Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026: 10 Kepala Daerah Lolos Presentasi, Terima Trofi Abyakta di HPN Banten

Penulis -

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis menerima bakal menerima Trofi Abyakta pada puncak peringatan HPN 2026 di Banten, 9 Februari 2026. (Foto: Kominfo Padang Pariaman)

Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis menerima bakal menerima Trofi Abyakta pada puncak peringatan HPN 2026 di Banten, 9 Februari 2026. (Foto: Kominfo Padang Pariaman)

Jakarta, Javanusa—Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 mencatat capaian penting setelah tiga wali kota dan tujuh bupati dari berbagai daerah di Indonesia dinyatakan lolos mempertahankan proposal kebudayaan di hadapan dewan juri, Jumat (9/1/2026).

Keberhasilan ini memastikan para kepala daerah tersebut berhak menerima Trofi Abyakta pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, 9 Februari 2026.

Sebagian kepala daerah mengikuti presentasi secara daring karena alasan kedinasan dan kondisi darurat di daerah masing-masing. Meski demikian, dewan juri tetap memberikan penilaian yang setara.

“Ada yang sedang berduka, menangani bencana alam di Sumatera, hingga menjalankan kewajiban adat,” kata Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono.

Menurut Yusuf, seluruh peserta dinilai berdasarkan orisinalitas program, dampak sosial-budaya, serta keberlanjutan kebijakan.

Trofi Abyakta Diserahkan pada HPN 2026

Yusuf menegaskan, para kepala daerah yang lolos berhak menerima Trofi Abyakta sebagai bentuk apresiasi atas komitmen pelestarian budaya lokal.

“Mereka akan menerima Trofi Abyakta pada puncak HPN 2026 di Banten, 9 Februari 2026,” ujarnya.

Trofi ini menjadi simbol penghargaan PWI terhadap peran strategis pemerintah daerah dalam menjaga identitas kebudayaan Indonesia.

Kategori Baru: Wartawan dan Komunitas Budaya

Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 menandai perluasan kategori penilaian. Untuk pertama kalinya, wartawan bersama komunitas budaya turut menerima penghargaan.

Kategori ini melengkapi kategori sebelumnya yang hanya ditujukan bagi kepala daerah (bupati/wali kota) sejak HPN 2016 di Lombok, NTB.

Tiga wartawan senior dinilai berhasil mengembangkan ekosistem budaya melalui komunitas yang mereka bina, yakni:

    • Rahmi Hidayati (mantan wartawan Bisnis Indonesia) bersama Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI)
    • Seno Joko Suyono (mantan wartawan Tempo) dengan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF)
    • Nenri Nurcahyo (mantan wartawan Surabaya Post) bersama Komunitas Panji
Baca Juga :  Bupati JKA Temui BNPB, Bahas Dana Rehabilitasi Bencana dan Pembangunan Jembatan Sikabu
Inovasi Budaya Kepala Daerah

Setiap kepala daerah mengusung kekuatan lokal yang dinilai berdampak luas bagi masyarakat dan identitas daerah.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengangkat Malang sebagai kota kreatif yang kini sejajar dengan 59 kota dunia versi UNESCO.

Bupati Temanggung, Agus Setyawan, mempromosikan kesenian Kuda Lumping Temanggung hingga menembus panggung internasional.

Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, memperkenalkan Gerbang Sangkareang sebagai landmark budaya baru. Wali Kota Samarinda, H. Andi Harun, mengangkat sarung tenun lokal menuju pusaka budaya nasional.

Bupati Manggarai, Hery Nabit, menampilkan revitalisasi Mbaru Gendang melalui gotong royong pemerintah dan masyarakat adat.

Bupati Blora, Arief Rohman, mengaktualisasikan ajaran Samin sebagai spirit pembangunan berkelanjutan. Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis, mengangkat Tari Cangget Bakha sebagai tradisi pertemuan sosial generasi muda.

Bupati Labuhanbatu, Hj. Maya Hasmita, memperkenalkan Gema Sahabat untuk penguatan karakter sejak dini. Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, merevitalisasi tradisi religius Maulik Gadang dalam format kekinian.

Sementara itu, Bupati Manokwari, Hermus Indou, menjadikan Festival Teluk Boreh sebagai medium penguatan harmoni sosial dan toleransi di Papua.

AK PWI Pusat menilai bukan sekadar seremoni, tetapi dampak nyata kebijakan kebudayaan terhadap masyarakat. Pendekatan ini memperkuat posisi penghargaan sebagai referensi nasional dalam pembangunan berbasis budaya. (*/red)

Berita Terkait

  Pemprov Sumbar Bantuan Pemulihan Ekonomi, 188 KPM Padang Pariaman Terima Rp564 Juta
Pulihkan Psikologis Anak Terdampak Bencana, Polwan Polres Padang Pariaman Gelar Trauma Healing
73 Wali Nagari Dilantik, Bupati Padang Pariaman Minta Kreatif Bangun Nagari
Tradisi Basapa 2026, Ribuan Peziarah Padati Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan  
Jembatan Darurat Batang Anai Kembali Dibuka, BPJN Siapkan Pembangunan Jembatan Permanen Rp45,2 Miliar
Segera Dibangun Kembali, Pembangunan SDN 05 Batang Anai Ditargetkan Rampung Januari 2027
Nagari Katapiang Diusulkan Mekar Jadi 5 Wilayah Baru, Ini Alasannya
Bupati JKA Temui Mensos, Proposal Sekolah Rakyat Tarok City Rp250 Miliar Diserahkan

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Suami yang Baik Bukan Harus Sempurna, Ini Cara Membangun Rumah Tangga Penuh Cinta

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:04 WIB

Cara Mengembalikan Semangat Hidup Saat Merasa Hampa, Ini Langkah Sederhananya

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:23 WIB

Benarkah Wanita Selalu Benar? Ini Kata Psikolog

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:09 WIB

Wanita Mengajak Menikah Duluan, Lumrah Kah? Ini Penjelasan Psikolog

Jumat, 28 Agustus 2026 - 00:17 WIB

Benarkah Pernikahan Paling Rawan di Tahun Ketujuh? Ini 5 Fase yang Perlu Diketahui

Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:22 WIB

Perselingkuhan di Tempat Kerja Bisa Berawal dari Kedekatan, Ini Cara Mencegahnya

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:14 WIB

10 Ciri Pasangan Mulai Bosan dalam Hubungan, Kenali Tandanya

Kamis, 20 Agustus 2026 - 22:46 WIB

Mengenal Cowok Semangka, Terlihat Green Flag tetapi Bisa Jadi Red Flag

Berita Terbaru