Banteng Jawa Terancam Punah, Kelahiran Anak Ketiga di Pangandaran Jadi Harapan Baru

Penulis -

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banteng Jawa. (Foto: Kemenhut)

Banteng Jawa. (Foto: Kemenhut)

Pangandaran, Javanusa—Upaya penyelamatan Banteng Jawa (Bos javanicus) di Cagar Alam Pananjung, Pangandaran, Jawa Barat, menunjukkan perkembangan positif. Seekor anak banteng jantan lahir pada Selasa (27/10/2026) pukul 22.23 WIB.

Anak banteng tersebut merupakan kelahiran ketiga sejak pemerintah menjalankan program reintroduksi di kawasan itu.

Kelahiran dari induk bernama Bindi dan pejantan Senta tersebut menambah populasi banteng di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran (Purbajapa) menjadi tujuh ekor.

Sembilan petugas lapangan Kementerian Kehutanan mengawasi proses kelahiran tersebut. Kehadiran individu baru ini menjadi perkembangan penting bagi konservasi satwa endemik Pulau Jawa yang menghadapi ancaman kepunahan.

Banteng Jawa Menghadapi Ancaman Kepunahan

Banteng Jawa merupakan salah satu mamalia besar yang masih bertahan di sejumlah kawasan konservasi Pulau Jawa. Satwa ini memiliki tubuh tegap, tanduk melengkung pada pejantan, serta warna putih khas pada bagian pantat dan kaki.

Namun, kondisi populasinya terus menghadapi tekanan. Pada 2024, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menaikkan status konservasi Banteng Jawa menjadi Kritis atau Critically Endangered.

Populasi globalnya diperkirakan mengalami penurunan lebih dari 80 persen dalam dua dekade terakhir. Jumlah individu dewasa yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 3.300 ekor di seluruh dunia.

Perburuan liar menjadi salah satu ancaman utama karena masyarakat memburu banteng untuk mengambil daging, kulit, dan tanduknya. Selain itu, alih fungsi hutan untuk pertanian dan perkebunan turut mempersempit habitat alami satwa tersebut.

Di Pulau Jawa, populasi banteng bertahan di sejumlah kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Alas Purwo, Baluran, Meru Betiri, dan Ujung Kulon.

Keterpisahan antarpopulasi meningkatkan risiko penurunan keragaman genetik atau genetic drift. Kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan populasi menghadapi perubahan lingkungan dan ancaman penyakit.

Baca Juga :  Kota Pariaman Kukuhkan 30 Guru Penggerak Pertama
Pananjung Pernah Kehilangan Populasi Banteng

Program reintroduksi di Pangandaran memiliki latar belakang sejarah panjang. Cagar Alam Pananjung dahulu menjadi salah satu habitat penting bagi Banteng Jawa.

Catatan sejarah menunjukkan kawasan tersebut memiliki sekitar 60–90 ekor banteng pada 1979. Namun, letusan Gunung Galunggung pada 1982–1983 membawa dampak besar terhadap kelangsungan hidup satwa tersebut.

Abu vulkanik menutupi padang savana yang menjadi sumber pakan utama banteng. Kondisi ini memicu penurunan populasi secara drastis.

Pada 2023, keberadaan populasi banteng di Pananjung tidak lagi ditemukan. Kondisi tersebut menandai kepunahan lokal satwa ini di habitat yang sebelumnya menjadi tempat hidupnya.

Harapan untuk mengembalikan populasi banteng kemudian muncul pada 11 Desember 2024. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni melepasliarkan empat ekor Banteng Jawa di kawasan Cagar Alam Pananjung.

Keempat satwa tersebut terdiri atas dua jantan dan dua betina. Mereka berasal dari tiga lembaga konservasi di bawah naungan Taman Safari Indonesia (TSI).

Individu yang terlibat dalam program tersebut meliputi Uchi dari TSI Bogor, Bindi dari TSI Prigen, serta Bejo dan Senta dari TSI Gianyar, Bali.

Pelepasliaran tersebut menjadi langkah awal pemerintah untuk membangun kembali populasi Banteng Jawa di Pananjung.

Purbajapa Menjadi Pusat Reintroduksi Banteng Jawa

Pemerintah mengembangkan Purbajapa sebagai kawasan konservasi semi-alami seluas sekitar lima hektare. Area ini dirancang menyerupai kondisi habitat asli banteng agar satwa dapat beradaptasi dengan lingkungan alaminya.

Sembilan petugas lapangan menjalankan pengawasan dan perawatan setiap hari. Mereka menyediakan pakan dan nutrisi tambahan, memeriksa kesehatan, serta memantau masa birahi satwa.

Petugas juga merawat kandang, padang penggembalaan, dan pagar pembatas kawasan. Seluruh kegiatan tersebut mendukung kesehatan, kesejahteraan, serta keberhasilan reproduksi banteng.

Baca Juga :  Mengenang Jejak Pahlawan: Pj Wako Padang Kunjungi Rumah Kelahiran Bagindo Aziz Chan

Program ini mulai memperlihatkan hasil pada 2025. Uchi melahirkan seekor anak banteng pada 27 Juli 2025 yang kemudian diberi nama Eksploitasia.

Sebelas hari kemudian, tepatnya 7 Agustus 2025, Bindi melahirkan anak banteng bernama Haruni. Kedua kelahiran tersebut menjadi perkembangan penting dalam upaya pemulihan populasi banteng di Pangandaran.

