Javanusa.com—Pusing atau sakit kepala yang muncul setelah makan bukan kondisi yang boleh selalu dianggap sepele.
Keluhan ini dapat dipicu berbagai faktor, mulai dari migrain hingga tekanan darah tinggi. Mengenali penyebabnya penting agar penanganan yang dilakukan sesuai dengan kondisi yang mendasarinya.
Rasa pusing atau sakit kepala setelah makan dapat muncul dengan sensasi berdenyut atau nyeri tajam. Pada sebagian orang, keluhan ini terjadi sesekali, tetapi ada juga yang mengalaminya berulang.
Beberapa kondisi berikut dapat menjadi pemicunya.
1. Migrain
Migrain menjadi salah satu penyebab yang cukup sering dikaitkan dengan sakit kepala setelah makan. Kondisi ini biasanya menimbulkan nyeri berdenyut pada satu sisi kepala.
Sejumlah makanan diketahui dapat memicu kambuhnya migrain. Di antaranya yoghurt, keju, krim asam, hati ayam, kecap, daging olahan, hingga buah jeruk. Kandungan tiramin yang terdapat pada beberapa produk susu fermentasi menjadi salah satu pemicu yang paling dikenal.
Selain nyeri kepala, penderita migrain juga dapat mengalami mual, muntah, sensitif terhadap cahaya, bahkan merasa hampir pingsan.
Apabila Anda mengetahui jenis makanan yang memicu migrain, menghindarinya menjadi langkah pencegahan yang paling efektif.
2. Hipertensi
Tekanan darah tinggi juga dapat menyebabkan kepala terasa pusing setelah makan, terutama jika makanan yang dikonsumsi mengandung natrium atau garam dalam jumlah tinggi.
Saat kadar natrium meningkat, tubuh menahan lebih banyak cairan di dalam pembuluh darah. Kondisi ini membuat volume darah bertambah sehingga tekanan darah ikut meningkat dan memicu keluhan sakit kepala atau pusing.
Bagi penderita hipertensi, membatasi asupan garam setiap hari dan menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter menjadi langkah penting untuk mengendalikan tekanan darah.
Cara Mengatasi Pusing Setelah Makan
Penanganan pusing setelah makan perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Namun, beberapa perubahan gaya hidup berikut dapat membantu mengurangi risiko munculnya keluhan.
1. Konsumsi makanan bergizi seimbang
Pola makan yang seimbang membantu tubuh memperoleh nutrisi secara optimal sekaligus mengurangi risiko munculnya sakit kepala setelah makan.
Hindari mengonsumsi makanan pemicu secara berlebihan, termasuk makanan tinggi natrium, minuman berkafein, dan alkohol apabila terbukti memperparah keluhan.
2. Perbanyak minum air putih
Kekurangan cairan atau dehidrasi juga dapat menyebabkan pusing. Karena itu, pastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi dengan minum sekitar delapan gelas air putih setiap hari atau sesuai kebutuhan tubuh.
Tubuh yang terhidrasi dengan baik memiliki risiko lebih rendah mengalami sakit kepala akibat dehidrasi.
3. Makan dengan porsi kecil tetapi lebih sering
Mengonsumsi makanan dalam jumlah besar membuat tubuh membutuhkan lebih banyak energi dan aliran darah untuk proses pencernaan.
Sebaliknya, makan dalam porsi lebih kecil namun lebih sering dapat membantu meringankan kerja sistem pencernaan dan mengurangi kemungkinan munculnya pusing setelah makan.
Kapan Harus Diperiksakan ke Dokter?
Pusing yang hanya terjadi sesekali belum tentu menandakan penyakit serius. Namun, konsultasi dengan tenaga medis diperlukan apabila keluhan:
-
- Terjadi berulang.
- Muncul secara tiba-tiba.
- Mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Bertahan dalam waktu lama.
- Tidak diketahui penyebabnya.
Segera cari pertolongan medis darurat apabila pusing disertai gejala berikut:
-
- Nyeri dada atau sakit kepala yang sangat hebat.
- Detak jantung sangat cepat atau tidak teratur.
- Mati rasa atau kelemahan pada lengan, tungkai, atau wajah.
- Sulit berjalan.
- Sesak napas.
- Pingsan atau kejang.
- Gangguan penglihatan atau pendengaran.
- Kebingungan atau bicara pelo.
- Muntah terus-menerus.
Jika keluhan tidak kunjung membaik atau semakin berat, segera periksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat. (*)






