Jakarta, Javanusa—Film Buya Hamka dapat menjadi sarana untuk memperkuat karakter dan menumbuhkan kembali semangat kepemimpinan di tengah masyarakat.
Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Seni Budaya, Erick Yusuf, menilai sosok Buya Hamka memiliki nilai keteladanan yang relevan bagi generasi masa kini.
Menurut Erick, Buya Hamka tidak hanya dikenal sebagai ulama. Ia juga merupakan seniman, pemimpin, ayah, dan guru yang menunjukkan keteladanan dalam berbagai aspek kehidupan.
Erick menyampaikan pandangan tersebut setelah menyaksikan film Buya Hamka sekuel ketiga bersama keluarga besar MUI di Plaza Senayan XXI, Studio 2, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).
“Buya Hamka ini betul-betul kalau kita lihat, keteladanan itu lengkap ada di Buya Hamka,” ujar Erick.
Film Buya Hamka Bawa Pesan Pendidikan
Erick menilai film tersebut tidak sekadar menawarkan hiburan. Menurutnya, kisah Buya Hamka juga menyampaikan pesan pendidikan dan nilai kehidupan yang dapat menginspirasi masyarakat.
Ia mengapresiasi penggarapan cerita serta pemilihan aktor dalam film tersebut. Baginya, karya ini dapat membantu masyarakat mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka sekaligus memahami nilai-nilai yang ia wariskan.
“Ini film yang baik, film yang bukan hanya tontonan, tapi tuntunan,” katanya.
Erick berharap film biografi tersebut dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk menemukan figur teladan yang mampu menginspirasi kehidupan pribadi maupun sosial.
Berawal dari Gagasan MUI
Erick menjelaskan, produksi film Buya Hamka berawal dari inisiatif MUI pada masa kepemimpinan Prof. Din Syamsuddin. Gagasan itu kemudian mendapat respons dari pihak Starvision, termasuk Parwez, serta dukungan Navin melalui Falcon Pictures.
Kolaborasi tersebut bertujuan menghadirkan kisah tokoh nasional yang memiliki nilai edukatif bagi masyarakat. MUI ingin mendorong industri perfilman Indonesia agar turut mengangkat figur inspiratif, bukan hanya memproduksi film hiburan.
“Dulu MUI ingin bahwa produser-produser ayo jangan hanya membuat film-film hiburan, tetapi juga yang edukatif. Angkat tokoh ketua MUI pertama, Buya Hamka, yang menjadi teladan,” tuturnya.
Melalui film ini, Erick berharap industri perfilman semakin terbuka untuk mengangkat perjalanan hidup tokoh-tokoh nasional yang memiliki kontribusi penting bagi bangsa.
Buya Hamka Dinilai Relevan dengan Krisis Kepemimpinan
Erick menyoroti pentingnya keteladanan di tengah persoalan karakter dan kepemimpinan yang menurutnya masih dihadapi bangsa Indonesia. Ia melihat perjalanan hidup Buya Hamka dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun generasi yang berintegritas dan memiliki semangat pengabdian.
“Di masa sekarang kita krisis keteladanan, kita krisis karakter, krisis kepemimpinan. Saya kira Buya Hamka ini memberikan sebuah harapan,” ujar Erick.
Ia berharap generasi muda dapat mengambil pelajaran dari berbagai peran Buya Hamka, baik sebagai ulama, pemimpin, pendidik, maupun anggota keluarga.
Nilai-nilai tersebut, menurut Erick, perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari agar keteladanan tidak berhenti pada pengenalan tokoh sejarah.
Erick Ajak Masyarakat Nonton Bareng
Erick juga mengajak masyarakat mendukung penayangan film Buya Hamka yang dijadwalkan mulai tayang pada 19 November. Ia mendorong komunitas, keluarga, dan kalangan muda mengadakan kegiatan menonton bersama.
Menurutnya, dukungan penonton dapat membantu film bertahan lebih lama di bioskop dan menjangkau lebih banyak kalangan.
Erick menambahkan, apresiasi masyarakat terhadap film bertema edukatif juga berpotensi membuka peluang bagi sineas untuk mengangkat tokoh nasional lainnya ke layar lebar.
“Karena itu, saya mengimbau masyarakat untuk menonton film ini dan mengadakan nonton bareng di mana-mana, agar nantinya kita bisa membuat film tentang tokoh-tokoh lain yang tidak kalah hebatnya,” ujar Erick.
Ia berharap film Buya Hamka tidak hanya memperkenalkan sosok ulama besar tersebut kepada penonton, tetapi juga mendorong masyarakat menerapkan nilai keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari. (*)






