Makkah, Javanusa—Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memprioritaskan perbaikan layanan jemaah di Mina serta penguatan aspek istithaah kesehatan dalam evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2026.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Moch Irfan Yusuf, mengatakan kedua aspek tersebut menjadi perhatian utama karena berkaitan langsung dengan kenyamanan dan keselamatan jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
“Kami akan memberikan perhatian lebih terhadap pelayanan di Mina dan peningkatan standar istithaah kesehatan untuk musim haji tahun depan,” kata Irfan Yusuf saat ditemui tim Media Center Haji di Kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, Minggu (31/5/2026).
Pelayanan Jemaah di Mina Jadi Sorotan
Menurut Irfan, penyelenggaraan haji tahun ini secara umum berjalan baik. Namun, pemerintah tetap mencatat sejumlah persoalan yang perlu dievaluasi agar kualitas layanan bagi jemaah Indonesia terus meningkat.
Salah satu catatan utama berada di kawasan Mina. Irfan menilai pengaturan pergerakan dan penempatan jemaah masih memerlukan penyempurnaan. Keterbatasan ruang di kawasan tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah peningkatan jumlah jemaah setiap tahun.
Ia mengaku belum sepenuhnya puas terhadap kondisi pelayanan di Mina selama musim haji tahun ini. Karena itu, pemerintah akan melakukan kajian lebih mendalam untuk mencari solusi yang mampu meningkatkan kenyamanan jemaah pada penyelenggaraan haji mendatang.
Penguatan Istithaah Kesehatan
Selain layanan di Mina, Irfan juga menekankan pentingnya penerapan istithaah kesehatan yang lebih ketat. Meskipun jumlah jemaah wafat pada musim haji 2026 menurun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, petugas masih menemukan jemaah yang memerlukan perawatan medis sesaat setelah tiba di Arab Saudi.
Menurutnya, kesiapan kesehatan calon jemaah harus menjadi faktor utama dalam proses keberangkatan. Ia menegaskan usia tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kelayakan seseorang untuk menunaikan ibadah haji.
“Yang menjadi ukuran adalah kondisi kesehatannya. Ada jemaah yang berusia lebih dari 100 tahun dan tetap dapat menjalankan ibadah haji karena kondisi kesehatannya baik,” ujarnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Kemenhaj berencana memperkuat pembinaan kesehatan sejak jauh hari sebelum keberangkatan. Program itu akan dipadukan dengan kegiatan manasik sehingga calon jemaah memahami pentingnya menjaga kondisi fisik menjelang pelaksanaan ibadah haji.
Irfan menyebut sejumlah daerah telah mulai mengumpulkan calon jemaah haji tahun berikutnya untuk mengikuti pembinaan awal. Kegiatan tersebut mencakup edukasi kesehatan sebagai bagian dari persiapan keberangkatan ke Tanah Suci. (*/red)