Kelahiran anak banteng ketiga pada 27 Oktober 2026 kembali memperkuat hasil program tersebut. Bindi dan Senta menjadi induk dari individu terbaru yang menambah populasi Purbajapa menjadi tujuh ekor.

Kemenhut Apresiasi Keberhasilan Program Konservasi

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Mahfudz, menyampaikan apresiasi atas kelahiran anak banteng tersebut.

Ia mengapresiasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat beserta seluruh mitra yang mendukung program reintroduksi.

Menurut Mahfudz, kelahiran tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga dan melindungi satwa liar asli Indonesia, khususnya Banteng Jawa.

Keberhasilan Purbajapa juga melibatkan kolaborasi berbagai pihak. Kementerian Kehutanan melalui BBKSDA Jawa Barat menjalankan program ini bersama Taman Safari Indonesia, PT Star Energy Geothermal Darajat II Limited, Pemerintah Kabupaten Pangandaran, dan masyarakat setempat.

Kerja sama tersebut menggabungkan dukungan pemerintah, keahlian lembaga konservasi, kontribusi sektor swasta, serta keterlibatan masyarakat.

Pengawasan Digital dan Standar Reintroduksi Disiapkan

Meski populasi mulai bertambah, pemerintah masih menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan program. Kelahiran individu baru belum menjadi satu-satunya indikator keberhasilan konservasi.

BBKSDA Jawa Barat tengah menyusun standar tata kelola reintroduksi Banteng Jawa. Standar tersebut mencakup aspek kesehatan, perilaku, pakan, dan kondisi habitat.

Selain itu, BBKSDA Jawa Barat mengembangkan prototipe laporan digital untuk memantau kondisi satwa secara real-time. Sistem ini diharapkan membantu petugas mendeteksi perubahan kondisi banteng dan menentukan penanganan secara cepat.

Baca Juga :  Menhut Raja Antoni Cabut Izin 5 Perusahaan Terkait Karhutla, Total Konsesi 92.464 Hektare

Pemerintah menargetkan populasi di Purbajapa mampu bertahan dan berkembang biak secara berkelanjutan. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan membuka peluang bagi banteng untuk kembali hidup liar di habitat alaminya.

Banteng Jawa Memiliki Makna dalam Identitas Bangsa

Upaya melestarikan Banteng Jawa juga berkaitan dengan nilai sejarah dan budaya Indonesia. Satwa ini menjadi inspirasi lambang sila keempat Pancasila, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Banteng melambangkan kekuatan, keberanian, dan semangat kebersamaan. Karakter tersebut juga muncul dalam berbagai kesenian tradisional.

Di Banyuwangi, gerakan banteng tercermin dalam tarian Bengalan. Sementara itu, masyarakat Jawa Timur mengenal seni Bantengan yang menggambarkan karakter gagah dan berani.

Kelahiran anak banteng ketiga di Pangandaran menjadi perkembangan penting dalam upaya mengembalikan populasi satwa tersebut. Dengan dukungan berbagai pihak, program Purbajapa diharapkan mampu membangun populasi yang sehat dan berkelanjutan.

Kini, tujuh ekor Banteng Jawa di Pananjung menjadi bagian dari upaya panjang untuk memulihkan kembali keberadaan satwa yang pernah hilang dari habitat tersebut. (*)

Berita Terkait

Hotspot Karhutla Nasional Naik Jadi 118 Titik, Papua Selatan Tertinggi
BGN Wajibkan 21.527 SPPG Perbarui SPK, Perketat Pengawasan Program MBG
Promotor Pastikan Visa Andrea Bocelli Terbit, Berbeda dengan Pernyataan Dirjen Imigrasi
BGN Catat Efisiensi Rp44 Triliun, Program MBG Masuki Transformasi 2.0
Pemerintah Jamin Serapan Jagung Petani, Bulog Siap Beli Hasil Panen
Kemnaker Verifikasi Mitra MagangHub Batch 3 hingga 30 Oktober 2026, Ini Jadwal Seleksinya
Kemnaker Buka Pendaftaran MagangHub Batch 3, Cek Jadwalnya
Polri dan Kemkomdigi Perkuat Kerja Sama Berantas Kejahatan Siber

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 23:18 WIB

Radinka Abqari Rilis Single Perdana Pasti Bisa, Bawa Pesan Motivasi untuk Anak Indonesia

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:14 WIB

Natania Karin Rilis Album Kedua Berisi 11 Lagu, Gandeng Sal Priadi di Trek Api dan Salju

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Akbar Chalay Gandeng Matta di Single Terbaru Kera Sakti, Hadirkan Perpaduan Musik Elektronik dan Pop

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:20 WIB

MUI Sesalkan Konser Andrea Bocelli Tetap Digelar, Minta Pemerintah Tinjau Ulang Izin

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:31 WIB

Erick Yusuf: Film Buya Hamka Jadi Tuntunan di Tengah Krisis Keteladanan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Visa Andrea Bocelli Belum Terbit, Imigrasi Tunggu Keputusan Kabaintelkam Polri

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:44 WIB

Sinopsis Film Laut Bercerita dan The Doll Ghawiah, Dua Film Lokal Terbaru Tayang Hari Ini!

Rabu, 28 Oktober 2026 - 22:12 WIB

Bunga Nafisa dan Deandra Nadira Rilis Single Dar Der Dor Ser, Usung Musik Endikup

Berita Terbaru