Javanusa.com—Kurang tidur bukan sekadar membuat tubuh mengantuk pada siang hari. Jika berlangsung terus-menerus, masalah tidur dapat memengaruhi daya tahan tubuh, fungsi otak, kesehatan kulit, hingga meningkatkan risiko berbagai penyakit.
Kebutuhan tidur setiap orang memang berbeda. Namun, orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur berkualitas sekitar 7–9 jam setiap malam. Anak-anak dan remaja membutuhkan durasi yang lebih panjang, sekitar 8–10 jam.
Tidur memberi kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan kondisi fisik dan mental. Pada anak dan remaja, tidur juga berperan dalam proses pertumbuhan karena tubuh menghasilkan hormon pertumbuhan selama fase tidur.
Kurang tidur dapat mengganggu fungsi tubuh
Ketika kebutuhan tidur tidak terpenuhi, tubuh dapat menunjukkan sejumlah tanda. Seseorang mungkin merasa lelah, mengantuk, sering menguap, serta mengalami kesulitan berkonsentrasi.
Jika kondisi tersebut terus terjadi, dampaknya dapat meluas. Dilansir dari Alodokter, berikut sejumlah masalah kesehatan yang perlu diperhatikan akibat kurang tidur.
1. Memicu gangguan tidur dan insomnia
Kurang tidur yang berlangsung berulang dapat berkaitan dengan munculnya insomnia. Kondisi ini membuat seseorang sulit memulai tidur atau tidak mendapatkan tidur yang berkualitas.
Insomnia juga dapat menyebabkan kantuk berlebihan pada siang hari. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa mengganggu aktivitas dan menurunkan kemampuan otak dalam berpikir.
Selain itu, kurang tidur dapat memperburuk rasa cemas. Siklus ini kemudian dapat membuat seseorang semakin sulit mendapatkan tidur yang cukup.
2. Daya tahan tubuh ikut menurun
Tidur memiliki hubungan erat dengan sistem kekebalan tubuh. Saat tidur, tubuh menghasilkan dan mengatur berbagai protein, termasuk sitokin yang berperan dalam respons terhadap infeksi dan peradangan.
Kurang tidur dapat mengganggu proses tersebut. Akibatnya, kemampuan tubuh dalam menghadapi infeksi dapat menurun.
Daya tahan tubuh yang melemah juga dapat memengaruhi proses pemulihan. Tubuh membutuhkan sistem imun yang optimal untuk membantu menghadapi penyakit maupun memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan.
3. Hasrat dan fungsi seksual dapat terganggu
Kualitas tidur yang buruk juga dapat memengaruhi kehidupan seksual. Kurang tidur sering disertai kelelahan, rasa kantuk, dan stres yang dapat menurunkan gairah seksual.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat berkaitan dengan penurunan hasrat dan kepuasan seksual pada pria maupun wanita.
Pada pria dengan sleep apnea, gangguan tidur juga dapat berkaitan dengan perubahan kadar testosteron. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap gangguan fungsi seksual, termasuk disfungsi ereksi.
4. Memori dan konsentrasi menurun
Otak tetap aktif selama seseorang tidur. Salah satu proses penting yang berlangsung pada fase ini berkaitan dengan pengolahan dan penguatan memori.
Kurang tidur dapat mengganggu proses tersebut. Akibatnya, seseorang dapat lebih mudah lupa dan mengalami kesulitan memusatkan perhatian.
Rasa kantuk juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengolah informasi. Dalam kondisi tertentu, kurang tidur bahkan dapat mengganggu kemampuan mengambil keputusan.
5. Kulit menunjukkan tanda penuaan lebih cepat
Dampak kurang tidur tidak hanya terlihat pada kondisi tubuh dan otak. Kulit juga dapat menunjukkan perubahan ketika seseorang tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Kulit dapat terlihat lebih pucat, kering, atau kusam. Area sekitar mata juga dapat tampak lebih bengkak.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, kurang tidur dapat berkaitan dengan munculnya garis halus dan kerutan. Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan antara kurang tidur dan meningkatnya risiko jerawat.
Salah satu mekanismenya berkaitan dengan perubahan hormon stres, termasuk kortisol, yang dapat memengaruhi kondisi kulit.
6. Risiko penyakit kardiovaskular meningkat
Kesehatan jantung dan pembuluh darah juga dapat terdampak oleh pola tidur yang buruk. Tidur membantu tubuh menjalankan berbagai proses pemulihan, termasuk menjaga fungsi sistem kardiovaskular.
Karena itu, kebiasaan tidur yang tidak memadai dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Gangguan tidur seperti insomnia juga dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan lain. Beberapa di antaranya meliputi diabetes, obesitas, stroke, kanker, serta gangguan suasana hati dan kecemasan.
Kurang tidur juga meningkatkan risiko kecelakaan
Dampak kurang tidur tidak berhenti pada masalah kesehatan. Rasa kantuk dan penurunan konsentrasi juga dapat membahayakan keselamatan saat berkendara atau bekerja.
Seseorang yang mengantuk cenderung memiliki kewaspadaan dan kemampuan merespons yang lebih rendah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja.
Karena itu, tidur yang cukup perlu menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehat. Jangan abaikan gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus.
Jika Anda sering sulit tidur, terbangun berulang kali, atau tetap merasa lelah meski sudah tidur, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter. Pemeriksaan dapat membantu menemukan penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai. (*)






