Baubau, Javanusa—Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mulai membuka peluang agar produk perikanan Indonesia menjadi bagian dari rantai pasok konsumsi jemaah haji dan umrah di Arab Saudi.
Salah satu langkah awal dilakukan melalui peninjauan Unit Pengolahan Ikan (UPI) CV Buton Indo Tuna di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengunjungi UPI CV Buton Indo Tuna di Baubau, Sabtu (11/7).
Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Jaenal Effendi.
Rombongan meninjau seluruh proses produksi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga pengemasan produk. Peninjauan itu bertujuan menilai kesiapan industri perikanan nasional dalam memenuhi standar pasar Arab Saudi.
Menurut Mochamad Irfan Yusuf, langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden agar penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya berfokus pada pelayanan jemaah. Tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Indonesia.
“Arahan Presiden adalah agar penyelenggaraan haji juga memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia. Karena itu, kami ingin melihat peluang agar bahan makanan yang dikonsumsi jemaah haji dapat dipasok dari Indonesia,” ujar Menhaj.
Produk Perikanan Indonesia Dinilai Berpeluang
Menteri Haji dan Umrah menilai kualitas produk perikanan Indonesia memiliki peluang besar untuk masuk ke pasar kebutuhan konsumsi jemaah haji.
Namun, menurutnya, peluang tersebut masih membutuhkan pembahasan lanjutan. Sejumlah aspek harus dipenuhi, mulai dari standar pengemasan, sistem distribusi, hingga ketentuan regulasi yang berlaku di Arab Saudi.
Karena itu, pemerintah akan menyiapkan berbagai langkah agar produk dalam negeri mampu memenuhi persyaratan ekspor sekaligus bersaing di pasar internasional.
Ditjen PE2HU Petakan Kesiapan Produk Nasional
Menindaklanjuti arahan tersebut, Ditjen PE2HU akan melakukan pemetaan terhadap kesiapan berbagai produk nasional.
Proses itu meliputi penilaian standar mutu, kapasitas produksi, sertifikasi halal, keamanan pangan, sistem logistik, hingga persyaratan ekspor yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Jaenal Effendi mengatakan hasil pemetaan akan menjadi dasar untuk memperkuat hubungan antara pelaku usaha Indonesia dengan pasar Arab Saudi.
“Kami akan mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan mitra di Arab Saudi melalui business matching agar peluang kerja sama dapat segera diwujudkan. Dan produk Indonesia semakin siap memasuki rantai pasok kebutuhan haji dan umrah,” kata Jaenal.
Siapkan Ekspo Produk dan Perluas Peluang UMKM
Selain memfasilitasi business matching, Ditjen PE2HU juga akan menginventarisasi berbagai komoditas unggulan dari sejumlah daerah yang berpotensi memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji.
Langkah tersebut diharapkan memperluas keterlibatan pelaku usaha nasional, mulai dari nelayan, UMKM, hingga industri pengolahan pangan, dalam ekosistem ekonomi haji.
Sebagai bagian dari strategi promosi, Ditjen PE2HU juga berencana menggelar ekspo produk ekosistem haji dan umrah di kawasan Indonesia Timur. Kegiatan itu akan menjadi wadah promosi sekaligus mempertemukan pelaku usaha nasional dengan importir, distributor, dan penyedia layanan konsumsi di Arab Saudi.
“Target kami adalah semakin banyak produk Indonesia menjadi bagian dari rantai pasok kebutuhan haji dan umrah. Dengan begitu, manfaat ekonomi penyelenggaraan haji dapat dirasakan lebih luas oleh nelayan, UMKM, industri pengolahan, dan pelaku usaha nasional,” tutup Jaenal.
Melalui rangkaian program tersebut, Ditjen PE2HU menargetkan semakin banyak produk unggulan Indonesia mampu menembus rantai pasok penyelenggaraan haji dan umrah. Upaya ini diharapkan membuka akses pasar baru di Arab Saudi sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi daerah dan pelaku usaha nasional. (*)






