beragam produk kreatif, kuliner, kerajinan artisan. Hingga pertunjukan budaya yang menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi akhir pekan baru sekaligus ruang promosi bagi UMKM kreatif.
Founder The Local Market, Titonius Karto, mengatakan nama “Pasar Wiwitan” dipilih sebagai simbol awal baru bagi pengembangan pasar kreatif Indonesia.
“Pasar Wiwitan berarti sebuah awal yang baru. Kami berharap ini menjadi rumah baru bagi The Local Market sekaligus program yang baik untuk UMKM Indonesia. Mulai sekarang, kegiatan ini akan hadir pada akhir pekan pertama setiap bulan. Sebagai ruang yang konsisten bagi produk-produk kreatif Indonesia,” ujarnya.
Pelaku UMKM Sambut Positif Kesempatan Perluas Pasar
Dalam kunjungannya, Irene Umar meninjau berbagai tenant dari subsektor ekonomi kreatif. Antara lain Punopals, Batik Saraswati, Oentukmu, La Vida Home, Neu Men, KASI Living, Saiya, KAINARA, hingga Damdam Ceramics.
Salah satu peserta hasil kurasi Kementerian Ekraf, Ashraf Fauzan Ramdhani dari jenama fesyen asal Bandung, Neu Men, mengaku memperoleh peluang baru untuk memperkenalkan koleksi busana pria yang memadukan batik dengan gaya kasual.
“Ini pertama kalinya kami mengikuti program Ekraf melalui The Local Market. Saya berharap semakin banyak program seperti ini yang membantu UMKM bertumbuh dari sisi pemasaran. Sehingga jenama-jenama lokal dapat berkembang dan semakin dikenal masyarakat,” ujar Ashraf. (*)






