Alergi Buah: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Penulis -

Kamis, 13 Agustus 2026 - 05:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi aneka potongan buah-buahan segar. (Foto: AI Generated)

Ilustrasi aneka potongan buah-buahan segar. (Foto: AI Generated)

Javanusa.com—Reaksi gatal atau bengkak setelah makan buah tidak selalu berarti tubuh mengalami alergi terhadap seluruh jenis buah.

Pada sebagian orang, keluhan tersebut berkaitan dengan alergi terhadap protein tertentu atau reaksi silang dengan serbuk sari tanaman.

Kondisi ini dapat muncul bahkan setelah seseorang bertahun-tahun mengonsumsi buah yang sama tanpa masalah. Karena itu, penting mengenali gejala dan mengetahui kapan reaksi alergi membutuhkan pertolongan medis.

Mengapa seseorang bisa alergi terhadap buah?

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali protein tertentu sebagai zat berbahaya. Tubuh kemudian membentuk respons imun yang melibatkan antibodi IgE dan pelepasan histamin.

Pada alergi buah, protein tertentu dalam buah dapat memicu respons tersebut. Salah satu protein yang sering terlibat adalah profilin, yaitu protein yang terdapat pada berbagai jenis tanaman.

Namun, tidak semua reaksi setelah makan buah merupakan alergi buah secara langsung. Salah satu penyebab yang cukup sering adalah pollen-food allergy syndrome (PFAS), yang juga dikenal sebagai oral allergy syndrome.

PFAS terjadi akibat reaksi silang antara protein pada serbuk sari dan protein yang terdapat pada buah atau sayuran mentah. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang yang memiliki alergi terhadap serbuk sari birch, rumput, atau ragweed.

Buah yang dapat memicu sindrom alergi oral

Jenis makanan yang memicu PFAS bergantung pada jenis serbuk sari yang menyebabkan alergi. Beberapa pola yang umum antara lain:

    • Alergi serbuk sari birch dapat berkaitan dengan apel, ceri, kiwi, persik, pir, dan plum.
    • Alergi serbuk sari rumput dapat berkaitan dengan melon, jeruk, persik, dan tomat.
    • Alergi serbuk sari ragweed dapat berkaitan dengan pisang, melon, mentimun, dan zucchini.
Baca Juga :  Peresmian Gedung Baru RSPON: Presiden Prabowo Kenang Prof. Mahar Mardjono

Reaksi silang juga dapat terjadi pada orang yang memiliki alergi lateks. Kondisi ini dikenal sebagai latex-food syndrome.

Beberapa makanan yang dapat memicu reaksi pada orang dengan alergi lateks antara lain pisang, alpukat, kiwi, persik, melon, tomat, dan sejumlah buah lainnya. Tidak semua orang dengan alergi lateks akan bereaksi terhadap makanan tersebut.

Siapa yang berisiko mengalami alergi buah?

Orang dengan alergi serbuk sari memiliki risiko lebih tinggi mengalami sindrom alergi oral. Kondisi ini juga dapat muncul pada anak yang lebih besar, remaja, dan dewasa muda.

Menariknya, seseorang dapat mengalami reaksi terhadap buah yang sebelumnya sudah dikonsumsi selama bertahun-tahun. Sensitisasi terhadap serbuk sari dapat berkembang kemudian dan memunculkan reaksi silang terhadap makanan tertentu.

Kenali gejala alergi setelah makan buah

Gejala biasanya muncul segera setelah seseorang mengonsumsi buah pemicu. Pada sindrom alergi oral, keluhan paling sering muncul di sekitar mulut dan tenggorokan.

Beberapa gejala yang dapat terjadi meliputi:

    • Bibir terasa gatal atau kesemutan;
    • Mulut dan lidah terasa gatal;
    • Tenggorokan terasa gatal atau mengganjal;
    • Bibir, lidah, atau tenggorokan mengalami pembengkakan;
    • Muncul ruam atau biduran;
    • Bersin dan pilek;
    • Mual, muntah, atau sakit perut.

Pada PFAS, gejala umumnya ringan dan berlangsung singkat. Protein pemicu pada makanan mentah juga dapat berubah akibat proses pemanasan sehingga sebagian orang tidak mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan yang sudah dimasak.

