Javanusa.com—Rasa lapar yang muncul beberapa jam setelah makan bukan sekadar tanda perut kosong. Ada hormon ghrelin yang mengirimkan sinyal ke otak agar tubuh kembali mencari makanan.
Ghrelin sering disebut sebagai hormon lapar. Kadarnya meningkat ketika tubuh membutuhkan asupan dan biasanya menurun setelah seseorang makan.
Namun, fungsi ghrelin tidak berhenti pada pengaturan nafsu makan. Hormon ini juga berperan dalam metabolisme, keseimbangan energi, kadar gula darah, serta pelepasan hormon pertumbuhan.
Apa Itu Hormon Ghrelin?
Ghrelin merupakan hormon alami yang terutama diproduksi oleh lambung. Tubuh juga menghasilkan hormon ini dalam jumlah lebih kecil melalui usus, pankreas, dan otak.
Saat lambung kosong, produksi ghrelin meningkat. Hormon tersebut kemudian berinteraksi dengan reseptor di hipotalamus untuk menyampaikan sinyal bahwa tubuh membutuhkan makanan.
Sinyal tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, perut berbunyi, muncul keinginan memikirkan makanan, tubuh terasa lelah, sulit berkonsentrasi, hingga pusing.
Setelah seseorang makan, kadar ghrelin biasanya menurun. Kondisi ini membantu tubuh mencapai rasa kenyang.
Ghrelin Tidak Hanya Mengatur Rasa Lapar
Selain mengendalikan nafsu makan, ghrelin memiliki sejumlah fungsi fisiologis penting.
Pertama, ghrelin membantu merangsang pelepasan hormon pertumbuhan atau human growth hormone. Hormon pertumbuhan berperan dalam proses pertumbuhan anak dan turut memengaruhi metabolisme tubuh.
Kedua, ghrelin ikut mengatur keseimbangan energi. Salah satu mekanismenya berkaitan dengan penyimpanan lemak sebagai cadangan energi yang dapat digunakan tubuh.
Hormon ini juga berhubungan dengan pengaturan gula darah. Ketika tubuh berada dalam kondisi lapar, ghrelin dapat meningkatkan kadar gula darah untuk menyediakan energi dan membantu mencegah hipoglikemia.
Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan potensi ghrelin dalam menekan respons peradangan yang berlebihan. Mekanisme tersebut dapat memberikan efek perlindungan terhadap kerusakan organ.
Apa Hubungan Ghrelin dengan Berat Badan?
Kadar ghrelin memiliki hubungan erat dengan pengaturan berat badan dan energi. Dalam kondisi normal, kadarnya meningkat sebelum makan lalu menurun setelah makanan masuk ke tubuh.
Pada orang dengan obesitas, respons tersebut dapat mengalami perubahan. Kadar ghrelin tidak selalu mengalami penurunan secara signifikan setelah makan.
Akibatnya, sinyal kenyang dapat terasa kurang kuat. Kondisi tersebut berpotensi membuat seseorang kembali makan meskipun kebutuhan energi tubuh sebenarnya sudah terpenuhi.
Situasinya juga dapat terjadi ketika seseorang menjalani diet rendah kalori. Pengurangan asupan makanan dapat mendorong tubuh meningkatkan produksi ghrelin sebagai respons alami untuk mempertahankan keseimbangan energi.
Mekanisme tersebut menjadi salah satu alasan mengapa rasa lapar sering meningkat selama proses penurunan berat badan.
Kondisi yang Berkaitan dengan Ghrelin
Perubahan kadar atau respons tubuh terhadap ghrelin juga ditemukan dalam beberapa kondisi kesehatan.
1. Obesitas
Obesitas merupakan salah satu kondisi yang banyak dikaitkan dengan regulasi ghrelin. Normalnya, kadar hormon ini turun setelah seseorang makan.
Pada sebagian orang dengan obesitas, penurunan tersebut dapat berlangsung tidak optimal. Akibatnya, rasa lapar dapat bertahan meskipun lambung sudah terisi.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, seseorang berisiko mengonsumsi makanan melebihi kebutuhan energi tubuh.
2. Anoreksia Nervosa
Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan yang ditandai pembatasan asupan makanan secara berlebihan karena adanya ketakutan terhadap kenaikan berat badan.
Menariknya, kadar ghrelin pada penderita anoreksia dapat meningkat. Tubuh merespons kekurangan asupan dengan meningkatkan sinyal lapar melalui hormon tersebut.
Meski demikian, penderita anoreksia dapat mengabaikan rasa lapar yang muncul. Pembatasan makanan tetap berlangsung karena kekhawatiran terhadap berat badan.
3. Sindrom Prader-Willi
Sindrom Prader-Willi merupakan kelainan genetik langka yang dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan perilaku makan.
Salah satu karakteristik utama kondisi ini adalah rasa lapar yang sangat kuat dan berlangsung terus-menerus. Kondisi tersebut berkaitan dengan kadar ghrelin yang tinggi.
Rasa kenyang yang sulit tercapai dapat membuat penderita makan secara berlebihan. Tanpa pengawasan dan penanganan yang tepat, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas berat sejak masa kanak-kanak.
4. Gangguan Tidur
Kurang tidur juga dapat memengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan dan metabolisme.
Sebuah penelitian dalam jurnal Obesity melibatkan 44 peserta, termasuk sejumlah orang dengan obesitas. Peneliti membandingkan kondisi peserta setelah tidur seperti biasa dengan kondisi setelah tidak tidur selama satu malam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan kadar leptin, yaitu hormon yang berkaitan dengan rasa kenyang. Sebaliknya, kadar ghrelin dan adiponektin mengalami peningkatan.
Peningkatan tersebut paling tinggi terlihat pada peserta yang mengalami obesitas. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa kurang tidur dapat membuat seseorang lebih cepat lapar dan berpotensi meningkatkan asupan makanan.
Cara Membantu Menjaga Keseimbangan Ghrelin
Pengaturan pola hidup dapat membantu mengendalikan faktor-faktor yang memengaruhi hormon lapar dan kenyang.
Tidur yang cukup menjadi salah satu langkah penting. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur setiap malam.
Asupan protein juga dapat membantu mengendalikan rasa lapar. Makanan tinggi protein cenderung memberikan rasa kenyang lebih lama dan dapat membantu menurunkan kadar ghrelin.
Selanjutnya, kelola stres dengan baik. Stres dapat memengaruhi berbagai sistem hormonal dalam tubuh. Aktivitas seperti meditasi, yoga, atau latihan pernapasan dapat menjadi pilihan untuk membantu mengelolanya.
Pola makan yang teratur juga penting. Kebiasaan melewatkan waktu makan dapat memengaruhi sinyal lapar sehingga rasa lapar berikutnya terasa lebih kuat.
Selain itu, lakukan aktivitas fisik secara rutin. Olahraga membantu menjaga metabolisme sekaligus mendukung pengaturan keseimbangan energi dan hormon yang berkaitan dengan nafsu makan.
Memahami Ghrelin untuk Mengontrol Pola Makan
Ghrelin merupakan salah satu hormon penting dalam sistem pengaturan rasa lapar. Hormon ini bekerja bersama berbagai sinyal metabolik lain untuk menjaga keseimbangan antara asupan makanan dan kebutuhan energi tubuh.
Perubahan kadar ghrelin dapat berkaitan dengan pola makan, berat badan, kualitas tidur, serta kondisi kesehatan tertentu.
Dengan memahami mekanisme hormon ghrelin, seseorang dapat lebih memahami munculnya rasa lapar dan menerapkan kebiasaan yang mendukung pengelolaan berat badan secara sehat. (*)