Meski demikian, reaksi berat tetap mungkin terjadi. Kesulitan bernapas, pembengkakan tenggorokan, pusing, penurunan tekanan darah, atau gejala yang muncul di berbagai bagian tubuh dapat menandakan anafilaksis.

Anafilaksis merupakan keadaan darurat yang dapat berkembang cepat dan mengancam nyawa. Jika gejala tersebut muncul setelah mengonsumsi makanan, segera cari pertolongan medis.

Baca Juga :  Pusar Bau: Kenali 4 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Bagaimana cara memastikan alergi buah?

Jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap rasa gatal setelah makan buah merupakan alergi. Dokter perlu menilai riwayat keluhan, makanan pemicu, waktu munculnya gejala, serta kondisi alergi lain yang dimiliki pasien.

Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan alergi seperti skin prick test, pemeriksaan darah, atau food challenge pada kondisi tertentu. Pemeriksaan tersebut membantu membedakan alergi makanan dengan sindrom alergi oral atau kondisi lain yang menimbulkan keluhan serupa.

Hindari pemicu dan perhatikan cara mengolah buah

Setelah dokter mengidentifikasi makanan pemicu, langkah utama adalah menghindarinya. Perhatikan pula label makanan dan minuman olahan yang mungkin mengandung buah tersebut.

Pada sindrom alergi oral, sebagian orang dapat mengonsumsi buah tertentu setelah dimasak, dipanggang, atau diproses. Pemanasan dapat mengubah struktur protein sehingga sistem kekebalan tidak lagi mengenalinya sebagai pemicu alergi. Namun, efek ini tidak berlaku untuk semua makanan atau semua jenis alergi.

Karena itu, jangan mencoba mengonsumsi kembali makanan pemicu secara mandiri jika sebelumnya muncul reaksi berat. Konsultasikan dengan dokter, terutama bila pernah mengalami pembengkakan luas, gangguan menelan, sesak napas, atau gejala anafilaksis.

Pada pasien dengan risiko reaksi berat, dokter dapat meresepkan autoinjektor epinefrin dan memberikan instruksi penggunaannya. Obat tersebut perlu tersedia bagi pasien yang memang membutuhkannya sebagai penanganan awal anafilaksis sebelum mendapatkan pertolongan medis.

Dengan mengenali pola gejala dan pemicunya, alergi buah dapat dikelola dengan lebih aman. Pemeriksaan oleh dokter juga penting agar pasien tidak menghindari terlalu banyak jenis makanan tanpa alasan yang jelas. (*)

Sumber: 

Berita Terkait

Lem Gigi Palsu: Jangan Asal Pilih, Ini Cara Menggunakannya dengan Aman
Jerawat Pasir di Wajah Sulit Hilang? Ini 5 Cara Mengatasinya dengan Aman
Jantung Koroner: Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Menurunkan Risikonya
Cacar Air pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Kapan Harus ke Dokter
Cara Membaca Hasil USG 4D Saat Hamil, Ini Istilah dan Angka yang Perlu Dipahami
Rutin Minum Jus Wortel, Apa Benar Bisa Menyehatkan Mata dan Kulit?
Toilet Jongkok atau Duduk, Mana yang Lebih Sehat? Ini Posisi yang Disarankan
Jangan Salah, Begini Cara Menghibur Orang Sedih agar Tidak Makin Tertekan

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:59 WIB

Gulat Kota Padang Juara Umum Porprov XVI Sumbar, Raih 16 Medali Emas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:50 WIB

David Silva Comeback dari Pensiun, Gabung Klub Hong Kong Supreme Sha Tin

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Usai Bertugas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pedro Rodriguez Umumkan Pensiun

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Gateball Kota Padang Raih Emas Perdana Porprov Sumbar 2026 lewat Double Putra

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:54 WIB

Edo Vernando Sumbang Emas Pertama Biliar Kota Padang di Porprov Sumbar 2026

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Jadwal Lengkap Pertamina Grand Prix Indonesia: MotoGP, Sprint, hingga Balapan Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

MotoGP Mandalika 2026: Perebutan Gelar Memanas, Martin dan Marquez Cuma Terpaut 2 Poin

Berita Terbaru